8 Mei 2026

Local Tourism Revival: Tourist Villages Reap Profits During Eid al-Fitr Holiday

WIN Media, Jakarta, 21/3/2026 – This year’s Eid holiday phenomenon brings a pleasant surprise to the domestic tourism sector. Instead of flocking abroad, Indonesians actually seem to be increasingly loving local destinations, especially tourism villages that offer authentic experiences, cool nature, and local wisdom. As a result, many tourism villages are reaping millions of rupiah per day during the Eid al-Fitr 1447 H holiday period.

Data from the Ministry of Tourism records that occupancy rates in tourism villages in various regions such as Yogyakarta, Bali, West Java, East Java, and Lombok reached 90 percent during H-3 to H+7 of Eid. In fact, several popular tourism villages like Pentingsari Tourism Village (Yogyakarta), Nglanggeran Tourism Village (Yogyakarta), and Penglipuran Tourism Village (Bali) reported visits exceeding normal capacity.

Purnama Dhedhy Styawan, an Economics and Public Policy Expert in Jakarta, views this phenomenon as clear evidence of the revival of local tourism and a shift in public preferences. “Data shows that people now prefer vacationing in tourism villages compared to abroad. This is not just a trend but a behavioral change driven by several factors,” he said.

According to Dhedhy, several main factors cause tourism villages to become Eid holiday primadonnas:

First, more affordable prices. Vacations to tourism villages are far more economical compared to overseas travel. “With the same budget for an international flight ticket, a family can get a complete vacation experience in a tourism village for several days, including accommodation, food, and various interesting activities,” Dhedhy explained.

Second, authentic and in-depth experiences. Modern society, especially the younger generation, is starting to get bored with uniform mass tourism. They seek more meaningful experiences, such as learning to batik, planting rice, bathing elephants, or participating in traditional ceremonies. “Tourism villages offer authentic experiences that cannot be bought in malls or luxury resorts. This is what today’s tourists are looking for,” he added.

Third, infrastructure and promotion support. The government continues to improve infrastructure leading to tourism villages, including roads, electricity, and internet access. Promotion through social media and digital platforms is also being aggressively carried out. “Now it’s very easy to find information about tourism villages. Many travelers share their experiences on TikTok, Instagram, and YouTube, thus inspiring others,” said Dhedhy.

Fourth, awareness of local beauty. The COVID-19 pandemic taught people to appreciate the beauty of their own nature and culture. “There is a certain pride when you can show children that Indonesia is beautiful. This is a long-term investment to foster a sense of love for the homeland,” he emphasized.

Dhedhy outlines the significant economic impact of the tourism village revival. “Tourism villages not only benefit homestay owners but also local MSMEs, tour guides, artists, farmers, and other service providers. Money circulates in the village, creating jobs and reducing urbanization. Millions of rupiah in turnover per day for one village is not impossible,” he explained.

He gave an example: a tourism village with 50 homestays, each accommodating 2-4 people, with an average rate of Rp 500 thousand per night, would generate tens of millions per night. Not to mention income from restaurants, stalls, parking, entrance tickets, and souvenir sales. “If managed well, tourism villages can become extraordinary new economic engines,” Dhedhy added.

Despite his optimism, Dhedhy reminds tourism village managers not to be complacent. “Future challenges are maintaining consistent quality, managing waste, preserving the environment, and not being greedy in raising prices. If tourists are disappointed, they won’t return and will leave bad reviews on social media,” he advised.

He also encourages the government to continue supporting tourism villages through mentoring, training, and promotion. “Tourism villages are the future of Indonesian tourism. Don’t let them die after Eid. Make local tourism a national movement, not just seasonal,” Dhedhy concluded.

With this positive trend, it is hoped that people will increasingly love domestic products and destinations, while encouraging equitable economic growth down to the village level.


Kebangkitan Pariwisata Lokal: Desa Wisata Raup Cuan Selama Libur Lebaran

WIN Media, Jakarta, 21/3/2026 – Fenomena libur Lebaran tahun ini menghadirkan kejutan menggembirakan bagi sektor pariwisata domestik. Alih-alih berbondong-bondong ke luar negeri, masyarakat Indonesia justru tampak semakin mencintai destinasi lokal, terutama desa-desa wisata yang menawarkan pengalaman autentik, kesejukan alam, dan kearifan lokal. Hasilnya, banyak desa wisata yang meraup cuan hingga jutaan rupiah per hari selama periode libur Lebaran 1447 H.

