13 Maret 2026

Collaboration Between MSMEs and ‘Super Apps’: Profit or Loss?

WIN Media, Makassar, 20/1/2026 – In the digital era, “super app” platforms like Gojek, Grab, Shopee, and Tokopedia have become an inseparable part of the MSME value chain. From marketing features and logistics to payments, this collaboration promises vast market access and operational ease. However, behind this convenience lies a significant question: does this collaboration bring more profit or actually loss for MSMEs in the long run?

The “Profit” Side: Access and Digital Convenience
For many MSMEs, especially new startups, super apps are the gateway to digitization. Features like in-app promotion, targeted ads, and integrated digital payments offer customer reach impossible to achieve with a physical store alone. “Since joining e-commerce and food delivery platforms, my revenue has increased by an average of 40%. Their logistics system is also very helpful,” said Husen, a digital marketing practitioner in Bekasi.

Data government (2025) shows that MSMEs connected to at least two digital platforms have a 30% higher business survival rate on average during crises. Super apps also offer valuable consumer data analytics for business strategy.

The “Loss” Side: Commissions, Dependence, and ‘Price Wars’
However, behind these benefits lurk several challenges. Commission fees or platform fees, which can reach 15-30%, often erode profit margins, especially for MSMEs with low-value products. Fierce competition within platforms also often triggers a race to the bottom, sacrificing product quality and value.

What most concerns experts is business independence. “There is a high risk of dependence. The MSME’s brand identity can be drowned in the ocean of the platform. Furthermore, algorithm changes can instantly kill a store’s visibility,” explained Harry Yulianto, a digital economics expert from STIE YPUP Makassar. MSMEs also have limited control over the customer data they essentially gather.

Finding the Middle Ground: Smart Collaboration
So, what is the solution? Practitioners recommend a smart collaboration approach. MSMEs should use super apps as a catalyst, not as the sole backbone of their business.

  1. Platform Diversification: Don’t rely on just one app. Utilize several and also build a presence on your own social media.
  2. Build Your Own Digital Assets: Collect customer data and direct them to your own channels (e.g., WhatsApp Business or a simple website) for repeat transactions.
  3. Negotiate and Understand the Rules: Understand commission schemes and strategically utilize subsidy or promotion programs from platforms.
  4. Focus on Differentiation: Don’t get trapped only on price. Highlight the story, quality, and uniqueness of your product to avoid being easily replaceable.

Collaborating with super apps is like a double-edged sword. On one side, it is a powerful tool for surviving and thriving in the digital market. On the other, it can be a trap of dependence that erodes profit and identity. The key lies in the awareness of MSME actors to act as smart partners, not just passive users. With the right strategy, these platforms can be a stepping stone towards sustainable digital independence.


Kolaborasi UMKM dengan Platform ‘Super App’: Untung atau Rugi?

WIN Media, Makassar, 20/1/2026 – Di era digital, platform “super app” seperti Gojek, Grab, Shopee, dan Tokopedia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai nilai UMKM. Dari fitur pemasaran, logistik, hingga pembayaran, kolaborasi ini menjanjikan akses pasar yang luas dan kemudahan operasional. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan besar: apakah kolaborasi ini lebih banyak menguntungkan atau justru merugikan pelaku UMKM dalam jangka panjang?

Sisi “Untung”: Akses dan Kemudahan Digital
Bagi banyak UMKM, terutama yang baru merintis, super app adalah pintu gerbang menuju digitalisasi. Fitur seperti in-app promotion, targeted ads, dan integrasi pembayaran digital menawarkan jangkauan pelanggan yang tak mungkin dicapai dengan toko fisik saja. “Sejak gabung di platform e-commerce dan food delivery, omset saya naik rata-rata 40%. Sistem logistik mereka juga sangat membantu,” ucap Husen, praktisi digital marketing di Bekasi.

Data pemerintah (2025) menunjukkan, UMKM yang terhubung dengan setidaknya dua platform digital rata-rata memiliki kelangsungan usaha 30% lebih tinggi selama krisis. Super app juga menawarkan analitik data konsumen yang berharga untuk strategi bisnis.

Sisi “Rugi”: Komisi, Ketergantungan, dan ‘Perang Harga’
Namun, di balik manfaat tersebut, tersembunyi sejumlah tantangan. Biaya komisi atau platform fee yang bisa mencapai 15-30% seringkali menggerus margin keuntungan, terutama bagi UMKM dengan produk bernilai kecil. Persaingan ketat di dalam platform juga sering memicu race to the bottom atau perang harga, yang mengorbankan kualitas dan nilai produk.

Yang paling dikhawatirkan para ahli adalah kemandirian bisnis. “Ada risiko ketergantungan tinggi. Identitas brand UMKM bisa tenggelam dalam lautan platform. Selain itu, algoritma yang berubah bisa langsung mematikan visibilitas toko,” jelas Harry Yulianto, Pakar Ekonomi Digital dari STIE YPUP Makassar. UMKM juga memiliki kendali terbatas atas data pelanggan yang sebenarnya mereka kumpulkan.

Mencari Titik Tengah: Kolaborasi Cerdas
Lantas, apa solusinya? Para praktisi menyarankan pendekatan smart collaboration. UMKM harus memanfaatkan super app sebagai catalyst atau pemercepat, bukan sebagai satu-satunya tulang punggung bisnis.

  1. Diversifikasi Platform: Jangan bergantung pada satu aplikasi saja. Manfaatkan beberapa dan bangun juga kehadiran di media sosial sendiri.
  2. Bangun Aset Digital Sendiri: Kumpulkan data pelanggan dan arahkan ke saluran sendiri (misalnya, WhatsApp Business atau website sederhana) untuk transaksi berulang.
  3. Negosiasi dan Pahami Aturan: Pahami skema komisi dan manfaatkan program subsidi atau promosi dari platform secara strategis.
  4. Fokus pada Differensiasi: Jangan hanya terjebak pada harga. Tonjolkan cerita, kualitas, dan keunikan produk agar tidak mudah tergantikan.

Kolaborasi dengan super app ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia adalah alat ampuh untuk bertahan hidup dan berkembang di pasar digital. Di sisi lain, ia bisa menjadi jebakan ketergantungan yang mengikis profit dan identitas. Kunci utamanya terletak pada kesadaran pelaku UMKM untuk bertindak sebagai mitra yang cerdas, bukan sekadar pengguna pasif. Dengan strategi yang tepat, platform ini bisa menjadi batu loncatan menuju kemandirian digital yang berkelanjutan.

Related News