13 Maret 2026

Green Bonds for Green MSMEs: Is it Possible?

WIN Media, Makassar, 15/1/2026 – Green bonds have become a leading financing instrument for large-scale environmental projects, such as solar power plants or energy transitions. However, what about Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) committed to sustainable practices? Is it possible for them to access this sophisticated funding mechanism?

This question arose in discussions about expanding Indonesia’s green financing ecosystem. Currently, most green MSMEs still rely on conventional bank loans, personal capital, or CSR programs, which are often limited in amount and tenure.

Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, highlighted the potential of aggregation schemes as a bridge to green bonds. “Independently, the scale of an MSME is certainly too small to issue a bond. But, that impossibility can be overcome with an aggregation or blending model,” he explained to WIN Media.

“A dedicated institution or green fintech could aggregate dozens or even hundreds of environmentally friendly MSME projects—such as solar panel installations, bioreactor systems, or recycling businesses—and then issue a collective green bond. The proceeds from the issuance would then be channeled as affordable loans to selected MSMEs,” Harry elaborated.

Models and Challenges

Some potential models that could be developed include:

  1. Corporate Green Bond with MSME Portfolio: A financing company or cooperative focused on green lending issues a green bond, with a portfolio of loans to green MSMEs as the underlying asset.
  2. Regional SDG/Thematic Bond: Local governments issue SDG-themed bonds to fund circular economy or renewable energy programs, where green MSMEs become the beneficiaries or main actors.
  3. Green Investment Crowdfunding Platform: Developing an equity crowdfunding platform specifically for green businesses, which could later evolve into a portal for more complex instruments like mini-bonds.

However, the path forward is not smooth. Harry reminded of several critical prerequisites: “Credibility is key. The issuer needs to build a rigorous system of verification, reporting, and auditing to ensure funds are truly used for green activities (green proceeds) and their impact is measurable. This requires standardization and transparency, which may still be a challenge for many MSMEs.”

The Future and Recommendations

Beyond the challenges, the momentum is growing stronger. Global pressure for green supply chain transparency and investor interest in social-environmental impact (impact investing) are creating opportunities. “Now is the time to encourage the creation of credible special purpose vehicles or aggregator institutions, supported by adequate regulations from OJK (Financial Services Authority) and the Ministry of Environment. Green MSMEs that wish to prepare should start meticulously documenting their environmental impact and business governance,” concluded Harry.

Thus, green bonds for green MSMEs are no longer just a dream, but a possibility that requires collaboration, financial innovation, and a commitment to clear standards.


Green Bond untuk UMKM Hijau: Mungkinkah?

WIN Media, Makassar, 15/1/2026 – Green Bond atau obligasi hijau telah menjadi instrumen pendanaan andalan untuk proyek-proyek lingkungan berskala besar, seperti pembangkit listrik tenaga surya atau transisi energi. Namun, bagaimana dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berkomitmen pada praktik berkelanjutan? Mungkinkah mereka mengakses mekanisme pendanaan yang canggih ini?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi mengenai perluasan ekosistem pembiayaan hijau di Indonesia. Saat ini, mayoritas UMKM hijau masih bergantung pada pinjaman bank konvensional, modal pribadi, atau program CSR, yang seringkali terbatas jumlah dan jangka waktunya.

Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, menyoroti potensi skema aggregasi sebagai jembatan menuju green bond. “Secara mandiri, skala UMKM tentu terlalu kecil untuk menerbitkan bond. Tetapi, ketidakmungkinan itu bisa ditembus dengan model aggregation atau blending,” jelasnya kepada WIN Media.

“Sebuah lembaga khusus atau fintech hijau bisa mengumpulkan (aggregate) puluhan bahkan ratusan proyek UMKM ramah lingkungan—seperti instalasi panel surya, sistem bioreaktor, atau usaha daur ulang—kemudian menerbitkan green bond secara kolektif. Dana hasil penerbitan itu kemudian disalurkan sebagai pinjaman terjangkau kepada UMKM terpilih,” papar Harry.

Model dan Tantangan

Beberapa model yang bisa dikembangkan antara lain:

  1. Green Bond Korporasi dengan Portofolio UMKM: Perusahaan pembiayaan atau koperasi yang fokus pada pembiayaan hijau menerbitkan green bond, dengan portofolio pinjaman kepada UMKM hijau sebagai underlying asset.
  2. SDG/Thematic Bond Daerah: Pemerintah daerah menerbitkan obligasi bertema SDG untuk mendanai program ekonomi sirkular atau energi terbarukan, dimana UMKM hijau menjadi penerima manfaat atau pelaku utamanya.
  3. Platform Crowdfunding Investasi Hijau: Mengembangkan platform equity crowdfunding yang khusus untuk usaha hijau, yang nantinya dapat berkembang menjadi portal untuk instrumen yang lebih kompleks seperti mini-bond.

Namun, jalan menuju sana tidak mulus. Harry mengingatkan beberapa prasyarat kritis: “Kredibilitas adalah kunci. Penerbit perlu membangun sistem verifikasi, pelaporan, dan audit yang ketat untuk memastikan dana benar-benar digunakan untuk kegiatan hijau (green proceeds) dan dampaknya terukur. Ini membutuhkan standarisasi dan transparansi yang mungkin masih menjadi tantangan bagi banyak UMKM.”

Masa Depan dan Imbauan

Di luar tantangan, momentumnya semakin kuat. Tekanan global untuk transparansi rantai pasok hijau dan minat investor pada dampak sosial-lingkungan (impact investing) membuka peluang. “Ini saatnya mendorong terciptanya special purpose vehicle atau lembaga aggregator yang kredibel, didukung oleh regulasi yang memadai dari OJK dan Kementerian Lingkungan Hidup. UMKM hijau yang ingin bersiap harus mulai mendokumentasikan dampak lingkungan dan tata kelola usahanya dengan rapi,” tutup Harry.

Dengan demikian, green bond untuk UMKM hijau bukan lagi sekadar mimpi, tetapi sebuah kemungkinan yang membutuhkan kolaborasi, inovasi keuangan, dan komitmen pada standar yang jelas.

Related News