WIN Media, Mataram, 18/3/2026 – On the exotic island of Lombok, there is a dish that not only delights the palate but also holds deep spiritual meaning. Sate Rembiga, with its distinctive red seasoning and tempting spicy taste, is a culinary heritage that has accompanied the life journey of the Sasak people from generation to generation. More than just food, this satay is a silent witness to traditional rituals that bind human relationships with ancestors, nature, and the Creator.
According to Alphacino Junido Loilewen, a culinary observer from Mataram who has long documented Sasak culinary traditions, Sate Rembiga holds a special position in the cosmology of Lombok society. “Sate Rembiga is not just a dish. It is a medium of spiritual communication present in every pulse of Sasak community life. Each skewer contains prayers, hopes, and gratitude offered in various traditional rituals,” said Alphacino.
The Origin of Sate Rembiga in Sasak Tradition
The name “Rembiga” itself is believed to come from an area in Lombok, precisely in Rembiga Village, Selaparang District, Mataram City. It was here that this dish first became popular and developed into a culinary icon of Lombok. However, its traces in traditional rituals are believed to have existed long before that.
“Sate Rembiga has existed since the time of Sasak ancestors. Initially, this dish was a special offering only served in important traditional ceremonies, such as noble weddings, village cleansing ceremonies, or rituals to ward off misfortune. The rarity of meat and the rich spices made it a sacred and meaningful dish,” Alphacino explained.
Sate Rembiga in Sasak Traditional Weddings
In the Sasak traditional wedding ceremony known as Merarik, Sate Rembiga plays an important role. This dish is often served at both the proposal event (midang) and the wedding reception. Its presence symbolizes sincerity of heart and hope for a harmonious household life.
“In Sasak philosophy, the red seasoning of Sate Rembiga symbolizes spirit and courage. The groom is expected to have the courage to lead the family, while the bride is expected to have a burning spirit in navigating household life. Its spiciness also serves as a reminder that life is not always sweet; there is bitterness and spiciness that must be faced together,” Alphacino explained.
The process of making Sate Rembiga for weddings is also carried out with great sacredness. Usually, elders and close relatives gather to prepare this dish together, creating moments of togetherness that strengthen social bonds.
Rituals to Ward Off Misfortune and Thanksgiving Ceremonies
Besides weddings, Sate Rembiga also appears in various thanksgiving ceremonies and rituals to ward off misfortune. The Sasak people believe that by serving this dish, they can repel danger and seek safety from God Almighty.
“In rituals to ward off misfortune, Sate Rembiga often becomes the main offering presented to ancestors and village guardian spirits. There is a belief that the fragrant aroma of grilled satay will attract the attention of ancestors and bring blessings to all residents. After the ritual is complete, the satay is then enjoyed together as a symbol of togetherness and gratitude,” Alphacino revealed.
At harvest thanksgiving ceremonies, Sate Rembiga is also a mandatory dish. The community gives thanks for abundant harvests and prays for even better future harvests.
The Philosophy of Seasoning and Serving Method
Every element in Sate Rembiga has philosophical meaning. The red seasoning made from chilies, shallots, garlic, candlenuts, palm sugar, and typical Lombok spices symbolizes courage, spirit, and warmth. The red color is also considered the color of life and good fortune.
The beef used symbolizes strength and resilience. Meanwhile, the bamboo skewers symbolize the vertical relationship between humans and God. The grilling process with charcoal symbolizes the purification process—raw meat is cooked until done, like humans going through life processes to achieve maturity.
“The serving method is also full of meaning. Usually, Sate Rembiga is served on a plate with a banana leaf base, symbolizing simplicity and harmony with nature. Eaten with white rice and fresh plecing kangkung, it creates a flavor balance that reflects life balance,” added Alphacino.
Sate Rembiga as a Social Adhesive
In the daily life of Sasak society, Sate Rembiga also functions as a social adhesive. The tradition of making satay together, especially before major events, becomes a moment for residents from various backgrounds to gather. They work together preparing ingredients, grilling the satay, and enjoying it together.
“This is the true local wisdom. Sate Rembiga not only unites flavors but also unites hearts. Through this dish, values of togetherness, mutual cooperation, and mutual respect continue to be passed down from generation to generation,” said Alphacino.
Preserving Tradition in the Modern Era
Amidst modernization, the Sate Rembiga tradition survives. The younger generation of Sasak is beginning to take pride in their culinary heritage. Many of them actively learn generational recipes and preserve them through various cultural festivals and culinary promotions.
“We must not let this tradition die out. Sate Rembiga is not just about taste but about the identity and character of the Sasak people. I am happy to see young people now starting to take interest in learning the history and philosophy behind this dish. They are also creative in packaging it in modern forms without losing the essence of tradition,” Alphacino concluded.
Sate Rembiga: Jejak Kuliner dalam Tradisi dan Ritual Adat Sasak

WIN Media, Mataram, 18/3/2026 – Di Pulau Lombok yang eksotis, ada sebuah hidangan yang tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga menyimpan makna spiritual mendalam. Sate Rembiga, dengan bumbu merahnya yang khas dan cita rasa pedas yang menggoda, adalah warisan kuliner yang telah mengiringi perjalanan hidup masyarakat Sasak dari generasi ke generasi. Lebih dari sekadar makanan, sate ini adalah saksi bisu ritual adat yang merekatkan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
Menurut Alphacino Junido Loilewen, pengamat kuliner dari Mataram yang telah lama mendokumentasikan tradisi kuliner Sasak, Sate Rembiga memiliki posisi istimewa dalam kosmologi masyarakat Lombok. “Sate Rembiga bukan sekadar hidangan. Ia adalah media komunikasi spiritual yang hadir dalam setiap denyut nadi kehidupan masyarakat Sasak. Setiap tusuknya mengandung doa, harapan, dan rasa syukur yang dipanjatkan dalam berbagai ritual adat,” ujar Alphacino.
