WIN Media, Makassar, 19/3/2026 – The glitter of takbir and the victorious atmosphere of Eid al-Fitr 1447 H greet Muslims after a full month of fasting. Behind the euphoria of halal bi halal and social gatherings, the Eid moment becomes a profound reflection for the world of education. While parents take pride in seeing their children’s report cards with perfect scores, a big question emerges: is academic intelligence enough to form a superior generation, or is character the main foundation?
Education experts highlight the phenomenon of a character crisis that is increasingly apparent in the digital era. The advancement of technology and unlimited access to information turns out not to be proportional to the formation of noble character. Cases of cyberbullying, intolerance among students, and declining empathy serve as alarms for the education world to once again place character as the top priority.
Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, emphasizes that report card grades are merely a snapshot of cognitive abilities, while character is a reflection of long-term personality.
“We have been hypnotized by numbers for too long. Parents are proud if their child gets a score of 100, but forget to ask: is my child honest? Do they have empathy? In today’s digital era, where children are exposed to unlimited content, character formation actually becomes their strongest fortress,” said Harry.
According to Harry, the digital era brings new challenges to character formation. Social media often becomes an arena for excessive self-validation, while negative content is easily accessible. “Our children live in two worlds: real and virtual. If character is not strong, they can lose their identity. No matter how high the report card grades, they mean nothing if children grow into manipulative, dishonest individuals with no social responsibility,” he emphasized.
Harry connects this reflection with Eid values that are rich in character meaning. “Eid al-Fitr teaches us about honesty (by mutually forgiving), empathy (by sharing with those in need), and togetherness (through social gatherings). These values are the foundation of character that must be instilled in schools and at home. Not just memorized, but practiced,” he added.
Ahmad Arfah, a Teacher at MAN 1 Makassar, who deals directly with students every day, observes a shift in priorities among students and parents. Many are obsessed with high grades and academic achievement but neglect the formation of attitudes and behavior.
“I often see students who are academically smart, but when speaking with teachers, their attitude lacks respect. There are also those who excel at solving math problems but have no sensitivity toward friends in difficulty. This is ironic. Report card grades are indeed important for competition in higher education and the workforce, but character determines how they survive and are respected in society,” Arfah revealed.
Arfah gives an example: the Eid moment should be a character laboratory for children. “During Eid, children learn to shake hands with parents, ask for forgiveness, and visit relatives. This is real character education. Unfortunately, sometimes parents are too busy with their own phones, so this golden moment is missed,” he regretted.
He also highlights the role of teachers in building character in the digital era. “Teachers cannot just teach material. We must be role models. In an era where children trust YouTubers more than teachers, we must be present as relevant and inspiring figures. Use technology to approach them, but don’t abandon basic values,” Arfah advised.
Harry adds that schools and families must synergize in building character. “Don’t pass the buck. Schools say character is formed at home, parents say it’s the school’s task. In fact, both must go hand in hand. The curriculum needs to balance hard skills and soft skills. Parents must also be good role models at home,” he explained.
At the end of his reflection, Harry reminds that true success is not measured by how high report card grades are or how many diplomas hang on the wall. “True success is when children grow into honest, responsible individuals who care about others and are beneficial to their environment. That is the fruit of character education. Happy Eid al-Fitr, let’s make this moment to improve ourselves and educate the next generation with heart,” Harry concluded.
On this holy day, educational reflection serves as a reminder that behind the glitter of academic achievement, it is character that will illuminate the path of life.
Refleksi Pendidikan di Hari Raya: Mengapa Karakter Lebih Penting dari Nilai Rapor?

WIN Media, Makassar, 19/3/2026 – Gemerlap takbir dan suasana kemenangan Hari Raya Idul Fitri 1447 H menyapa umat Muslim setelah sebulan penuh berpuasa. Di balik euforia halal bi halal dan silaturahmi, momen Lebaran menjadi refleksi mendalam bagi dunia pendidikan. Saat orang tua bangga melihat rapor anak dengan nilai sempurna, sebuah pertanyaan besar mengemuka: apakah kecerdasan akademik cukup untuk membentuk generasi unggul, atau justru karakterlah yang menjadi fondasi utama?
Para pakar pendidikan menyoroti fenomena krisis karakter yang kian nyata di era digital. Kemajuan teknologi dan akses informasi tanpa batai ternyata tidak berbanding lurus dengan pembentukan budi pekerti luhur. Kasus perundungan siber, intoleransi di kalangan pelajar, hingga menurunnya rasa empati menjadi alarm bagi dunia pendidikan untuk kembali menempatkan karakter sebagai prioritas utama.
Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, menegaskan bahwa nilai rapor hanyalah potret sesaat kemampuan kognitif, sementara karakter adalah cerminan kepribadian jangka panjang.
“Kita terlalu lama terhipnotis oleh angka. Orang tua bangga jika anak dapat nilai 100, tapi lupa bertanya: apakah anak saya jujur? Apakah dia punya empati? Di era digital seperti sekarang, di mana anak-anak terpapar konten tanpa batas, pembentukan karakter justru menjadi benteng terkuat mereka,” ujar Harry.
Menurut Harry, era digital membawa tantangan baru bagi pembentukan karakter. Media sosial sering kali menjadi ajang pencarian validasi diri yang berlebihan, sementara konten negatif mudah diakses. “Anak-anak kita hidup di dua dunia: nyata dan maya. Jika karakter tidak kokoh, mereka bisa kehilangan jati diri. Nilai rapor setinggi apa pun tidak akan berarti jika anak tumbuh menjadi pribadi yang manipulatif, tidak jujur, atau tidak punya tanggung jawab sosial,” tegasnya.
Harry mengaitkan refleksi ini dengan nilai-nilai Lebaran yang sarat makna karakter. “Idul Fitri mengajarkan kita tentang kejujuran (dengan saling memaafkan), empati (dengan berbagi kepada yang membutuhkan), dan kebersamaan (dengan silaturahmi). Nilai-nilai ini adalah fondasi karakter yang harus ditanamkan di sekolah dan rumah. Bukan sekadar hafalan, tapi diamalkan,” tambahnya.
Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar, yang setiap hari berhadapan langsung dengan peserta didik, mengamati adanya pergeseran prioritas di kalangan siswa dan orang tua. Banyak yang terobsesi pada nilai tinggi dan prestasi akademik, namun abai pada pembentukan sikap dan perilaku.
“Saya sering melihat siswa yang pintar secara akademik, tapi ketika berbicara dengan guru, sikapnya kurang sopan. Ada juga yang jago mengerjakan soal matematika, tapi tidak punya kepekaan terhadap teman yang kesusahan. Ini ironis. Nilai rapor memang penting untuk persaingan di perguruan tinggi dan dunia kerja, tapi karakterlah yang menentukan bagaimana mereka bertahan dan dihormati di masyarakat,” ungkap Arfah.
Arfah mencontohkan, momen Lebaran seharusnya menjadi laboratorium karakter bagi anak-anak. “Saat Lebaran, anak-anak belajar bersalaman dengan orang tua, meminta maaf, dan berkunjung ke sanak saudara. Ini adalah pendidikan karakter yang nyata. Sayangnya, kadang orang tua terlalu sibuk dengan ponsel masing-masing, sehingga momen emas ini terlewat,” sesalnya.
Ia juga menyoroti peran guru dalam membangun karakter di era digital. “Guru tidak bisa hanya mengajar materi. Kita harus menjadi teladan. Di era di mana anak-anak lebih percaya pada YouTuber daripada guru, kita harus hadir sebagai figur yang relevan dan inspiratif. Gunakan teknologi untuk mendekati mereka, tapi jangan tinggalkan nilai-nilai dasar,” pesan Arfah.
Harry menambahkan bahwa sekolah dan keluarga harus bersinergi dalam membangun karakter. “Jangan saling lempar tanggung jawab. Sekolah bilang karakter dibentuk di rumah, orang tua bilang itu tugas sekolah. Padahal, keduanya harus berjalan beriringan. Kurikulum perlu menyeimbangkan antara hard skills dan soft skills. Orang tua juga harus menjadi role model yang baik di rumah,” jelasnya.
Di akhir refleksinya, Harry mengingatkan bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi nilai rapor atau seberapa banyak ijazah yang digantung di dinding. “Kesuksesan sejati adalah ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, peduli pada sesama, dan bermanfaat bagi lingkungannya. Itulah buah dari pendidikan karakter. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mari jadikan momen ini untuk memperbaiki diri dan mendidik generasi penerus dengan hati,” pungkas Harry.
Di hari yang fitri ini, refleksi pendidikan menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap prestasi akademik, karakterlah yang akan menerangi jalan kehidupan.

