WIN Media, Makassar, 12/1/2026 – Food waste is no longer just an environmental issue, but a business challenge that causes economic losses. Addressing this problem, sustainability entrepreneurs (EcoBizpreneurs) are now beginning to utilize Artificial Intelligence (AI) to create precise, efficient, and scalable solutions.
This innovation comes in various forms, from retail applications and food redistribution platforms to intelligent logistics management systems capable of making accurate predictions.
Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, confirmed this trend. “The year 2026 is an era where AI becomes the operational backbone of sustainable businesses. In the context of food waste, AI not only optimizes the supply chain but also creates new markets by matching surplus and demand in real-time,” he stated in an interview with WIN Media.
He added, “Business models built on AI data are highly attractive to investors. This is no longer about charity, but about resource efficiency that generates profit alongside measurable positive impact.”
Real-World Applications
Several local startups have demonstrated tangible results. For instance, the platform “SisaBisa” uses machine learning algorithms to analyze sales patterns and expiration dates of products in hundreds of small shops and minimarkets. The system provides automatic discount recommendations for products nearing expiration, reducing waste by up to 40%.
On the upstream side, the startup “TaniHub” integrates AI to predict harvest yields and market demand, helping farmers plant according to needs and reduce overproduction that often leads to spoilage.
Meanwhile, in the hospitality industry, several hotels have begun implementing “smart inventory” systems connected to occupancy and event data to predict the amount of food to prepare, minimizing surplus from commercial kitchens.
Challenges and The Future
Despite its great potential, AI adoption requires initial investment in technology and human resources. Harry Yulianto cautioned, “The key is quality and sustainable data. EcoBizpreneurs need to start with simple waste flow mapping before moving towards automation with AI. Collaboration with academics and research institutions is also vital to develop algorithms contextual to Indonesia’s conditions.”
Looking ahead, the integration of AI with the Internet of Things (IoT), such as temperature and weight sensors in bins, is predicted to become more common, creating a truly circular and intelligent food system.
Thus, the fight against food waste is increasingly being won not only by good intentions but by technological innovation built on data and artificial intelligence.
AI untuk Lingkungan: Bagaimana EcoBizpreneur Memanfaatkan Kecerdasan Buatan Kurangi Food Waste?

WIN Media, Makassar, 12/1/2026 – Sampah makanan (food waste) bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan tantangan bisnis yang merugikan secara ekonomi. Berangkat dari masalah ini, para pelaku usaha berkelanjutan (EcoBizpreneur) kini mulai memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan solusi yang presisi, efisien, dan scalable.
Inovasi ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari aplikasi retail, platform redistribusi pangan, hingga sistem manajemen logistik cerdas yang mampu memprediksi dengan akurat.
Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, mengonfirmasi tren ini. “Tahun 2026 adalah era di mana AI menjadi tulang punggung operasional bisnis berkelanjutan. Dalam konteks food waste, AI tidak hanya mengoptimalkan rantai pasok, tetapi juga menciptakan pasar baru dengan mempertemukan surplus dan permintaan secara real-time,” ujarnya saat diwawancarai WIN Media.
Ia menambahkan, “Model bisnis yang dibangun di atas data AI ini sangat menarik bagi investor. Ini bukan lagi tentang charity, tapi tentang efisiensi sumber daya yang menghasilkan profit sekaligus dampak positif terukur.”
Penerapan Nyata di Lapangan
Beberapa startup lokal telah menunjukkan hasil nyata. Misalnya, platform “SisaBisa” menggunakan algoritma machine learning untuk menganalisis pola penjualan dan kadaluarsa produk di ratusan warung dan mini market. Sistem ini memberi rekomendasi diskon otomatis untuk produk yang mendekati tanggal kadaluarsa, mengurangi limbah hingga 40%.
Di sisi hulu, startup “TaniHub” mengintegrasikan AI untuk memprediksi hasil panen dan permintaan pasar, membantu petani menanam sesuai kebutuhan dan mengurangi kelebihan produksi yang sering berakhir busuk.
Sementara itu, di industri hospitality, beberapa hotel mulai menggunakan sistem “smart inventory” yang terhubung dengan data okupansi dan event untuk memprediksi jumlah makanan yang harus disiapkan, meminimalkan surplus dari dapur komersial.
Tantangan dan Masa Depan
Meski potensinya besar, adopsi AI membutuhkan investasi awal dalam teknologi dan sumber daya manusia. Harry Yulianto mengingatkan, “Kunci utamanya adalah data yang berkualitas dan berkelanjutan. EcoBizpreneur perlu memulai dari pemetaan alur waste yang sederhana, kemudian baru beranjak ke otomatisasi dengan AI. Kolaborasi dengan akademisi dan lembaga riset juga vital untuk mengembangkan algoritma yang kontekstual dengan kondisi Indonesia.”
Ke depan, integrasi AI dengan Internet of Things (IoT) seperti sensor suhu dan bobot di tempat sampah diperkirakan akan semakin lazim, menciptakan sistem pangan yang benar-benar sirkular dan cerdas.
Dengan demikian, perang melawan food waste semakin dimenangkan bukan hanya oleh niat baik, tetapi oleh inovasi teknologi yang dibangun atas dasar data dan kecerdasan buatan.