Asal-Usul Sate Rembiga dalam Tradisi Sasak
Nama “Rembiga” sendiri diyakini berasal dari daerah di Lombok, tepatnya di Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Di sinilah hidangan ini pertama kali populer dan berkembang menjadi ikon kuliner Lombok. Namun, jejaknya dalam tradisi adat dipercaya sudah ada jauh sebelum itu.
“Sate Rembiga telah ada sejak zaman leluhur masyarakat Sasak. Awalnya, hidangan ini adalah sajian istimewa yang hanya disajikan dalam upacara-upacara adat penting, seperti pernikahan bangsawan, upacara bersih desa, atau ritual tolak bala. Daging yang langka dan bumbu yang kaya rempah menjadikannya hidangan yang sakral dan penuh makna,” jelas Alphacino.
Sate Rembiga dalam Upacara Pernikahan Adat Sasak
Dalam tradisi pernikahan adat Sasak yang dikenal dengan istilah Merarik, Sate Rembiga memiliki peran penting. Hidangan ini sering disajikan dalam acara midang (lamaran) maupun resepsi pernikahan. Kehadirannya melambangkan kesungguhan hati dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
“Dalam filosofi Sasak, bumbu merah Sate Rembiga melambangkan semangat dan keberanian. Pengantin pria diharapkan memiliki keberanian untuk memimpin keluarga, sementara pengantin wanita diharapkan memiliki semangat yang membara dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Rasa pedasnya juga menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak selalu manis, ada pahit dan pedas yang harus dihadapi bersama,” papar Alphacino.
Proses pembuatan Sate Rembiga untuk acara pernikahan juga dilakukan dengan penuh kesakralan. Biasanya, para tetua dan kerabat dekat berkumpul untuk menyiapkan hidangan ini bersama-sama, menciptakan momen kebersamaan yang mempererat tali silaturahmi.
Ritual Tolak Bala dan Selamatan
Selain pernikahan, Sate Rembiga juga hadir dalam berbagai upacara selamatan dan ritual tolak bala. Masyarakat Sasak percaya bahwa dengan menyajikan hidangan ini, mereka dapat menolak marabahaya dan memohon keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Dalam ritual tolak bala, Sate Rembiga sering menjadi sesajen utama yang dipersembahkan kepada leluhur dan roh penjaga desa. Ada keyakinan bahwa aroma harum sate yang dibakar akan menarik perhatian para leluhur dan membawa berkah bagi seluruh warga. Setelah ritual selesai, sate kemudian dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur,” ungkap Alphacino.
Pada upacara selamatan panen, Sate Rembiga juga menjadi hidangan wajib. Masyarakat bersyukur atas hasil bumi yang melimpah dan berdoa agar panen berikutnya lebih baik.
Filosofi Bumbu dan Cara Penyajian
Setiap elemen dalam Sate Rembiga memiliki makna filosofis. Bumbu merah yang terbuat dari cabai, bawang merah, bawang putih, kemiri, gula merah, dan rempah khas Lombok melambangkan keberanian, semangat, dan kehangatan. Warna merah juga dianggap sebagai warna kehidupan dan keberuntungan.
Daging sapi yang digunakan melambangkan kekuatan dan ketahanan. Sementara tusukan sate yang terbuat dari bambu melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Proses pembakaran dengan arang melambangkan proses pemurnian—daging yang mentah dimasak hingga matang, seperti manusia yang melalui proses kehidupan untuk mencapai kedewasaan.
“Cara penyajiannya pun penuh makna. Biasanya, Sate Rembiga disajikan di atas piring dengan alas daun pisang, melambangkan kesederhanaan dan keharmonisan dengan alam. Disantap bersama nasi putih dan plecing kangkung yang segar, menciptakan keseimbangan rasa yang mencerminkan keseimbangan hidup,” tambah Alphacino.
Sate Rembiga sebagai Perekat Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak, Sate Rembiga juga berfungsi sebagai perekat sosial. Tradisi membuat sate bersama-sama, terutama menjelang acara-acara besar, menjadi momentum berkumpulnya warga dari berbagai latar belakang. Mereka bergotong royong menyiapkan bahan, membakar sate, dan menikmatinya bersama.
“Inilah kearifan lokal yang sesungguhnya. Sate Rembiga tidak hanya menyatukan rasa, tetapi juga menyatukan hati. Melalui hidangan ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling menghargai terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Alphacino.
Pelestarian Tradisi di Era Modern
Di tengah arus modernisasi, tradisi Sate Rembiga tetap bertahan. Generasi muda Sasak mulai bangga dengan warisan kulinernya. Banyak dari mereka yang aktif mempelajari resep turun-temurun dan melestarikannya melalui berbagai festival budaya dan promosi kuliner.
“Kita tidak boleh membiarkan tradisi ini punah. Sate Rembiga bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang identitas dan jati diri masyarakat Sasak. Saya senang melihat anak-anak muda sekarang mulai tertarik mempelajari sejarah dan filosofi di balik hidangan ini. Mereka juga kreatif mengemasnya dalam bentuk modern tanpa menghilangkan esensi tradisi,” pungkas Alphacino.

