8 Mei 2026

Green Economy Trending: Plastic Waste Recycling Business Reaps Billions in Turnover

WIN Media, Jakarta, 16/3/2026 – Awareness of environmental sustainability and profitable economic opportunities is driving young Indonesians to flock into environmentally friendly businesses. One of the most prominent sectors is the plastic waste recycling business, which now not only saves the planet but is also capable of reaping turnovers of up to billions of rupiah per month.

This phenomenon can be seen from the proliferation of social startups and small-to-medium enterprises processing plastic waste into high-value products, such as paving blocks, ecobricks, furniture, and even fashion items like bags and shoes. They not only sell products but also promote a sustainable lifestyle that appeals to the younger generation.

Purnama Dhedhy Styawan, an Economics and Public Policy Expert in Jakarta, views this trend as a positive sign of Indonesia’s economic transformation towards sustainable development. “Today’s young people are not only looking for profit but also meaning. The plastic waste recycling business offers both: financial gain and real contribution to the environment,” he said.

According to Dhedhy, several factors are driving the proliferation of recycling businesses among young people:

First, increasing ecological awareness. Millennials and Gen Z grew up amidst the climate crisis and increasingly worrying plastic pollution. “They witness firsthand the negative impacts of plastic waste on the oceans and life. This triggers a desire to be part of the solution, not just spectators,” Dhedhy explained.

Second, large market potential. Dhedhy notes that the market for environmentally friendly products continues to grow along with increasing consumer preference for sustainable products. “Consumers, especially in big cities, are starting to be willing to pay more for products with environmental added value. This is a huge opportunity for recycling entrepreneurs,” he added.

Third, support from technology and innovation. Increasingly sophisticated and accessible recycling technology allows young people to get creative, creating various high-value products from plastic waste. “From simple shredding machines to 3D printing technology, innovation opens up unlimited possibilities. Waste that was once considered useless can now be transformed into artistic and functional items,” said Dhedhy.

Dhedhy outlined several successful examples of youth-driven recycling businesses:

  • Rebrick: A Bandung-based startup that transforms plastic waste into construction materials like paving blocks and lightweight bricks with above-average strength. Their turnover reaches Rp 2 billion per month, employing dozens of assisted waste pickers.
  • Plastik Kembara: A community transformed into a social business, processing plastic packaging waste into ecobricks and garden furniture. They also actively educate the public about waste sorting.
  • Sole Destruction: A Yogyakarta-based shoe brand producing footwear from recycled plastic and rubber waste, popular among young people for its contemporary and eco-friendly designs.

Dhedhy explains that the economic value of the recycling business comes not only from product sales but also from waste management itself. “Now there is a term ‘waste to wealth’. Waste that used to be transported to landfills at high cost now becomes valuable raw material. This is an extraordinary paradigm shift,” he explained.

He also highlights the importance of government policy support. “Tax incentives, licensing facilitation, and mentoring programs for recycling businesses need to be continuously encouraged. The government can also become an initial consumer by mandating the use of recycled products in public institutions,” he suggested.

However, Dhedhy also reminds of the challenges faced by beginner recycling entrepreneurs. “The main challenges are consistent supply of raw materials and market education. Plastic waste must be sorted at the source to maintain quality. The public also needs to be educated that recycled products are not cheap; in fact, they are exclusive because of their unique process,” he emphasized.

Nevertheless, Dhedhy is optimistic about the future of the recycling business. “With more young people entering this sector, innovations will continue to emerge. The green economy is no longer just a discourse but has become a reality driving the wheels of the national economy,” he concluded.


Green Economy Makin Tren: Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik Raup Omzet Miliaran

WIN Media, Jakarta, 16/3/2026 – Kesadaran akan kelestarian lingkungan dan peluang ekonomi yang menguntungkan mendorong anak muda Indonesia untuk berbondong-bondong terjun ke bisnis ramah lingkungan. Salah satu sektor yang paling menonjol adalah bisnis daur ulang sampah plastik, yang kini tidak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga mampu meraup omzet hingga miliaran rupiah per bulan.

