7 Mei 2026

Demand for ‘Jastip’ (Pre-order Services) for Cookies and Parcels Soars Ahead of Eid

WIN Media, Makassar, 17/3/2026 – The phenomenon of “Jasa Titip” (Jastip) or pre-order services is again becoming a prima donna ahead of Eid al-Fitr 1447 H. Demand for these services, especially for cookies and Eid parcels, has surged dramatically in the past two weeks. Jastip providers are flooded with orders from consumers who want to send Eid gifts to relatives in their hometowns or business colleagues but are constrained by distance and time.

Social media platforms like Instagram, TikTok, and WhatsApp are the main fields for these service providers to market their offerings. Various promotions and customer testimonials are scattered, offering convenience for those who are busy or living abroad to still share during the Eid moment. From Jastip for nastar cookies, kastengels, putri salju, to complete parcels filled with various snacks and Eid necessities, everything is available.

Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, explains that this surge is clear evidence of how the sharing economy and digital trust have changed people’s shopping behavior. “Jastip is a smart solution in an era of high mobility. Many migrants cannot go home or want to send hampers to their business colleagues. They need a trusted intermediary to spend their money. This is the gap filled by Jastip providers,” he said.

Harry outlines several factors causing the sharp surge in Jastip demand:

First, time and energy efficiency. Urban communities, especially professional workers, have limited time to hunt for cookies and assemble parcels. “Jastip offers convenience: just transfer the money, the order is done. Busy people benefit greatly,” Harry explained.

Second, the desire to send quality goods from big cities. Cookie products and parcels from big cities like Jakarta, Surabaya, or Bandung are often considered more prestigious or have more diverse flavor variants. “There is a certain pride in being able to send Eid souvenirs from a overseas city. Jastip facilitates this desire,” he added.

Third, ease of promotion through social media. Jastip providers utilize features like Instagram Stories, TikTok Shop, and WhatsApp Business to showcase products, receive orders, and communicate with customers. “Digital platforms allow anyone to become a merchant. With just a phone and a network, Jastip can become a lucrative business,” said Harry.

Harry also identifies several winning strategies of successful Jastip providers:

  1. Building trust. Trust is the main currency in the Jastip business. Successful providers actively share proof of delivery, photos of actual products (not just catalog photos), and customer testimonials. “Digital reputation is crucial. One negative review can bring down a business,” he emphasized.
  2. Utilizing pre-order (PO) features. With the PO system, providers can gauge demand and manage capital better. “They don’t need to stock a lot, just collect orders first, then shop. This reduces the risk of loss,” Harry explained.
  3. Offering personalization services. Many Jastip providers offer additional services such as adding greeting cards, choosing ribbons as requested, or sending photos of parcels before shipping. “This personal touch makes customers feel valued,” he added.
  4. Collaborating with local cookie entrepreneurs. Instead of making their own, many Jastip providers partner with home industries producing cookies. This ensures quality is maintained and business scale can be larger.

Despite the promise, Harry reminds of challenges that Jastip providers must be wary of, especially ahead of Eid:

  • Potential shipping delays. The surge in shipping volume at expedition services can cause parcels to arrive late. “Make sure you’ve calculated the shipping cut-off times. Don’t let the cookies arrive after Eid,” he advised.
  • Risk of damaged goods. Cookies are fragile products. Packaging must be designed as safely as possible.
  • Tight competition. The more players, the tighter the competition. Service differentiation becomes key.

Harry is optimistic that the Jastip business will continue to grow. “This is a seasonal business with the potential to become a permanent venture. Many Jastip providers eventually open offline stores or their own brands after succeeding during the Eid moment,” he concluded.

For people who want to use Jastip services, Harry advises choosing trusted providers with a good track record and active communication. “Don’t be easily tempted by cheap prices. Make sure the Jastip provider has a reputation that can be accounted for,” he closed.


Permintaan Jasa Titip (Jastip) Kue Kering dan Parcel Melonjak Tajam Jelang Lebaran

WIN Media, Makassar, 17/3/2026 – Fenomena Jasa Titip (Jastip) kembali menjadi primadona menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Permintaan untuk layanan ini, khususnya untuk produk kue kering dan parcel Lebaran, melonjak tajam dalam dua pekan terakhir. Para pelaku jastip kebanjiran order dari konsumen yang ingin mengirimkan bingkisan lebaran kepada sanak saudara di kampung halaman atau kolega bisnis, namun terkendala jarak dan waktu.

Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi ladang utama para penyedia jasa titip memasarkan layanan mereka. Beragam promo dan testimoni pelanggan bertebaran, menawarkan kemudahan bagi mereka yang sibuk atau berada di perantauan untuk tetap berbagi di momen Lebaran. Mulai dari jastip kue kering nastar, kastengel, putri salju, hingga parcel lengkap dengan isian aneka camilan dan perlengkapan Lebaran, semuanya tersedia.

Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, menjelaskan bahwa lonjakan ini adalah bukti nyata bagaimana ekonomi berbagi (sharing economy) dan kepercayaan digital telah mengubah perilaku belanja masyarakat. “Jastip adalah solusi cerdas di era mobilitas tinggi. Banyak perantau yang tidak bisa mudik atau ingin mengirim hampers ke kolega bisnisnya. Mereka butuh perantara yang bisa dipercaya untuk membelanjakan uangnya. Inilah celah yang diisi oleh para pelaku jastip,” ujarnya.

Harry memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan permintaan jastip melonjak tajam:

Pertama, efisiensi waktu dan tenaga. Masyarakat perkotaan, terutama kalangan pekerja profesional, memiliki waktu terbatas untuk berburu kue kering dan menyusun parcel. “Jastip menawarkan kemudahan: cukup transfer uang, pesanan beres. Mereka yang sibuk sangat diuntungkan,” jelas Harry.

Kedua, keinginan mengirimkan barang berkualitas dari kota besar. Produk kue kering dan parcel dari kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung sering dianggap lebih prestisius atau memiliki varian rasa yang lebih beragam. “Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa mengirimkan oleh-oleh Lebaran dari kota rantau. Jastip memfasilitasi keinginan ini,” tambahnya.

Ketiga, kemudahan promosi melalui media sosial. Para pelaku jastip memanfaatkan fitur-fitur seperti Instagram Stories, TikTok Shop, dan WhatsApp Business untuk memamerkan produk, menerima pesanan, dan berkomunikasi dengan pelanggan. “Platform digital membuat siapa pun bisa menjadi pedagang. Dengan modal ponsel dan jaringan, jastip bisa menjadi bisnis yang menggiurkan,” ujar Harry.

Harry juga mengidentifikasi beberapa strategi jitu para pelaku jastip yang sukses:

  1. Membangun kepercayaan (trust). Kepercayaan adalah mata uang utama dalam bisnis jastip. Mereka yang sukses biasanya aktif membagikan bukti pengiriman, foto produk asli (bukan sekadar foto katalog), dan testimoni pelanggan. “Reputasi digital sangat penting. Satu ulasan negatif bisa meruntuhkan bisnis,” tegasnya.
  2. Memanfaatkan fitur pre-order (PO). Dengan sistem PO, pelaku jastip bisa mengukur permintaan dan mengelola modal lebih baik. “Mereka tidak perlu stok banyak, cukup kumpulkan order dulu, baru belanja. Ini mengurangi risiko kerugian,” jelas Harry.
  3. Menawarkan layanan personalisasi. Banyak pelaku jastip yang menawarkan jasa tambahan seperti menambahkan kartu ucapan, memilihkan pita sesuai permintaan, atau mengirimkan foto parcel sebelum dikirim. “Sentuhan personal ini membuat pelanggan merasa diperhatikan,” tambahnya.
  4. Bekerja sama dengan pengusaha kue lokal. Alih-alih membuat sendiri, banyak jastip yang bekerja sama dengan home industri pembuat kue kering. Ini memastikan kualitas terjaga dan skala bisnis bisa lebih besar.

Meski menjanjikan, Harry mengingatkan ada tantangan yang harus diwaspadai pelaku jastip, terutama menjelang Lebaran:

  • Potensi keterlambatan pengiriman. Lonjakan volume pengiriman di jasa ekspedisi bisa menyebabkan parcel terlambat sampai. “Pastikan sudah memperhitungkan cut-off time pengiriman. Jangan sampai kue kering sampai setelah Lebaran,” pesannya.
  • Risiko barang rusak. Kue kering adalah produk rapuh. Kemasan harus dirancang seaman mungkin.
  • Persaingan ketat. Semakin banyak pemain, semakin ketat persaingan. Diferensiasi layanan menjadi kunci.

Harry optimistis bisnis jastip akan terus tumbuh. “Ini adalah bisnis musiman yang punya potensi menjadi usaha tetap. Banyak pelaku jastip yang akhirnya membuka toko offline atau brand sendiri setelah sukses di momen Lebaran,” pungkasnya.

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan jasa titip, Harry menyarankan untuk memilih penyedia jasa yang sudah terpercaya, memiliki rekam jejak baik, dan aktif berkomunikasi. “Jangan mudah tergiur harga murah. Pastikan penyedia jastip punya reputasi yang bisa dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

Related News