WIN Media, Surakarta, 19/3/2026 – In the city of Surakarta, known for its philosophy of “Memayu Hayuning Bawana” (beautifying the world’s beauty), every Lebaran celebration is always synonymous with one special dish: opor ayam. More than just a delicious delicacy that pleases the palate, opor ayam in Solo’s tradition is a reflection of noble values about togetherness, simplicity, and gratitude passed down from generation to generation.
According to Awan Susanto, a culinary observer from Surakarta, opor ayam holds a special position in the Javanese philosophy of life. “Opor ayam is not just a dish. It is a spiritual symbol that appears every Lebaran to remind us of the essence of victory after a month of fasting. Its white broth symbolizes purity, while the togetherness of eating it reflects family harmony,” said Awan.
The Philosophy Behind Opor Ayam’s White Broth
The white color of opor ayam’s broth is not without meaning. In Javanese tradition, white symbolizes purity and sincerity of heart. After a full month of fasting to cleanse oneself from worldly desires, Muslims celebrate Eid al-Fitr by returning to fitrah—pure like a newborn baby. The white broth of opor serves as a reminder of this purity.
“The people of Solo believe that serving opor with clean, savory white broth reflects the sincerity of heart in sharing happiness. Nothing is hidden; everything is genuine. This is a deep philosophy: like the white broth of opor, so should our hearts be when celebrating victory,” Awan explained.
Togetherness in Every Spoonful of Opor
The tradition of enjoying opor ayam in Solo is always done together, usually with extended family gathering at the parents’ house. This moment becomes an occasion for strengthening family ties after perhaps rarely meeting throughout the year.
“Opor ayam is a bond of togetherness. The cooking process itself already involves many people—mothers, aunts, sisters, all working together in the kitchen. When Lebaran arrives, everyone sits in a circle, enjoying opor with ketupat, forgiving each other, and sharing stories. This is an invaluable moment,” Awan explained.
In some villages in Solo, the tradition of “sungkem” (paying respects to parents and elders) is often done while enjoying opor ayam. The atmosphere of emotion and happiness blends together, creating beautiful memories always longed for.
Simplicity in Culinary Richness
Although rich in spices and flavor, opor ayam teaches the value of simplicity. Its ingredients are easily obtained—free-range chicken, coconut milk, and simple kitchen spices. Yet, with patience and sincerity, this dish transforms into an irreplaceable special dish.
“Opor ayam teaches that happiness doesn’t have to be expensive. With simple ingredients, if cooked with heart and shared sincerely, the taste becomes far more delicious than luxurious dishes. This is the life philosophy of Solo people who always uphold simplicity,” Awan revealed.
At the Surakarta Palace, opor ayam is a mandatory dish during Grebeg celebrations and Lebaran. Its presentation is simple yet meaningful, reflecting the palace’s noble values.
Opor Ayam as a Symbol of Seeking Forgiveness
In Solo’s tradition, opor ayam also becomes a symbol of seeking forgiveness. During Lebaran, family members forgive each other, and opor ayam becomes a medium that unites hearts. This tradition is known as “halal bihalal,” where opor ayam is almost always present at every gathering.
“There’s a saying in Solo: ‘Wis maem opor durung?’ (Have you eaten opor yet?). This question is not just about being hungry or full, but about whether we have already forgiven each other. Opor serves as a reminder that after forgiving one another, we can sit together, enjoying a meal with clean hearts,” Awan explained.
The Cooking Process: Between Patience and Sincerity
Cooking opor ayam Solo-style requires patience and sincerity. Free-range chicken is cooked over low heat until tender and the spices are absorbed. Coconut milk must be stirred slowly to prevent curdling. This process can take hours, yet this is precisely where its uniqueness lies.
“The process of cooking opor is a metaphor for life. The small fire symbolizes patience, the stirring of coconut milk symbolizes caution, and the savory end result symbolizes happiness obtained through a long process. This teaches that to achieve happiness, we must be patient and diligent,” Awan explained.
Opor Ayam and Its Accompaniments
In Solo, opor ayam is almost always served with its faithful companions: spicy potato liver sambal, crispy beef skin, and pindang eggs. This combination creates perfect flavor harmony—savory, spicy, sweet, and slightly sour.
“Each side dish has meaning. The spicy sambal with its red color symbolizes spirit. The chewy krecek symbolizes resilience. The brown pindang eggs symbolize warmth. All unite on one plate, like a family united in togetherness,” added Awan.
Opor Ayam in the Modern Era
Although times continue to change, the opor ayam tradition in Solo persists. The younger generation is beginning to take pride in their culinary heritage. Many actively learn to cook opor from their parents, ensuring generational recipes don’t become extinct.
“Young people in Solo are now creative. They create cooking videos, share recipes on social media, and some even open opor ayam catering businesses. This is a positive form of cultural preservation. What’s important is that the essence and philosophy are maintained,” Awan said.
Opor Ayam Dalam Tradisi Lebaran Masyarakat Solo: Makna Kebersamaan dan Kesederhanaan

WIN Media, Surakarta, 19/3/2026 – Di Kota Surakarta yang dikenal dengan filosofi “Memayu Hayuning Bawana”, setiap perayaan Lebaran selalu identik dengan kehadiran satu hidangan istimewa: opor ayam. Lebih dari sekadar santapan lezat yang memanjakan lidah, opor ayam dalam tradisi masyarakat Solo adalah cerminan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Menurut Awan Susanto, pemerhati kuliner dari Surakarta, opor ayam memiliki posisi istimewa dalam filosofi hidup masyarakat Jawa. “Opor ayam bukan sekadar hidangan. Ia adalah simbol spiritual yang hadir setiap Lebaran untuk mengingatkan kita tentang esensi kemenangan setelah sebulan berpuasa. Kuahnya yang putih melambangkan kesucian, sementara kebersamaan menyantapnya mencerminkan harmoni keluarga,” ujar Awan.
