13 Maret 2026

Green Business the MSMEs Way: Environmentally Friendly Businesses That Are Actually More Cost-Effective

WIN Media, Makassar, 13/2/2026 – For a long time, many Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) actors believed that implementing environmentally friendly practices required significant costs and advanced technology. This assumption is beginning to be disproven.

A number of MSMEs in Indonesia have proven that the green business concept is not only good for the planet but also capable of significantly reducing operational costs and opening up new market opportunities.

Harry Yulianto, a Digital Business Expert from STIE YPUP Makassar, emphasizes that efficiency is at the core of the green transformation. “The paradigm that ‘green is expensive’ must change. In fact, green business teaches us to operate more efficiently: reducing waste means reducing raw material purchases, saving energy means lowering electricity bills. In the long run, this is the most effective cost-saving strategy, ” he told WIN Media.

From Waste to Blessing and Critical Land to Productive

This phenomenon is clearly visible in various regions. In Balikpapan, the Berkah Gas Metan (GaMe) MSME Group utilizes methane gas from the Manggar Final Waste Disposal Site (TPAS) to run a snack production business, including tempeh chips, disco peanuts, and baby squid sambal. With a monthly contribution of only Rp10,000 per member, their energy costs are far more economical compared to using LPG gas, which can cost between Rp20,000 and Rp60,000 on the market. This cost difference can be allocated for purchasing raw materials or product development. This initiative not only saves expenses but also contributes to reducing greenhouse gas emissions by up to 100,651.70 tons of CO2 equivalent per year.

Another example comes from Brebes Regency, Central Java. The social enterprise Syailendra Bumi Investama (DDistillers) successfully transformed critical and arid land into a source of livelihood for thousands of farmers by cultivating citronella for essential oil production. With a zero-waste system, they not only revitalize the land but also create added value from every part of the plant. Their turnover jumped from Rp1.2 billion (2020) to Rp4.5 billion (2022), and they are now penetrating export markets to 12 countries, including France and Switzerland.

Practical Green Business Strategies for MSMEs

According to Harry Yulianto, there are several simple steps MSMEs can immediately apply to start a cost-effective green transformation:

  1. Energy Efficiency: Switch to LED lights, maximize natural lighting, and turn off electrical equipment when not in use.
  2. Waste Management: Apply the 3R principle (Reduce, Reuse, Recycle). Production waste, such as food scraps or packaging materials, can be processed into new, saleable products.
  3. Use of Local and Eco-Friendly Raw Materials: Sourcing raw materials from local suppliers reduces the carbon footprint of transportation and is often cheaper by cutting long distribution chains. Choose recyclable or biodegradable packaging.
  4. Operational Digitization: Reduce paper use by switching to digital catalogs, electronic invoices, and social media marketing. It’s cheaper, faster, and environmentally friendly.

More Than Just Cost-Effective: A Competitive Advantage

Harry adds that today’s consumers, especially millennials and Gen Z, are increasingly concerned about sustainability issues. “Green businesses have a powerful story to sell. It’s not just about the product, but about values and contribution. MSMEs that can communicate their environmental commitment will build higher customer trust and loyalty, ultimately increasing their selling power and competitiveness, ” he explained.

Ecosystem support is also increasingly available. The government and financial institutions, such as CIMB Niaga with its GreenBizReady platform, now provide incentives and assistance for MSMEs wanting to undergo a green transformation, including access to financing with competitive interest rates through Sustainability-Linked Loan schemes. Digital platforms like Reduksi also help MSMEs identify energy waste and raw material efficiency through artificial intelligence.

For MSMEs, taking small steps towards environmentally friendly practices is a long-term investment. Operational cost savings, broader market access, and future business resilience are dividends that will continue to flow. Green business is not just a trend but a necessity to grow and survive in the modern economy.


Green Business ala UMKM: Bisnis Ramah Lingkungan yang Justru Lebih Hemat

WIN Media, Makassar, 13/2/2026 – Selama ini, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berpikir bahwa menerapkan praktik ramah lingkungan membutuhkan biaya besar dan teknologi canggih. Anggapan itu mulai terbantahkan.

Sejumlah UMKM di Indonesia justru membuktikan bahwa konsep green business atau bisnis hijau tidak hanya baik untuk planet, tetapi juga mampu menekan biaya operasional secara signifikan dan membuka peluang pasar baru.

