WIN Media, Jakarta, 20/3/2026 – The takbir echoes, an atmosphere of victory envelops Muslims after a full month of fasting. Eid al-Fitr 1447 H is not only a spiritual moment to celebrate victory over desires but also a point of reflection for the business world and the national economy. Behind the glitter of Eid consumption, there are noble values of togetherness, mutual cooperation, and honesty that, if applied in the business world, can become a solid foundation for the post-Eid economic revival.
Economic and business expert agree that the spirit of Eid—synonymous with forgiveness, sharing, and strengthening social bonds—has strong relevance to business ethics and long-term economic growth.
Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, emphasizes that Eid values such as honesty, transparency, and social care are essential foundations in building a healthy business ecosystem, especially in the digital era.
“The Eid moment teaches us about ‘sincerity’ and ‘blessing’. In business, this concept can be translated as a long-term orientation, not just chasing momentary profits. Honest, transparent businesspeople who care about customers will build trust, which is an extraordinary social capital,” said Harry.
Harry highlights how the spirit of sharing during Ramadan and Eid—through zakat, infaq, alms, and giving THR—creates a healthy economic cycle. “Money distributed to those in need will immediately circulate in the lower economy. This encourages consumption and enlivens small businesses. This habit of sharing, if continued after Eid, will become a sustainable economic stimulus,” he explained.
He also connects the spirit of togetherness with business collaboration. “Eid gatherings can be productive networking events. Many business opportunities are born from informal meetings during Halal bi Halal. Don’t let silaturahmi just be a ceremony, but use it to build new synergies and collaborations,” Harry added.
Meanwhile, Purnama Dhedhy Styawan, an Economics and Public Policy Expert in Jakarta, sees Eid values as an antithesis to economic practices that tend to be individualistic and exploitative. “Our economy needs to be imbued with the values of togetherness. The practices of usury, monopoly, fraud, and labor exploitation are the opposite of the Eid spirit. If the values of piety after Ramadan are truly internalized, we will see a more ethical business world,” Dhedhy emphasized.
Dhedhy outlines several Eid values that can drive business revival:
First, the value of honesty (shiddiq). Honest businesspeople gain consumer trust. “In the era of online reviews, honesty is an invaluable currency. Just one lie exposed, and reputation can be destroyed,” he said.
Second, the value of trustworthiness (amanah). Entrepreneurs must be responsible for product quality, employee rights, and tax obligations. “This will create a healthy and sustainable business ecosystem,” Dhedhy added.
Third, the value of silaturahmi (networking). Strong business networks are born from good relationships between business actors. “Post-Eid, it’s time to strengthen partnerships and collaborations, not to bring each other down.”
Fourth, the value of blessing (barakah). The concept of blessing teaches that profit is not everything. “A balance between profit, people, and planet. A blessed business is one that provides broad benefits,” Dhedhy explained.
Dhedhy is optimistic that by internalizing Eid values, Indonesia can achieve economic growth that is not only high but also inclusive and sustainable. “Our economy needs ‘spiritual capital’. This spiritual capital is what will differentiate us from other countries. Don’t let us lose our identity amidst the hustle and bustle of modernization,” he advised.
Harry adds that MSMEs and startup actors can use the post-Eid moment as a fresh start to implement better business ethics. “Use the spirit of ‘returning to fitrah’ to improve the way you do business. Stop fraudulent practices, improve service quality, and build better relationships with customers. This is a long-term investment whose value far exceeds material profit,” Harry concluded.
On this holy day, let us make the spirit of togetherness, honesty, and caring the foundation for building a just economy that brings blessings to all Indonesian people. Happy Eid al-Fitr 1447 H, forgive us physically and spiritually.
Selamat Hari Raya Idul Fitri! Refleksi Ekonomi: Semangat Kebersamaan Kunci Kebangkitan Bisnis Pasca Lebaran

WIN Media, Jakarta, 20/3/2026 – Takbir berkumandang, suasana kemenangan menyelimuti umat Muslim setelah sebulan penuh berpuasa. Hari Raya Idul Fitri 1447 H bukan hanya momentum spiritual untuk merayakan kemenangan melawan hawa nafsu, tetapi juga menjadi titik refleksi bagi dunia usaha dan perekonomian nasional. Di balik gemerlapnya konsumsi Lebaran, tersimpan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, gotong royong, dan kejujuran yang jika diterapkan dalam dunia bisnis, dapat menjadi fondasi kokoh bagi kebangkitan ekonomi pasca-Lebaran.
