8 Mei 2026

The ‘Learning While Waiting for Iftar’ Phenomenon: Ramadan Education Platforms Flooded with Young Users

WIN Media, Makassar, 18/3/2026 – The month of Ramadan 1447 H is not only a moment for worship and seeking blessings but also brings a new phenomenon in the world of education: the trend of “learning while waiting for iftar.” Short video-based educational platforms offering religious and science content have suddenly gone viral and are flooded with young users filling their pre-iftar hours with productive activities.

This phenomenon is evident from the surge in users accessing platforms like Ruangguru, Zenius, Quipper, as well as educational YouTube channels and TikTok Learning. Content with themes like “Let’s Study the Quran,” “Science During the Fasting Month,” and “Islamic History in 5 Minutes” have become primadonnas with millions of views, especially in the afternoon leading up to the Maghrib call to prayer.

Internal data from one educational platform shows a 70 percent increase in daily active users during Ramadan, with the highest access surge occurring between 4:00 PM and 5:30 PM WIB—favorite time for “ngabuburit” (waiting for iftar). Short video content lasting 3-7 minutes is the most preferred format, matching the attention span of the younger generation accustomed to social media.

Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, explains that this phenomenon shows a positive shift in utilizing technology for informal learning.

“The ‘learning while waiting for iftar’ phenomenon is interesting because it combines two needs: filling free time and increasing knowledge. Educational platforms presenting content in short video formats have successfully captured the attention of a generation accustomed to TikTok and Reels. They learn without feeling like they’re learning,” said Harry.

According to Harry, several factors cause educational content to go viral among students during Ramadan:

First, the need for positive content during Ramadan. Many young people seek more meaningful entertainment alternatives during the fasting month. “They’re bored with the same old entertainment content. Educational content packaged lightly and entertainingly becomes an oasis amidst the barrage of trivial content,” Harry explained.

Second, the short video format aligns with digital habits. The younger generation is accustomed to consuming fast, concise content. “Platforms capable of presenting complex material in a short yet information-packed format will be more easily accepted,” he added.

Third, content relevance to the Ramadan moment. Material about the virtues of fasting, stories of prophets, or scientific phenomena like the sun’s movement and iftar times become relevant and interesting topics.

Ahmad Arfah, a Teacher at MAN 1 Makassar, directly observes his students’ enthusiasm for this trend. He sees many of his students becoming more actively discussing the material they watch during ngabuburit.

“I was surprised and pleased at the same time. Some students came to the class group and asked about things they watched on educational platforms. For example, about scientific miracles in the Quran or the history of Islamic civilization. This shows they are truly absorbing the material,” said Arfah.

Arfah gave an example of one viral content series called “The Science of Fasting,” which explains the body’s detoxification process during fasting from a medical perspective. “Children come to understand that fasting is not only worship but also healthy. They enthusiastically discuss it in class,” he added.

He also highlights the role of teachers in responding to this phenomenon. “Teachers cannot afford to be left behind. We must be aware of what content is trending and connect it to lesson materials. Make this trend a bridge for deeper discussions,” Arfah advised.

Harry adds that this phenomenon opens great opportunities for educational content developers and educators to innovate. “This is a momentum to show that learning is fun. If packaged well, educational content can compete with entertainment content. The key is creativity and understanding of young people’s preferences,” he said.

For parents, Harry reminds them to support this positive habit. “Facilitate children with sufficient internet quota, but still supervise so they aren’t distracted by other content. Invite discussions about what they watch. Be a fun learning companion,” he concluded.

With this positive trend, it is hoped that Ramadan will not only leave memories of worship but also improve the literacy and knowledge quality of Indonesia’s younger generation.


Fenomena ‘Belajar Sambil Ngabuburit’: Platform Edukasi Ramadhan Dibanjiri Pengguna Muda

WIN Media, Makassar, 18/3/2026 – Bulan Ramadhan 1447 H tidak hanya menjadi momentum ibadah dan pencarian berkah, tetapi juga membawa fenomena baru di dunia pendidikan: tren “belajar sambil ngabuburit”. Platform edukasi berbasis video pendek yang menyajikan konten belajar agama dan sains mendadak viral dan dibanjiri pengguna muda yang mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan aktivitas produktif.

