WIN Media, Sidrap, 8/3/2026 – When most people imagine bread, what comes to mind is dough made from wheat flour that rises, has a soft texture, and is baked in a modern oven. But in Sidenreng Rappang (Sidrap) Regency, South Sulawesi, there is a bread that challenges that definition. Its name is Roti Berre, a traditional bread that actually uses rice as its main ingredient. This uniqueness has made it survive as a culinary heritage across generations in the Land of Nene’ Mallomo.
According to Umar, a culinary observer from Makassar who has long documented traditional cuisines of South Sulawesi, Roti Berre is proof of creativity and local wisdom of the Bugis people in Sidrap in processing natural resources. “Why rice? Because rice is what is abundant in Sidrap. This region is known as one of South Sulawesi’s rice barns. The community not only processes rice into steamed rice but also creates various dishes from it, including bread. This is a form of intelligent local resource optimization,” said Umar.
What Does “Berre” Mean?
The name “Roti Berre” comes from the Bugis language. “Berre” means rice. So literally, Roti Berre means bread made from rice. A simple name that directly describes the main ingredient and identity of this dish.
“The Bugis people are accustomed to naming food based on its main ingredients. This shows their closeness to nature and appreciation for what their land produces. Roti Berre is a perfect example of how language, culture, and cuisine are interconnected,” Umar explained.
Fundamental Differences with Wheat Bread
The most fundamental difference between Roti Berre and ordinary bread lies in the main raw material. Conventional bread uses wheat flour containing gluten—a protein that provides elasticity and structure to the dough. Meanwhile, Roti Berre uses rice flour that does not contain gluten.
“Rice flour has very different characteristics. Without gluten, the dough cannot rise like wheat bread. The texture tends to be denser, softer, and slightly crumbly. This is the hallmark of Roti Berre. It doesn’t try to imitate wheat bread but offers a completely different textural experience,” Umar explained.
The making process is also different. Selected local rice, usually Sidrap’s superior rice varieties, is ground into fine flour. This flour is then mixed with thick coconut milk, sugar, salt, and sometimes eggs. The resulting batter is thinner than ordinary bread dough, similar to traditional cake batter.
Baking Technique: Wood Stove vs Modern Oven
Traditional Roti Berre is baked using a wood stove or brazier. Clay or metal molds are placed over embers, then the batter is poured and cooked until done. This process produces a distinctive smoky aroma and perfect texture—slightly crispy outside, soft inside.
“Baking with a wood stove provides a flavor dimension that cannot be obtained from modern ovens. The smoky aroma that permeates the bread creates a distinctive taste and evokes nostalgia. This is one reason why traditional Roti Berre remains in demand, even though some now use modern ovens,” Umar revealed.
However, as times evolve, many artisans have begun switching to modern ovens for efficiency and production capacity reasons. Nevertheless, tradition keepers still maintain the wood stove method to preserve authentic taste.
Nutritional Value and Health Benefits
Roti Berre has its own health advantages. Being made from rice, this bread is gluten-free, so it is safe for consumption by celiac sufferers or those with gluten intolerance. Additionally, rice has a lower glycemic index compared to wheat flour, making it more friendly for blood sugar levels.
“Roti Berre is an example of a traditional functional food. It not only fills the stomach but also promotes health. The coconut milk used provides healthy fats, while rice provides complex carbohydrates that are digested more slowly, providing long-lasting energy,” Umar explained.
Compared to wheat bread often mixed with various preservatives and softeners, Roti Berre is relatively more natural with minimal additives.
Roti Berre in Bugis Sidrap Tradition
In Bugis Sidrap society, Roti Berre holds a special place. It often appears in various traditional and religious ceremonies. At weddings, Roti Berre is one of the dishes served to guests, symbolizing hope that the newly built household will always be sweet and harmonious.
“Roti Berre is always present at important moments. At thanksgiving ceremonies, circumcisions, or Islamic holiday commemorations, this bread is a mandatory dish. Its presence is not merely to fill stomachs but also as a symbol of prayers and hopes,” added Umar.