Harry Yulianto, Pakar Bisnis Digital dari STIE YPUP Makassar, menegaskan bahwa efisiensi adalah inti dari transformasi hijau. “Paradigma ‘green is expensive’ harus diubah. Justru sebaliknya, green business mengajarkan kita untuk beroperasi lebih efisien: mengurangi limbah berarti mengurangi pembelian bahan baku, menghemat energi berarti memangkas tagihan listrik. Dalam jangka panjang, ini adalah strategi penghematan biaya yang paling efektif, ” ujarnya kepada WIN Media.

Dari Limbah Jadi Berkah dan Lahan Kritis Jadi Produktif

Fenomena ini terlihat nyata di berbagai daerah. Di Balikpapan, Kelompok UMKM Berkah Gas Metan (GaMe) memanfaatkan gas metan dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Manggar untuk menjalankan usaha produksi makanan ringan seperti keripik tempe, kacang disko, hingga sambal baby cumi. Dengan iuran bulanan hanya Rp10.000 per anggota, biaya energi mereka jauh lebih hemat dibandingkan menggunakan gas LPG yang harganya bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp60.000 di pasaran. Selisih biaya ini dapat dialokasikan untuk pembelian bahan baku atau pengembangan produk. Inisiatif ini tidak hanya menghemat pengeluaran, tetapi juga berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 100.651,70 ton CO2 ekuivalen per tahun.

Contoh lain datang dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Social enterprise Syailendra Bumi Investama (DDistillers) berhasil mentransformasi lahan kritis dan tandus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani dengan membudidayakan sereh wangi untuk produksi minyak atsiri. Dengan sistem zero waste, mereka tidak hanya merevitalisasi lahan, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari setiap bagian tanaman. Omzet mereka melonjak dari Rp1,2 miliar (2020) menjadi Rp4,5 miliar (2022), dan kini merambah pasar ekspor ke 12 negara termasuk Prancis dan Swiss.

Strategi Praktis Green Business untuk UMKM

Menurut Harry Yulianto, ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan UMKM untuk memulai transformasi hijau yang hemat biaya:

  1. Efisiensi Energi: Beralih ke lampu LED, memaksimalkan pencahayaan alami, dan mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan.
  2. Manajemen Limbah: Terapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Limbah produksi, seperti sisa makanan atau bahan kemasan, bisa diolah menjadi produk baru yang bernilai jual.
  3. Penggunaan Bahan Baku Lokal dan Ramah Lingkungan: Memasok bahan baku dari pemasok lokal mengurangi jejak karbon transportasi dan seringkali lebih murah karena memotong rantai distribusi panjang. Pilih kemasan yang dapat didaur ulang atau terurai.
  4. Digitalisasi Operasional: Kurangi penggunaan kertas dengan beralih ke katalog digital, faktur elektronik, dan pemasaran media sosial. Ini lebih murah, cepat, dan ramah lingkungan.

Lebih dari Sekadar Hemat: Keunggulan Kompetitif

Harry menambahkan bahwa konsumen saat ini, terutama generasi milenial dan Gen Z, semakin peduli pada isu keberlanjutan. “Bisnis hijau memiliki cerita yang kuat untuk dijual. Ini bukan sekadar produk, tapi tentang nilai dan kontribusi. UMKM yang mampu mengkomunikasikan komitmen lingkungannya akan membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan yang lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual dan daya saing, ” jelasnya.

Dukungan ekosistem juga semakin terbuka. Pemerintah dan lembaga keuangan, seperti CIMB Niaga dengan platform GreenBizReady, kini menyediakan insentif dan pendampingan bagi UMKM yang ingin bertransformasi hijau, termasuk akses ke pembiayaan dengan suku bunga kompetitif melalui skema Sustainability-Linked Loan. Platform digital seperti Reduksi juga membantu UMKM mengidentifikasi pemborosan energi dan efisiensi bahan baku melalui kecerdasan buatan.

Bagi UMKM, memulai langkah kecil menuju praktik ramah lingkungan adalah investasi jangka panjang. Penghematan biaya operasional, akses pasar yang lebih luas, serta ketahanan usaha di masa depan adalah dividen yang akan terus mengalir. Green business bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan untuk tumbuh dan bertahan di era ekonomi modern.

Related News