Filosofi di Balik Kuah Putih Opor Ayam
Warna putih kuah opor ayam bukan tanpa makna. Dalam tradisi Jawa, warna putih melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Setelah sebulan penuh berpuasa membersihkan diri dari hawa nafsu, umat Islam merayakan Idul Fitri dengan kembali ke fitrah—suci seperti bayi yang baru lahir. Kuah putih opor menjadi pengingat akan kesucian ini.
“Orang Solo percaya bahwa menyajikan opor dengan kuah putih yang bersih dan gurih mencerminkan keikhlasan hati dalam berbagi kebahagiaan. Tidak ada yang disembunyikan, semua tulus. Ini filosofi yang dalam: seperti kuah opor yang putih, demikianlah hati kita seharusnya saat merayakan kemenangan,” jelas Awan.
Kebersamaan dalam Setiap Sendok Opor
Tradisi menyantap opor ayam di Solo selalu dilakukan bersama-sama, biasanya dengan keluarga besar yang berkumpul di rumah orang tua. Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat tali kasih setelah setahun mungkin jarang bertemu.
“Opor ayam adalah pengikat kebersamaan. Proses memasaknya saja sudah melibatkan banyak orang—ibu, bibi, saudara perempuan, semuanya gotong royong di dapur. Saat Lebaran tiba, semua duduk melingkar, menyantap opor dengan ketupat, saling memaafkan, dan berbagi cerita. Ini momen yang tidak ternilai,” papar Awan.
Di beberapa kampung di Solo, tradisi “sungkem” atau bersalaman kepada orang tua dan sesepuh keluarga sering dilakukan sambil menikmati opor ayam. Suasana haru dan bahagia berbaur menjadi satu, menciptakan kenangan indah yang selalu dirindukan.
Kesederhanaan dalam Kemewahan Rasa
Meski kaya akan rempah dan cita rasa, opor ayam mengajarkan nilai kesederhanaan. Bahan-bahannya mudah didapat—ayam kampung, santan, dan bumbu dapur sederhana. Namun, dengan kesabaran dan ketulusan, hidangan ini berubah menjadi sajian istimewa yang tak tergantikan.
“Opor ayam mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus mahal. Dengan bahan sederhana, jika dimasak dengan hati dan dibagikan dengan tulus, rasanya akan jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah. Ini filosofi hidup masyarakat Solo yang selalu menjunjung tinggi kesederhanaan,” ungkap Awan.
Di Keraton Surakarta, opor ayam menjadi hidangan wajib saat perayaan Grebeg dan Lebaran. Penyajiannya pun sederhana namun penuh makna, mencerminkan nilai-nilai keraton yang adiluhung.
Opor Ayam sebagai Simbol Permohonan Maaf
Dalam tradisi masyarakat Solo, opor ayam juga menjadi simbol permohonan maaf. Saat Lebaran, setiap anggota keluarga saling memaafkan, dan opor ayam menjadi media yang menyatukan hati. Tradisi ini dikenal dengan istilah “halal bihalal”, di mana opor ayam hampir selalu hadir di setiap acara.
“Ada ungkapan di Solo: ‘Wis maem opor durung?’ (Sudah makan opor belum?). Pertanyaan ini bukan sekadar tentang kenyang atau lapar, tetapi tentang apakah kita sudah saling memaafkan? Opor menjadi pengingat bahwa setelah saling memaafkan, kita bisa duduk bersama, menikmati hidangan dengan hati yang bersih,” jelas Awan.
Proses Memasak: Antara Kesabaran dan Keikhlasan
Memasak opor ayam ala Solo membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Ayam kampung dimasak dengan api kecil hingga empuk dan bumbu meresap. Santan harus diaduk perlahan agar tidak pecah. Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam, namun justru di situlah letak keistimewaannya.
“Proses memasak opor adalah metafora kehidupan. Api kecil melambangkan kesabaran, pengadukan santan melambangkan kehati-hatian, dan hasil akhir yang gurih melambangkan kebahagiaan yang diperoleh dari proses panjang. Ini mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, kita harus sabar dan telaten,” papar Awan.
Opor Ayam dan Lauk Pendampingnya
Di Solo, opor ayam hampir selalu disajikan dengan pendamping setianya: sambal goreng kentang ati, krecek, dan telur pindang. Kombinasi ini menciptakan harmoni rasa yang sempurna—gurih, pedas, manis, dan sedikit asam.
“Setiap lauk memiliki makna. Sambal goreng dengan warnanya yang merah melambangkan semangat. Krecek yang kenyal melambangkan ketahanan. Telur pindang dengan warnanya yang coklat melambangkan kehangatan. Semua bersatu dalam satu piring, seperti keluarga yang bersatu dalam kebersamaan,” tambah Awan.
Opor Ayam di Era Modern
Meski zaman terus berubah, tradisi opor ayam di Solo tetap bertahan. Generasi muda mulai bangga dengan warisan kulinernya. Banyak dari mereka yang aktif belajar memasak opor dari para orang tua, memastikan resep turun-temurun tidak punah.
“Anak muda Solo sekarang kreatif. Mereka membuat konten video memasak opor, membagikan resep di media sosial, bahkan ada yang membuka usaha katering opor ayam. Ini bentuk pelestarian budaya yang positif. Yang penting, esensi dan filosofinya tetap dijaga,” ujar Awan.