Some people also take Roti Berre as provisions when traveling long distances. Its dense texture and long shelf life make it suitable as travel food.
Roti Berre vs Other Traditional Cakes
Although called bread, Roti Berre is actually more similar to traditional cakes in terms of texture and taste. However, its baking technique and serving method distinguish it from steamed cakes like bolu or apam.
“Roti Berre is at the crossroads between bread and cake. It’s baked like bread, but its texture is more like cake. This is what makes it unique and difficult to categorize. Perhaps this is what ‘bread’ means to the Sidrap community—a local interpretation of the bread concept adapted to local ingredients and tastes,” Umar said.
Umar urges the younger generation of Sidrap to be proud and participate in preserving Roti Berre. “Roti Berre is Sidrap’s culinary identity. It proves that local creativity can produce dishes that are no less than modern bread. We must not be prouder of imported bread than our own ancestral heritage. Preserve it, be proud of it, and introduce it to the world,” he concluded.
Mengapa “Berre”? Keunikan Roti Beras Khas Sidrap Yang Berbeda Dari Roti Pada Umumnya

WIN Media, Sidrap, 8/3/2026 – Ketika kebanyakan orang membayangkan roti, yang terbayang adalah adonan berbahan dasar tepung terigu yang mengembang, bertekstur lembut, dan dipanggang dalam oven modern. Namun di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, ada sebuah roti yang menantang definisi tersebut. Namanya Roti Berre, roti tradisional yang justru menggunakan beras sebagai bahan utama. Keunikannya ini telah membuatnya bertahan sebagai warisan kuliner lintas generasi di Bumi Nene’ Mallomo.
Menurut Umar, pengamat kuliner dari Makassar yang telah lama mendokumentasikan kuliner-kuliner tradisional Sulawesi Selatan, Roti Berre adalah bukti kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Bugis Sidrap dalam mengolah sumber daya alam. “Mengapa beras? Karena beras adalah apa yang melimpah di Sidrap. Daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Sulawesi Selatan. Masyarakat tidak hanya mengolah beras menjadi nasi, tetapi juga mengkreasikannya menjadi berbagai hidangan, termasuk roti. Ini adalah bentuk optimalisasi sumber daya lokal yang cerdas,” ujar Umar.
Apa Arti “Berre”?
Nama “Roti Berre” berasal dari bahasa Bugis. “Berre” berarti beras. Jadi, secara harfiah, Roti Berre berarti roti yang terbuat dari beras. Penamaan yang sederhana namun langsung menggambarkan bahan utama dan identitas hidangan ini.
“Orang Bugis terbiasa memberi nama pada makanan berdasarkan bahan utamanya. Ini menunjukkan kedekatan mereka dengan alam dan penghargaan terhadap apa yang dihasilkan oleh tanah mereka. Roti Berre adalah contoh sempurna bagaimana bahasa, budaya, dan kuliner saling terkait,” jelas Umar.
Perbedaan Mendasar dengan Roti Terigu
Perbedaan paling mendasar antara Roti Berre dan roti pada umumnya terletak pada bahan baku utama. Roti konvensional menggunakan tepung terigu yang mengandung gluten—protein yang memberikan elastisitas dan struktur pada adonan. Sementara Roti Berre menggunakan tepung beras yang tidak mengandung gluten.
“Tepung beras memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Tanpa gluten, adonan tidak bisa mengembang seperti roti terigu. Teksturnya cenderung lebih padat, lebih lembut, dan sedikit rapuh. Inilah yang menjadi ciri khas Roti Berre. Ia tidak berusaha meniru roti terigu, tetapi menawarkan pengalaman tekstur yang sama sekali berbeda,” papar Umar.
Proses pembuatannya pun berbeda. Beras lokal pilihan, biasanya beras varietas unggul Sidrap, digiling menjadi tepung halus. Tepung ini kemudian dicampur dengan santan kental, gula, garam, dan terkadang telur. Adonan yang dihasilkan lebih encer dibanding adonan roti pada umumnya, mirip dengan adonan kue tradisional.