Data Kementerian Pariwisata mencatat okupansi desa wisata di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lombok mencapai 90 persen selama H-3 hingga H+7 Lebaran. Bahkan, beberapa desa wisata populer seperti Desa Wisata Pentingsari (Yogyakarta), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), dan Desa Wisata Penglipuran (Bali) melaporkan kunjungan yang melampaui kapasitas normal.

Purnama Dhedhy Styawan, Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik di Jakarta, menilai fenomena ini sebagai bukti nyata kebangkitan pariwisata lokal dan pergeseran preferensi masyarakat. “Data menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih memilih liburan ke desa wisata dibanding luar negeri. Ini bukan sekadar tren, tapi perubahan perilaku yang didorong oleh beberapa faktor,” ujarnya.

Menurut Dhedhy, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan desa wisata menjadi primadona liburan Lebaran:

Pertama, harga yang lebih terjangkau. Liburan ke desa wisata jauh lebih ekonomis dibanding wisata mancanegara. “Dengan budget yang sama untuk tiket pesawat ke luar negeri, satu keluarga bisa mendapatkan pengalaman liburan lengkap di desa wisata selama beberapa hari, termasuk akomodasi, makan, dan berbagai aktivitas menarik,” jelas Dhedhy.

Kedua, pengalaman autentik dan mendalam. Masyarakat modern, terutama generasi muda, mulai bosan dengan wisata massal yang seragam. Mereka mencari pengalaman yang lebih bermakna, seperti belajar membatik, menanam padi, memandikan gajah, atau mengikuti upacara adat. “Desa wisata menawarkan authentic experience yang tidak bisa dibeli di mal atau resor mewah. Ini yang dicari wisatawan masa kini,” tambahnya.

Ketiga, dukungan infrastruktur dan promosi. Pemerintah terus membenahi infrastruktur menuju desa wisata, termasuk jalan, listrik, dan akses internet. Promosi melalui media sosial dan platform digital juga gencar dilakukan. “Sekarang mencari informasi tentang desa wisata sangat mudah. Banyak traveler yang membagikan pengalamannya di TikTok, Instagram, dan YouTube, sehingga menginspirasi yang lain,” ujar Dhedhy.

Keempat, kesadaran akan keindahan lokal. Pandemi COVID-19 yang lalu mengajarkan masyarakat untuk lebih menghargai keindahan alam dan budaya sendiri. “Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa menunjukkan kepada anak-anak bahwa Indonesia itu indah. Ini investasi jangka panjang untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air,” tegasnya.

Dhedhy memaparkan dampak ekonomi yang signifikan dari kebangkitan desa wisata. “Desa wisata tidak hanya menguntungkan pemilik homestay, tetapi juga UMKM lokal, pemandu wisata, seniman, petani, dan pelaku jasa lainnya. Uang berputar di desa, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi urbanisasi. Omzet jutaan rupiah per hari bagi satu desa bukan hal mustahil,” jelasnya.

Ia mencontohkan, sebuah desa wisata dengan 50 homestay yang masing-masing berisi 2-4 orang, dengan tarif rata-rata Rp 500 ribu per malam, sudah menghasilkan pendapatan puluhan juta per malam. Belum termasuk pendapatan dari restoran, warung, parkir, tiket masuk, dan penjualan suvenir. “Jika dikelola dengan baik, desa wisata bisa menjadi mesin ekonomi baru yang luar biasa,” tambah Dhedhy.

Meski optimistis, Dhedhy mengingatkan agar pengelola desa wisata tidak cepat berpuas diri. “Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi kualitas, mengelola sampah, menjaga kelestarian lingkungan, dan tidak serakah menaikkan harga. Jika wisatawan merasa kecewa, mereka tidak akan kembali dan memberikan review buruk di media sosial,” pesannya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk terus mendukung desa wisata melalui pendampingan, pelatihan, dan promosi. “Desa wisata adalah masa depan pariwisata Indonesia. Jangan sampai mereka mati setelah Lebaran. Jadikan pariwisata lokal sebagai gerakan nasional, bukan sekadar musiman,” pungkas Dhedhy.

Dengan tren positif ini, diharapkan masyarakat semakin mencintai produk dan destinasi dalam negeri, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata hingga ke pelosok desa.

Related News