WIN Media, Makassar, 20/3/2026 – The takbir echoes, gratitude fills the heart. Eid al-Fitr 1447 H marks the peak of victory after a full month of fasting and self-restraint. Behind the glitter of social gatherings and the joy of mutual forgiveness, this moment also serves as a profound reflection for the world of education, particularly regarding the role of family and school in shaping children’s character. Amidst the rapid flow of digitalization and information overload, a big question emerges: have we been educating with love?
Educators and parents are reminded that behind report card grades and academic achievements, there is a far more important foundation for building a superior and virtuous generation: love-based education. The love referred to here is not merely unlimited affection but love that fosters respect, responsibility, empathy, and independence.
Ahmad Arfah, a Teacher at MAN 1 Makassar, who daily engages with the world of education and student character formation, shares his profound reflection on this holy day.
“Eid al-Fitr is the right moment to reflect again on the essence of education. So far, we have often been too focused on cognitive aspects, chasing high grades, and forgetting that the core of education is character formation. And character cannot be formed through violence or coercion. Character can only thrive if nurtured with love,” said Arfah.
According to Arfah, love-based education views children as subjects, not objects. “Children are not empty bottles to be filled as much as possible. They are unique individuals with their own potential. Our task, as parents and teachers, is to water that potential with affection, guide them with patience, and give them space to grow,” he explained.
Arfah outlines three main pillars of love-based education that can be applied in families and schools:
First, role modeling (uswah hasanah). Children learn not from what is commanded but from what they see. “If we want children to be honest, we must be honest. If we want children to be disciplined, we must be disciplined. If we want children to forgive each other, we must set an example by apologizing when wrong. Eid teaches us about role modeling in forgiveness,” he emphasized.
Second, appreciation of each child’s unique potential. Every child is born with different talents and interests. “Love-based education does not force all children to be the same. It doesn’t force a child who loves drawing to become a doctor. Instead, it supports them to become the best version of themselves. This is where the role of parents and teachers as facilitators, not enforcers, comes in,” Arfah added.
Third, warm and empathetic communication. In the digital era, communication is often replaced by phone screens. “Parents and children can be at the same table but each busy with their own gadgets. This is dangerous. Love-based education requires quality time, two-way dialogue, and the ability to listen without judging. The Eid moment can be a start to rebuild that emotional closeness,” he said.
Arfah also highlights the important synergy between family and school. “School and home cannot operate separately. There must be alignment of values. If honesty is taught at school, it must also be practiced at home. If home is full of affection, school must be a safe and comfortable place. Children will be confused if there are contradictions,” he explained.
He gives an example: Eid values such as mutual forgiveness, sharing with the less fortunate, and strengthening social bonds should not just be annual ceremonies but internalized in daily life at school and home.
“Imagine if every day at school, teachers and students respected each other, forgave each other if wrong, and helped each other. That is a love-based school. Eid values must become school culture, not just jargon on paper,” Arfah advised.
At the end of his reflection, Ahmad invites all education stakeholders to make Eid al-Fitr a turning point for change.
“Let’s make this holy day a new beginning for educating with heart. Reduce scolding, increase hugs. Reduce threats, increase appreciation. Reduce distance, increase quality time. Because only with love will we produce a generation that is not only intellectually smart but also noble in character. Happy Eid al-Fitr, forgive us physically and spiritually,” Arfah concluded.
On this holy day, the reflection on love-based education serves as a reminder that behind the glitter of technology and high academic demands, love is the main foundation that will lead Indonesia’s children to become a superior and virtuous generation.
Pendidikan Berbasis Cinta: Kunci Membangun Generasi Unggul dan Berakhlak

WIN Media, Makassar, 20/3/2026 – Takbir berkumandang, syukur memenuhi hati. Hari Raya Idul Fitri 1447 H menjadi puncak kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa dan menahan diri. Di balik gemerlapnya silaturahmi dan kebahagiaan bermaaf-maafan, momen ini juga menjadi renungan mendalam bagi dunia pendidikan, khususnya tentang peran keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter anak. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan gempuran informasi, pertanyaan besar mengemuka: sudahkah kita mendidik dengan cinta?