Teknik Memanggang: Tungku Kayu vs Oven Modern
Roti Berre tradisional dipanggang dengan menggunakan tungku kayu atau anglo. Cetakan tanah liat atau logam diletakkan di atas bara api, lalu adonan dituang dan dimasak hingga matang. Proses ini menghasilkan aroma asap yang khas dan tekstur yang sempurna—bagian luar sedikit renyah, bagian dalam lembut.
“Pemanggangan dengan tungku kayu memberikan dimensi rasa yang tidak bisa didapatkan dari oven modern. Aroma asap yang meresap ke dalam roti menciptakan cita rasa yang khas dan membangkitkan nostalgia. Ini adalah salah satu alasan mengapa Roti Berre tradisional tetap diminati, meski sekarang sudah ada yang menggunakan oven modern,” ungkap Umar.
Namun, seiring perkembangan zaman, banyak perajin mulai beralih ke oven modern karena alasan efisiensi dan kapasitas produksi. Meski demikian, para penjaga tradisi tetap mempertahankan metode tungku kayu untuk mempertahankan keautentikan rasa.
Nilai Gizi dan Manfaat Kesehatan
Roti Berre memiliki keunggulan tersendiri dari segi kesehatan. Karena terbuat dari beras, roti ini bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi bagi penderita celiac atau mereka yang memiliki intoleransi gluten. Selain itu, beras memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding tepung terigu, sehingga lebih ramah bagi kadar gula darah.
“Roti Berre adalah contoh pangan fungsional tradisional. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan. Santan yang digunakan memberikan lemak sehat, sementara beras memberikan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat, sehingga memberikan energi tahan lama,” jelas Umar.
Dibandingkan dengan roti terigu yang sering dicampur dengan berbagai bahan pengawet dan pelembut, Roti Berre relatif lebih alami dan minim bahan tambahan.
Roti Berre dalam Tradisi Bugis Sidrap
Dalam masyarakat Bugis Sidrap, Roti Berre memiliki tempat istimewa. Ia sering hadir dalam berbagai acara adat dan keagamaan. Pada acara pernikahan, Roti Berre menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk tamu, melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga yang baru dibangun selalu manis dan harmonis.
“Roti Berre selalu hadir dalam momen-momen penting. Pada acara selamatan, khitanan, atau peringatan hari besar Islam, roti ini menjadi hidangan yang wajib ada. Kehadirannya bukan sekadar pengisi perut, tetapi juga simbol doa dan harapan,” tambah Umar.
Beberapa masyarakat juga menjadikan Roti Berre sebagai bekal saat bepergian jauh. Teksturnya yang padat dan tahan lama membuatnya cocok sebagai makanan perjalanan.
Roti Berre vs Kue Tradisional Lainnya
Meski disebut roti, Roti Berre sebenarnya lebih mirip dengan kue tradisional dalam hal tekstur dan rasa. Namun, teknik pemanggangan dan penyajiannya membedakannya dari kue-kue kukus seperti bolu atau apam.
“Roti Berre berada di persimpangan antara roti dan kue. Ia dipanggang seperti roti, tetapi teksturnya lebih mirip kue. Inilah yang membuatnya unik dan sulit dikategorikan. Mungkin ini yang dimaksud dengan ‘roti’ versi masyarakat Sidrap—interpretasi lokal terhadap konsep roti yang disesuaikan dengan bahan dan selera setempat,” ujar Umar.
Umar berpesan agar generasi muda Sidrap bangga dan ikut melestarikan Roti Berre. “Roti Berre adalah identitas kuliner Sidrap. Ia membuktikan bahwa kreativitas lokal mampu menghasilkan hidangan yang tak kalah dengan roti modern. Jangan sampai kita lebih bangga dengan roti impor daripada roti warisan leluhur sendiri. Lestarikan, banggakan, dan perkenalkan ke dunia,” pungkasnya.