Fenomena ini terlihat dari menjamurnya startup sosial dan usaha kecil menengah yang mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti paving block, ecobrick, furnitur, bahkan fashion item seperti tas dan sepatu. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga mengusung gaya hidup berkelanjutan yang menarik minat generasi muda.

Purnama Dhedhy Styawan, Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik di Jakarta, menilai tren ini sebagai pertanda positif transformasi ekonomi Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan. “Anak muda sekarang tidak hanya mencari cuan, tetapi juga meaning atau makna. Bisnis daur ulang sampah plastik menawarkan keduanya: keuntungan finansial dan kontribusi nyata untuk lingkungan,” ujarnya.

Menurut Dhedhy, ada beberapa faktor yang mendorong menjamurnya bisnis daur ulang di kalangan anak muda:

Pertama, meningkatnya kesadaran ekologis. Generasi milenial dan Gen Z tumbuh di tengah krisis iklim dan polusi plastik yang makin mengkhawatirkan. “Mereka menyaksikan sendiri dampak buruk sampah plastik terhadap lautan dan kehidupan. Ini memicu keinginan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” jelas Dhedhy.

Kedua, potensi pasar yang besar. Dhedhy mencatat bahwa pasar produk ramah lingkungan terus berkembang seiring meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk berkelanjutan. “Konsumen, terutama di kota-kota besar, mulai bersedia membayar lebih untuk produk yang memiliki nilai tambah lingkungan. Ini peluang besar bagi pebisnis daur ulang,” tambahnya.

Ketiga, dukungan teknologi dan inovasi. Teknologi daur ulang yang semakin canggih dan mudah diakses memungkinkan anak muda berkreasi menciptakan berbagai produk bernilai tinggi dari sampah plastik. “Dari mesin pencacah sederhana hingga teknologi 3D printing, inovasi membuka kemungkinan tak terbatas. Sampah yang dulu dianggap tak berguna, kini bisa disulap menjadi barang artistik dan fungsional,” ujar Dhedhy.

Dhedhy memaparkan beberapa contoh sukses bisnis daur ulang yang digerakkan anak muda:

  • Rebrick: Startup asal Bandung yang mengubah sampah plastik menjadi material bangunan seperti paving block dan bata ringan dengan kekuatan di atas rata-rata. Omzetnya mencapai Rp 2 miliar per bulan dengan mempekerjakan puluhan pemulung binaan.
  • Plastik Kembara: Komunitas yang bertransformasi menjadi bisnis sosial, mengolah sampah plastik kemasan menjadi ecobrick dan furnitur taman. Mereka juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah.
  • Sole Destruction: Brand sepatu asal Yogyakarta yang memproduksi alas kaki dari limbah plastik dan karet daur ulang, digemari anak muda karena desainnya yang kekinian dan ramah lingkungan.

Dhedhy menjelaskan bahwa nilai ekonomi bisnis daur ulang tidak hanya berasal dari penjualan produk, tetapi juga dari pengelolaan limbah itu sendiri. “Sekarang ada istilah ‘waste to wealth’. Sampah yang tadinya diangkut ke TPA dengan biaya tinggi, sekarang justru menjadi bahan baku yang punya nilai. Ini adalah pergeseran paradigma yang luar biasa,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah. “Insentif pajak, kemudahan perizinan, dan program pendampingan untuk usaha daur ulang perlu terus didorong. Pemerintah juga bisa menjadi konsumen awal dengan mewajibkan penggunaan produk daur ulang di instansi publik,” usulnya.

Namun, Dhedhy juga mengingatkan tantangan yang dihadapi pebisnis daur ulang pemula. “Tantangan utamanya adalah konsistensi pasokan bahan baku dan edukasi pasar. Sampah plastik harus dipilah dari sumbernya agar kualitasnya terjaga. Masyarakat juga perlu diedukasi bahwa produk daur ulang itu tidak murahan, justru eksklusif karena prosesnya yang unik,” tegasnya.

Meski demikian, Dhedhy optimistis masa depan bisnis daur ulang akan semakin cerah. “Dengan semakin banyak anak muda terjun ke sektor ini, inovasi akan terus bermunculan. Ekonomi hijau bukan lagi sekadar wacana, tapi sudah menjadi kenyataan yang menggerakkan roda perekonomian nasional,” pungkasnya.

Related News