13 Maret 2026

Building a Strong Supply Chain: The Key to Handling Seasonal Order Surges

WIN Media, Makassar, 12/2/2026 – Seasonal order surges, such as those during religious holidays, school holidays, or national shopping moments, are both a blessing and a severe test for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). On one hand, this momentum opens up opportunities for multiplied revenue. On the other hand, without mature supply chain preparation, a surge in demand can backfire: stocks run out quickly, production stalls, deliveries are delayed, and ultimately, customers are disappointed

Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, emphasizes that the key to facing peak season lies not in the speed of reaction, but in the strength of the foundation. “A strong supply chain is like the circulatory system in a business’s body. When activity surges, this system determines whether the business can ‘run fast’ without ‘fainting’ due to stockouts or logistics bottlenecks. Building it must be done well in advance, not when the crowd has already arrived, ” he told.

Strategies for Building a Resilient Supply Chain for Peak Season

Based on best practices and field research, here are key strategies recommended by Harry Yulianto for MSMEs:

1. Historical Data-Based Planning

The first step is to study the past. Analyzing sales data from 2-3 previous seasonal periods helps MSMEs predict which products will be in highest demand, what volume is needed, and when the surge typically begins. “Don’t rely on intuition alone. Historical data is your compass. With data, you can determine safety stock precisely—not excessively to burden capital, but enough to anticipate stockouts, ” Harry explained.

2. Adopting Adaptive Stock Strategies

Instead of hoarding large quantities of raw materials, MSMEs are now shifting to more agile approaches. An adaptive stock strategy means preparing safety stock only for high-rotation products and making agreements with suppliers for gradual delivery (drop shipment) or smaller but more frequent shipments. This approach prevents the risk of overstock that ties up capital and reduces potential losses if demand doesn’t match predictions

3. Supplier Diversification and Strategic Partnerships

Dependence on a single supplier is a major risk during peak season. Even a minor disruption to a single supplier can paralyze production. Harry advises MSMEs to have at least 2-3 alternative suppliers for key raw materials. “Establish intensive communication with suppliers long before the busy season. Share your demand projections so they can prepare their capacity. This is not just a transactional relationship, but a strategic partnership, ” he added.

4. Technology Integration for Real-Time Visibility

Leveraging digital technology, even simple ones, provides a significant advantage. Smartphone-based stock management applications, online ordering systems, and shipment tracking features allow MSMEs to monitor supply chain conditions in real-time. Case studies show that using stock applications can improve inventory accuracy by up to 95% and reduce reorder time by 30%. With this visibility, MSMEs can take immediate action if potential disruptions arise.

5. Workforce and Operational Flexibility

Demand surges require additional production and distribution capacity. The solution isn’t always hiring permanent employees, but empowering temporary workers for non-core processes like packaging, sorting, and distribution. Flexible production scheduling and measured overtime during peak phases are also key to efficiency.

6. Post-Season Evaluation: The Learning Cycle

After the seasonal wave has passed, the work isn’t over. A comprehensive evaluation needs to be conducted: which products sold out quickly, which promotions were effective, where logistics bottlenecks occurred. “Mistakes and successes this season are the fuel for next season’s success. Document, analyze, and refine your strategies,” Harry concluded.

Ultimately, building a strong supply chain is a long-term investment. MSMEs that can effectively manage seasonal order surges will not only enjoy increased revenue but also build a reputation as reliable and professional businesses in the eyes of customers. In an era where consumer expectations continue to rise, operational resilience is the key differentiator between those who merely follow the current and those who truly accelerate.


Membangun Supply Chain yang Kuat: Kunci Hadapi Lonjakan Pesanan Musiman

WIN Media, Makassar, 12/2/2026 – Lonjakan pesanan musiman, seperti menjelang hari raya, liburan sekolah, atau momen belanja nasional, adalah berkah sekaligus ujian berat bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di satu sisi, momentum ini membuka peluang peningkatan pendapatan hingga berkali-kali lipat. Di sisi lain, tanpa persiapan rantai pasok (supply chain) yang matang, lonjakan permintaan justru bisa menjadi bumerang: stok cepat habis, produksi macet, pengiriman terlambat, dan pada akhirnya mengecewakan pelanggan.

Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, menegaskan bahwa kunci menghadapi musim puncak bukan terletak pada kecepatan reaksi, melainkan pada kekuatan fondasi. “Supply chain yang kuat ibarat sistem peredaran darah dalam tubuh bisnis. Saat terjadi lonjakan aktivitas, sistem inilah yang menentukan apakah bisnis bisa ‘berlari kencang’ tanpa ‘pingsan’ karena kehabisan stok atau tersendat di logistik. Membangunnya harus dilakukan jauh hari, bukan saat keramaian sudah datang, ” ujarnya.

Strategi Membangun Supply Chain Tangguh untuk Peak Season

Berdasarkan praktik terbaik dan riset lapangan, berikut adalah strategi kunci yang direkomendasikan Harry Yulianto bagi UMKM:

1. Perencanaan Berbasis Data Historis

Langkah pertama adalah mempelajari masa lalu. Analisis data penjualan dari 2-3 periode musiman sebelumnya membantu UMKM memprediksi produk apa yang paling diminati, berapa volume yang dibutuhkan, dan kapan lonjakan biasanya mulai terjadi. “Jangan gunakan intuisi semata. Data historis adalah kompas Anda. Dengan data, Anda bisa menentukan safety stock alias stok cadangan secara tepat, tidak berlebihan hingga membebani modal, tetapi cukup untuk mengantisipasi kehabisan barang, ” jelas Harry.

2. Adopsi Strategi Stok Adaptif

Alih-alih menumpuk bahan baku dalam jumlah besar, UMKM kini beralih ke pendekatan yang lebih gesit. Strategi stok adaptif berarti menyiapkan stok cadangan hanya untuk produk dengan rotasi tinggi dan membuat kesepakatan dengan pemasok untuk pengiriman bertahap (drop shipment) atau pengiriman kecil namun lebih sering. Pendekatan ini mencegah risiko overstock yang mengikat modal dan mengurangi risiko kerugian jika permintaan tidak sesuai prediksi.

3. Diversifikasi Pemasok dan Jalin Kemitraan Strategis

Ketergantungan pada satu pemasok adalah risiko besar saat musim padat. Gangguan sekecil apa pun pada pemasok tunggal dapat melumpuhkan produksi. Harry menyarankan UMKM untuk memiliki setidaknya 2-3 pemasok alternatif untuk bahan baku utama. “Jalin komunikasi intensif dengan pemasok jauh sebelum musim ramai. Bagikan proyeksi permintaan Anda agar mereka bisa menyiapkan kapasitas. Ini bukan sekadar hubungan transaksional, tapi kemitraan strategis, ” tambahnya.

4. Integrasi Teknologi untuk Visibilitas Real-Time

Pemanfaatan teknologi digital, bahkan yang sederhana sekalipun, memberikan keunggulan signifikan. Aplikasi manajemen stok berbasis smartphone, sistem pemesanan online, dan fitur pelacakan pengiriman memungkinkan UMKM memantau kondisi rantai pasok secara real-time. Studi kasus menunjukkan, penggunaan aplikasi stok dapat meningkatkan akurasi persediaan hingga 95% dan menurunkan waktu pemesanan ulang hingga 30%. Dengan visibilitas ini, UMKM bisa segera mengambil tindakan jika terjadi potensi gangguan.

5. Fleksibilitas Tenaga Kerja dan Operasional

Lonjakan permintaan membutuhkan tambahan kapasitas produksi dan distribusi. Solusinya bukan selalu merekrut karyawan tetap, tetapi dengan memberdayakan tenaga kerja temporer untuk proses non-inti seperti pengemasan, penyortiran, dan distribusi. Penjadwalan produksi yang fleksibel dan penambahan jam kerja secara terukur pada fase puncak juga menjadi kunci efisiensi.

6. Evaluasi Pasca-Musim: Siklus Pembelajaran

Setelah gelombang musiman berlalu, pekerjaan belum selesai. Evaluasi komprehensif perlu dilakukan: produk apa yang cepat habis, mana promosi yang efektif, di mana titik kemacetan logistik terjadi. “Kesalahan dan keberhasilan di musim ini adalah bahan bakar untuk kesuksesan musim depan. Dokumentasikan, analisis, dan sempurnakan strategi, ” pungkas Harry.

Pada akhirnya, membangun supply chain yang kuat adalah investasi jangka panjang. UMKM yang mampu mengelola lonjakan pesanan musiman dengan baik tidak hanya akan menikmati peningkatan pendapatan, tetapi juga membangun reputasi sebagai bisnis yang andal dan profesional di mata pelanggan. Di era di mana ekspektasi konsumen terus meningkat, ketangguhan operasional adalah pembeda utama antara yang sekadar ikut arus dan yang benar-benar melesat.

Related News