WIN Media, Makassar, 18/3/2026 – The phenomenon of shifting reading habits among the younger generation is in the spotlight of education and technology observers. On one hand, interest in digital books has increased significantly due to easy access via smartphones and e-reading platforms. However, on the other hand, recent research reveals concerns about the decline in young people’s critical thinking skills in digesting information they read digitally.
Research published by Eleanor Vance from the University of Cambridge and her team revealed surprising findings. The study involving 3,200 participants aged 16-25 from 12 countries, showed that although digital reading duration increased by 40 percent in the last five years, deep understanding and critical analytical skills towards texts actually decreased by up to 23 percent.
The study used reading comprehension tests with two formats: print and digital. The results showed that participants who read text in digital format tended to read in a “skipping” manner (skimming) and were more easily distracted by hyperlinks and notifications. “The ability to focus on complex arguments and evaluate source credibility decreases drastically when reading on screens,” Vance wrote in her report.
In Indonesia, data from the Indonesian Internet Service Providers Association (APJII) 2025 shows that 89 percent of young people access digital books or articles via their phones. Platforms like Google Books, iPusnas, and Wattpad are favorites. However, a preliminary survey from the Ministry of Education shows that Indonesia’s reading literacy scores in international assessments are still stagnant, and the ability to distinguish between facts and opinions tends to decline.
Harry Yulianto, an Educational Technology Observer from STIE YPUP Makassar, provides his perspective on this phenomenon. He connects the global research findings with the situation in Indonesia.
” Vance and her team’s findings are very relevant to what we see in Indonesia. Our young people are indeed ‘digitally literate,’ but ‘meaning literate’ or critical literacy remains a big homework. They read quickly, but understand slowly,” said Harry.
According to Harry, several factors cause the decline in critical thinking amidst high interest in digital reading:
First, the characteristics of digital reading tend to be shallow. “Digital platforms are designed for speed, not depth. Hyperlinks, ads, and notifications constantly disrupt concentration. This forms fragmented reading habits,” Harry explained.
Second, the dominance of short-form content. Social media like TikTok, Instagram Reels, and YouTube Shorts accustom young people to consume information in very short durations. “As a result, when faced with long texts or complex arguments, they quickly get bored and lose focus,” he added.
Third, lack of guidance in digital reading. Harry highlights that in schools, few teachers teach critical reading strategies for digital texts. “Yet, reading on screens requires different skills than reading print. This must be taught explicitly.”
Fourth, the phenomenon of echo chambers and filter bubbles. Social media algorithms tend to display information that aligns with users’ views. “This reduces exposure to different perspectives and weakens critical thinking skills,” said Harry.
Harry offers several solutions to address this issue:
- Teaching critical digital literacy in schools. The curriculum needs to include material on how to evaluate digital sources, distinguish facts from opinions, and recognize bias and hoaxes.
- Encouraging deep reading practices. Parents and teachers can facilitate book discussions, both print and digital, to train analytical skills.
- Using technology wisely. Digital reading apps can be equipped with features that encourage reflection, such as thought-provoking questions at the end of chapters or virtual discussion spaces.
- Limiting consumption of short content. Young people need to be educated to balance entertainment content consumption with readings that stimulate thinking.
“Technology is not the enemy. But we must realize that each medium has characteristics that affect how we think. Our challenge is how to utilize digitalization to improve, not decrease, the quality of literacy among the younger generation,” Harry concluded.
With collaboration between educators, parents, and policymakers, it is hoped that Indonesia’s young people can become digital readers who are not only fast but also critical and deep.
Anak Muda Makin Suka Baca Buku Digital, Tapi Daya Kritisnya Menurun?

WIN Media, Makassar, 18/3/2026 – Fenomena pergeseran kebiasaan membaca di kalangan generasi muda menjadi sorotan para pemerhati pendidikan dan teknologi. Di satu sisi, minat baca buku digital mengalami peningkatan signifikan berkat kemudahan akses melalui smartphone dan platform e-reading. Namun di sisi lain, sebuah riset terbaru mengungkapkan kekhawatiran tentang menurunnya daya kritis anak muda dalam mencerna informasi yang mereka baca secara digital.
Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Eleanor Vance dari University of Cambridge dan timnya mengungkapkan temuan mengejutkan. Studi yang melibatkan 3.200 partisipan berusia 16-25 tahun dari 12 negara, menunjukkan bahwa meskipun durasi membaca digital meningkat 40 persen dalam lima tahun terakhir, pemahaman mendalam dan kemampuan analisis kritis terhadap teks justru mengalami penurunan hingga 23 persen.
Penelitian tersebut menggunakan metode tes pemahaman bacaan dengan dua format: cetak dan digital. Hasilnya, partisipan yang membaca teks dalam format digital cenderung membaca secara “melompat” (skimming) dan lebih mudah terdistraksi oleh hiperlink serta notifikasi. “Kemampuan untuk fokus pada argumen kompleks dan mengevaluasi kredibilitas sumber menurun drastis ketika membaca di layar,” tulis Vance dalam laporannya.
Di Indonesia, data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa 89 persen anak muda mengakses buku atau artikel digital melalui ponsel mereka. Platform seperti Google Books, iPusnas, dan Wattpad menjadi favorit. Namun, survei pendahuluan dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia dalam asesmen internasional masih stagnan, bahkan untuk kemampuan membedakan fakta dan opini cenderung menurun.
Harry Yulianto, Pemerhati Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, memberikan perspektifnya mengenai fenomena ini. Ia mengaitkan temuan riset global dengan kondisi di Indonesia.
“Temuan Vance dan tim sangat relevan dengan apa yang kita lihat di Indonesia. Anak muda kita memang ‘melek huruf’ secara digital, tapi ‘melek makna’ atau literasi kritis masih menjadi pekerjaan rumah besar. Mereka cepat membaca, tapi lambat memahami,” ujar Harry.
Menurut Harry, ada beberapa faktor yang menyebabkan daya kritis menurun di tengah tingginya minat baca digital:
Pertama, karakteristik membaca digital yang cenderung dangkal. “Platform digital dirancang untuk kecepatan, bukan kedalaman. Hiperlink, iklan, dan notifikasi terus mengganggu konsentrasi. Ini membentuk kebiasaan membaca yang terputus-putus,” jelas Harry.
Kedua, dominasi konten pendek (short-form content). Media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membiasakan anak muda mengonsumsi informasi dalam durasi sangat pendek. “Akibatnya, ketika berhadapan dengan teks panjang atau argumen rumit, mereka cepat merasa bosan dan kehilangan fokus,” tambahnya.
Ketiga, kurangnya pendampingan dalam membaca digital. Harry menyoroti bahwa di sekolah, masih sedikit guru yang mengajarkan strategi membaca kritis untuk teks digital. “Padahal, membaca di layar membutuhkan keterampilan berbeda dengan membaca cetak. Ini harus diajarkan secara eksplisit.”
Keempat, fenomena echo chamber dan filter bubble. Algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang sesuai dengan pandangan pengguna. “Ini mengurangi paparan terhadap perspektif berbeda dan melemahkan kemampuan berpikir kritis,” ujar Harry.
Harry menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah ini:
- Mengajarkan literasi digital kritis di sekolah. Kurikulum perlu memasukkan materi tentang cara mengevaluasi sumber digital, membedakan fakta dan opini, serta mengenali bias dan hoaks.
- Mendorong praktik membaca mendalam (deep reading). Orang tua dan guru bisa memfasilitasi diskusi buku, baik cetak maupun digital, untuk melatih kemampuan analisis.
- Memanfaatkan teknologi secara bijak. Aplikasi baca digital bisa dilengkapi dengan fitur yang mendorong refleksi, seperti pertanyaan pemantik di akhir bab atau ruang diskusi virtual.
- Membatasi konsumsi konten pendek. Anak muda perlu diedukasi untuk menyeimbangkan konsumsi konten hiburan dengan bacaan yang menstimulasi pemikiran.
“Teknologi bukan musuh. Tapi kita harus sadar bahwa setiap medium memiliki karakteristik yang memengaruhi cara kita berpikir. Tantangan kita adalah bagaimana memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan, bukan menurunkan, kualitas literasi generasi muda,” pungkas Harry.
Dengan kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan, diharapkan anak muda Indonesia dapat menjadi pembaca digital yang tidak hanya cepat, tetapi juga kritis dan mendalam.

