WIN Media, Makassar, 1/4/2026 – The term “Strawberry Generation” has once again become a hot topic among industry players and education practitioners. The label, which describes young people who look appealing on the outside but are easily “crushed” under pressure, is still considered relevant in portraying the challenges faced by new graduates entering the job market.
Two experts from the fields of human capital and higher education have shared their views on this phenomenon, offering insights into how graduates can be equipped not only with intellectual skills but also with emotional resilience.
Kunto Wibisono, a Human Capital Management expert based in Yogyakarta, believes that the Strawberry Generation phenomenon is closely linked to parenting styles and an education system that often shields students from failure.
“Many graduates enter the workplace with high expectations but low mental endurance. They are used to receiving praise without going through meaningful pressure. Yet the professional world is filled with criticism, targets, and uncertainty,” Kunto said.
He added that companies today are looking beyond high grade point averages; they seek resilience—the ability to bounce back after setbacks. “If this mindset is not addressed while students are still in college, the turnover rate among young employees will continue to rise,” he emphasized.
Meanwhile, Harry Yulianto, a lecturer in Management at STIE YPUP Makassar, highlighted the role of universities in shaping student character. According to him, curricula should incorporate more project-based learning and exposure to real-world pressure.
“Campuses should not remain ivory towers. Students need to be introduced to actual work situations through structured internships and simulations of workplace stress. The Strawberry Generation is not inherently weak; rather, they haven’t been trained to manage stress because their previous environment was too comfortable,” Harry explained.
Harry also reminded graduates not to be overly sensitive to criticism. “Criticism is fuel for improvement. If our graduates become disheartened the moment they receive feedback, that will become a major obstacle in their careers,” he added.
Both experts agreed that collaboration between industries, universities, and families is essential to raising a generation that is not only academically competent but also mentally resilient in facing the dynamics of the workplace.
Fenomena ‘Generasi Strawberry’: Bagaimana Mentalitas Lulusan di Dunia Kerja ?

WIN Media, Makassar, 1/4/2026 – Istilah “Generasi Strawberry” kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri dan dunia pendidikan. Julukan yang merujuk pada generasi muda dengan penampilan menarik namun mudah “remuk” saat menghadapi tekanan ini dinilai masih relevan untuk menggambarkan tantangan mentalitas lulusan baru di pasar kerja.
Dua pakar dari bidang human capital dan pendidikan tinggi memberikan pandangan mereka terkait fenomena ini, serta menawarkan solusi agar lulusan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara emosional.
Kunto Wibisono, pakar Human Capital Management asal Yogyakarta, menilai bahwa fenomena generasi strawberry tidak bisa dilepaskan dari pola asuh dan sistem pendidikan yang terlalu melindungi siswa dari kegagalan.
“Banyak lulusan yang masuk ke dunia kerja dengan ekspektasi tinggi tetapi memiliki ketahanan mental yang rendah. Mereka terbiasa mendapatkan apresiasi tanpa melalui proses tekanan yang berarti. Padahal, dunia kerja penuh dengan kritik, target, dan ketidakpastian,” ujar Kunto.
Ia menambahkan, perusahaan saat ini tidak hanya mencari nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, tetapi juga resilience atau kemampuan bangkit kembali setelah gagal. “Jika mentalitas ini tidak dibenahi sejak bangku kuliah, angka turnover karyawan muda akan terus meningkat,” tegasnya.
Sementara itu, Harry Yulianto, Dosen Manajemen di STIE YPUP Makassar, menyoroti peran perguruan tinggi dalam membentuk karakter mahasiswa. Menurutnya, kurikulum harus lebih banyak mengakomodasi pembelajaran berbasis proyek dan tekanan nyata (real-world pressure).
“Kampus tidak boleh hanya menjadi ‘menara gading’. Mahasiswa perlu dikenalkan dengan situasi kerja yang sesungguhnya, misalnya melalui magang terstruktur dan simulasi tekanan pekerjaan. Generasi strawberry bukan berarti generasi lemah, tetapi mereka belum terlatih untuk mengelola stres karena lingkungan sebelumnya terlalu nyaman,” jelas Harry.
Harry juga mengingatkan agar para lulusan tidak terlalu cepat mengeluh ketika mendapatkan kritik. “Kritik adalah bahan bakar perbaikan. Jika lulusan kita langsung patah semangat saat diberi masukan, itu akan menjadi hambatan utama dalam karier mereka,” tambahnya.
Para pakar sepakat bahwa kolaborasi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan keluarga menjadi kunci utama untuk membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat menghadapi dinamika dunia kerja.

