WIN Media, Yogyakarta, 1/4/2026 – Higher education is facing a new challenge in the era of artificial intelligence. In recent weeks, AI-based applications claiming to automatically write undergraduate theses or final papers in just minutes have been circulating widely among students. These apps promise convenience for students struggling to complete their academic work, but experts warn they pose a serious threat to academic integrity.
One application currently trending among students relies on a Large Language Model (LLM) to generate thesis chapters, complete with simulated data, literature reviews, and references that appear convincing. Users simply enter a title and a few keywords, and the system produces a ready-to-submit document.
Behind this convenience, however, lies the risk of hidden plagiarism. Kunto Wibisono, a Human Capital Management expert from Yogyakarta, believes this phenomenon is not merely a technical issue but reflects a deeper crisis of character in education.
“Technological convenience should not kill critical thinking. A thesis is not just a graduation requirement; it is proof of a student’s ability to solve problems systematically. If a thesis is written by AI, we are producing graduates who lack research competency,” Kunto said.
According to Kunto, using AI to produce an entire thesis constitutes hidden plagiarism because the ideas, structure, and analysis do not originate from the student’s intellectual effort. He noted that many universities have now upgraded their plagiarism detection tools to identify AI-generated text.
“Some campuses have even begun using software that can estimate the likelihood that a text was created by AI. Students caught doing this could face severe penalties, from cancellation of grades to revocation of degrees later on,” he added.
Kunto also highlighted ethical concerns and long-term impacts. He explained that today’s job market demands adaptable talent with strong analytical skills. Students accustomed to “completing” assignments through AI without genuine learning will struggle to compete professionally.
“I see this as a failure of mentorship. Universities must proactively provide ethical AI literacy. The goal is not to ban technology but to limit its use to supporting the thinking process—not replacing it,” Kunto emphasized.
Several universities, have also issued internal circulars requiring students to declare any use of AI transparently, provided it is used only as a supporting tool and not as the primary content generator.
Bahaya! Beredar Aplikasi AI Pembuat Skripsi Otomatis, Waspadai Plagiarisme Terselubung

WIN Media, Yogyakarta, 1/4/2026 – Dunia pendidikan tinggi kembali dihadapkan pada tantangan baru di era kecerdasan buatan. Dalam beberapa pekan terakhir, marak beredar aplikasi berbasis AI yang mengklaim mampu membuat skripsi atau tugas akhir secara otomatis hanya dalam hitungan menit. Aplikasi-aplikasi ini menjanjikan kemudahan bagi mahasiswa yang kesulitan menyusun karya ilmiah, namun para pakar menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap integritas akademik.
Salah satu aplikasi yang tengah viral di kalangan mahasiswa mengandalkan Large Language Model (LLM) untuk menghasilkan bab per bab skripsi, lengkap dengan data simulasi, tinjauan pustaka, hingga daftar pustaka yang tampak meyakinkan. Pengguna cukup memasukkan judul dan beberapa kata kunci, lalu sistem akan mengeluarkan dokumen utuh yang siap diunggah.
Namun di balik kemudahan itu, ancaman plagiarisme terselubung mengintai. Pakar Human Capital Management asal Yogyakarta, Kunto Wibisono, menilai fenomena ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi telah menyentuh krisis karakter di dunia pendidikan.
“Kemudahan teknologi jangan sampai membunuh proses berpikir kritis. Skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan bukti kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah secara sistematis. Jika skripsi dibuat oleh AI, maka kita sedang mencetak lulusan yang tidak memiliki kompetensi riset,” ujar Kunto.
Menurut Kunto, penggunaan AI untuk menyusun skripsi secara utuh merupakan bentuk plagiarisme terselubung karena gagasan, struktur, dan analisis yang dihasilkan bukan berasal dari kerja intelektual mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa banyak perguruan tinggi kini telah memperbarui perangkat deteksi plagiarisme dengan kemampuan mendeteksi teks hasil AI.
“Beberapa kampus bahkan mulai menggunakan software yang bisa mendeteksi tingkat kemungkinan teks dibuat oleh AI. Mahasiswa yang ketahuan bisa dikenai sanksi berat, mulai dari pembatalan nilai hingga pencabutan gelar di kemudian hari,” tambahnya.
Kunto juga menyoroti sisi etika dan dampak jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini sangat membutuhkan talenta yang adaptif dan mampu berpikir analitis. Mahasiswa yang terbiasa “menyelesaikan” tugas dengan AI tanpa melalui proses belajar akan sulit bersaing di dunia profesional.
“Saya melihat ini sebagai kegagalan pendampingan. Kampus harus proaktif memberikan literasi AI yang etis. Bukan melarang teknologi, tetapi membatasi penggunaannya untuk membantu proses berpikir, bukan menggantikannya,” tegas Kunto.
Beberapa perguruan tinggi juga telah menerbitkan surat edaran internal yang mewajibkan mahasiswa mendeklarasikan penggunaan AI secara transparan jika hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan penghasil konten utama.