Pakar ekonomi dan bisnis sepakat bahwa semangat Idul Fitri—yang identik dengan maaf-memaafkan, berbagi, dan mempererat silaturahmi—memiliki relevansi yang kuat dengan etika bisnis dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, menekankan bahwa nilai-nilai Lebaran seperti kejujuran, transparansi, dan kepedulian sosial adalah fondasi penting dalam membangun ekosistem bisnis yang sehat, terutama di era digital.
“Momentum Lebaran mengajarkan kita tentang ‘ikhlas’ dan ‘berkah’. Dalam bisnis, konsep ini bisa diterjemahkan sebagai orientasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat. Pebisnis yang jujur, transparan, dan peduli pada pelanggan akan membangun kepercayaan yang menjadi modal sosial luar biasa,” ujar Harry.
Harry menyoroti bagaimana semangat berbagi selama Ramadhan dan Lebaran—melalui zakat, infak, sedekah, dan pemberian THR—menciptakan siklus ekonomi yang sehat. “Uang yang dibagikan kepada yang membutuhkan akan segera berputar di ekonomi bawah. Ini mendorong konsumsi dan menghidupkan usaha kecil. Kebiasaan berbagi ini jika dilanjutkan pasca-Lebaran akan menjadi stimulus ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan semangat kebersamaan dengan kolaborasi bisnis. “Silaturahmi Lebaran bisa menjadi ajang networking yang produktif. Banyak peluang bisnis lahir dari pertemuan informal saat Halal bi Halal. Jangan biarkan silaturahmi hanya jadi seremoni, tapi manfaatkan untuk membangun sinergi dan kolaborasi baru,” tambah Harry.
Sementara itu, Purnama Dhedhy Styawan, Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik di Jakarta, melihat nilai-nilai Lebaran sebagai antitesis dari praktik ekonomi yang cenderung individualistis dan eksploitatif. “Ekonomi kita perlu dijiwai oleh nilai-nilai kebersamaan. Praktik riba, monopoli, penipuan, dan eksploitasi tenaga kerja adalah lawan dari semangat Lebaran. Jika nilai-nilai ketakwaan pasca-Ramadhan benar-benar diinternalisasi, kita akan melihat dunia usaha yang lebih etis,” tegas Dhedhy.
Dhedhy memaparkan beberapa nilai Lebaran yang dapat mendorong kebangkitan bisnis:
Pertama, nilai kejujuran (shiddiq). Pebisnis yang jujur akan mendapatkan kepercayaan konsumen. “Di era ulasan online, kejujuran adalah mata uang yang tak ternilai. Satu saja kebohongan terungkap, reputasi bisa hancur,” ujarnya.
Kedua, nilai amanah (tanggung jawab). Pengusaha harus bertanggung jawab terhadap kualitas produk, hak karyawan, dan kewajiban pajak. “Ini akan menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” tambah Dhedhy.
Ketiga, nilai silaturahmi (membangun jaringan). Jaringan bisnis yang kuat lahir dari hubungan baik antarpelaku usaha. “Pasca-Lebaran, saatnya memperkuat kemitraan dan kolaborasi, bukan justru saling menjatuhkan.”
Keempat, nilai keberkahan. Konsep keberkahan mengajarkan bahwa keuntungan bukan segalanya. “Keseimbangan antara profit, people, dan planet. Bisnis yang berkah adalah yang memberi manfaat luas,” jelas Dhedhy.
Dhedhy optimistis bahwa dengan menginternalisasi nilai-nilai Lebaran, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. “Ekonomi kita butuh ‘spiritual capital’. Modal spiritual ini yang akan membedakan kita dari negara lain. Jangan sampai kita kehilangan jati diri di tengah hiruk-pikuk modernisasi,” pesannya.
Harry menambahkan, para pelaku UMKM dan startup dapat menjadikan momen pasca-Lebaran sebagai awal baru untuk menerapkan etika bisnis yang lebih baik. “Gunakan semangat ‘kembali ke fitrah’ untuk memperbaiki cara berbisnis. Hentikan praktik curang, perbaiki kualitas layanan, dan jalin hubungan lebih baik dengan pelanggan. Ini investasi jangka panjang yang nilainya jauh di atas keuntungan materi,” pungkas Harry.
Di hari yang fitri ini, mari jadikan semangat kebersamaan, kejujuran, dan kepedulian sebagai fondasi dalam membangun ekonomi yang berkeadilan dan membawa berkah bagi seluruh rakyat Indonesia. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.