Fenomena ini terlihat dari melonjaknya jumlah pengakses platform seperti Ruangguru, Zenius, Quipper, serta kanal YouTube edukatif dan TikTok Learning. Konten-konten bertema “Ngaji Yuk”, “Sains di Bulan Puasa”, hingga “Sejarah Islam dalam 5 Menit” menjadi primadona dengan jutaan penonton, terutama pada sore hari menjelang adzan Maghrib.

Data internal dari salah satu platform edukasi mencatat peningkatan pengguna aktif harian hingga 70 persen selama Ramadhan, dengan lonjakan akses tertinggi terjadi antara pukul 16.00 hingga 17.30 WIB—waktu favorit untuk ngabuburit. Konten video pendek berdurasi 3-7 menit menjadi format paling diminati karena sesuai dengan rentang perhatian generasi muda yang terbiasa dengan media sosial.

Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan pergeseran positif dalam pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran informal.

“Fenomena ‘belajar sambil ngabuburit’ ini menarik karena menggabungkan dua kebutuhan: mengisi waktu luang dan meningkatkan pengetahuan. Platform edukasi yang menyajikan konten dalam format video pendek berhasil menangkap perhatian generasi yang terbiasa dengan TikTok dan Reels. Mereka belajar tanpa merasa sedang belajar,” ujar Harry.

Menurut Harry, ada beberapa faktor yang menyebabkan konten edukasi viral di kalangan pelajar selama Ramadhan:

Pertama, kebutuhan konten positif selama Ramadhan. Banyak anak muda mencari alternatif hiburan yang lebih bermakna di bulan puasa. “Mereka bosan dengan konten hiburan yang itu-itu saja. Konten edukasi yang dikemas ringan dan menghibur menjadi oase di tengah gempuran konten basa-basi,” jelas Harry.

Kedua, format video pendek yang sesuai dengan kebiasaan digital. Generasi muda terbiasa mengonsumsi konten cepat dan padat. “Platform yang mampu menyajikan materi kompleks dalam format singkat namun padat informasi akan lebih mudah diterima,” tambahnya.

Ketiga, relevansi konten dengan momen Ramadhan. Materi tentang keutamaan puasa, kisah nabi, atau fenomena sains seperti gerak matahari dan waktu berbuka menjadi topik yang relevan dan menarik.

Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar, mengamati langsung antusiasme siswanya terhadap tren ini. Ia melihat banyak peserta didiknya yang justru lebih aktif berdiskusi tentang materi-materi yang mereka tonton selama ngabuburit.

“Saya kaget sekaligus senang. Beberapa siswa datang ke grup kelas dan bertanya tentang hal-hal yang mereka tonton di platform edukasi. Misalnya tentang keajaiban ilmiah dalam Al-Qur’an atau sejarah peradaban Islam. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyerap materi,” ujar Arfah.

Arfah mencontohkan, salah satu konten yang viral adalah serial “Sains Puasa” yang menjelaskan proses detoksifikasi tubuh selama berpuasa dari perspektif medis. “Anak-anak jadi paham bahwa puasa itu tidak hanya ibadah, tapi juga menyehatkan. Mereka antusias mendiskusikannya di kelas,” tambahnya.

Ia juga menyoroti peran guru dalam merespons fenomena ini. “Guru tidak boleh ketinggalan. Kita harus aware dengan konten apa yang sedang viral dan mengaitkannya dengan materi pelajaran. Jadikan tren ini sebagai jembatan untuk diskusi yang lebih dalam,” pesan Arfah.

Harry menambahkan bahwa fenomena ini membuka peluang besar bagi pengembang konten edukasi dan pendidik untuk berinovasi. “Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa belajar itu menyenangkan. Jika dikemas dengan baik, konten edukasi bisa bersaing dengan konten hiburan. Kuncinya adalah kreativitas dan pemahaman tentang preferensi generasi muda,” ujarnya.

Bagi para orang tua, Harry mengingatkan untuk mendukung kebiasaan positif ini. “Fasilitasi anak dengan kuota internet yang cukup, tapi tetap awasi agar mereka tidak terdistraksi ke konten lain. Ajak diskusi tentang apa yang mereka tonton. Jadilah teman belajar yang asyik,” pungkasnya.

Dengan tren positif ini, diharapkan Ramadhan tidak hanya meninggalkan kenangan ibadah, tetapi juga peningkatan kualitas literasi dan pengetahuan generasi muda Indonesia.

Related News