Para pendidik dan orang tua diingatkan bahwa di balik nilai rapor dan prestasi akademik, ada fondasi yang jauh lebih penting untuk membangun generasi unggul dan berakhlak, yaitu pendidikan berbasis cinta. Cinta yang dimaksud bukan sekadar kasih sayang tanpa batas, tetapi cinta yang menumbuhkan rasa hormat, tanggung jawab, empati, dan kemandirian.
Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar, yang sehari-hari bergelut dengan dunia pendidikan dan pembentukan karakter siswa, membagikan renungan mendalamnya di hari yang fitri ini.
“Hari Raya Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk merenungkan kembali esensi pendidikan. Selama ini, kita sering terlalu fokus pada aspek kognitif, mengejar nilai tinggi, dan melupakan bahwa inti dari pendidikan adalah pembentukan karakter. Dan karakter tidak bisa dibentuk dengan kekerasan atau paksaan. Karakter hanya bisa tumbuh subur jika ditanamkan dengan cinta,” ujar Arfah.
Menurut Arfah, pendidikan berbasis cinta adalah pendidikan yang memandang anak sebagai subjek, bukan objek. “Anak bukan botol kosong yang harus diisi sebanyak-banyaknya. Mereka adalah pribadi unik dengan potensi masing-masing. Tugas kita, orang tua dan guru, adalah menyirami potensi itu dengan kasih sayang, membimbing mereka dengan kesabaran, dan memberi mereka ruang untuk tumbuh,” jelasnya.
Arfah memaparkan tiga pilar utama dalam pendidikan berbasis cinta yang dapat diterapkan di keluarga dan sekolah:
Pertama, keteladanan (uswah hasanah). Anak belajar bukan dari apa yang diperintahkan, tetapi dari apa yang mereka lihat. “Jika kita ingin anak jujur, kita harus jujur. Jika ingin anak disiplin, kita harus disiplin. Jika ingin anak saling memaafkan, kita harus memberi contoh dengan meminta maaf ketika salah. Lebaran mengajarkan kita tentang keteladanan dalam memaafkan,” tegasnya.
Kedua, penghargaan terhadap potensi unik anak. Setiap anak dilahirkan dengan bakat dan minat yang berbeda. “Pendidikan berbasis cinta tidak memaksakan semua anak menjadi sama. Bukan memaksa anak yang suka menggambar untuk jadi dokter. Tapi mendukung mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Di sinilah peran orang tua dan guru sebagai fasilitator, bukan pemaksa,” tambah Arfah.
Ketiga, komunikasi yang hangat dan penuh empati. Di era digital, komunikasi sering kali tergantikan oleh layar ponsel. “Orang tua dan anak bisa satu meja tapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Ini bahaya. Pendidikan berbasis cinta membutuhkan waktu berkualitas, dialog dua arah, dan kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi. Momen Lebaran bisa menjadi awal untuk membangun kembali kedekatan emosional itu,” ujarnya.
Arfah juga menyoroti peran penting sinergi antara keluarga dan sekolah. “Sekolah dan rumah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada keselarasan nilai. Jika di sekolah diajarkan tentang kejujuran, di rumah juga harus demikian. Jika di rumah penuh kasih sayang, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman. Anak akan bingung jika terjadi kontradiksi,” jelasnya.
Ia mencontohkan, nilai-nilai Lebaran seperti saling memaafkan, berbagi dengan yang lemah, dan mempererat silaturahmi, seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi terinternalisasi dalam keseharian di sekolah dan rumah.
“Bayangkan jika setiap hari di sekolah, guru dan siswa saling menghormati, saling memaafkan jika ada salah, dan saling membantu. Itulah sekolah berbasis cinta. Nilai-nilai Lebaran harus menjadi budaya sekolah, bukan hanya jargon di atas kertas,” pesan Arfah.
Arfah mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan momen Idul Fitri sebagai titik tolak perubahan.
“Mari kita jadikan Hari Raya ini sebagai awal baru untuk mendidik dengan hati. Kurangi omelan, tambah pelukan. Kurangi ancaman, tambah apresiasi. Kurangi jarak, tambah waktu berkualitas. Karena hanya dengan cinta, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia akhlaknya. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin,” pungkas Arfah.
Di hari yang fitri ini, refleksi tentang pendidikan berbasis cinta menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya teknologi dan tingginya tuntutan akademik, cinta adalah fondasi utama yang akan membawa anak-anak Indonesia menjadi generasi unggul dan berakhlak mulia.

