WIN Media, Jakarta, 4/3/2026 – Ahead of Eid al-Fitr 1447 H, the competition in the digital finance industry is heating up. E-wallets and digital banks are vying for public attention with various promotional programs and cashbacks to capture the flow of Holiday Allowance (THR) funds, estimated to reach tens of trillions of rupiah.
Bank Indonesia (BI) recorded that electronic money transactions in March 2026 are predicted to grow by 40 percent compared to regular months. This surge is driven by the public’s increasing familiarity with non-cash transactions, especially among millennials and Gen Z. Major players such as GoPay, OVO, DANA, and LinkAja, as well as digital banks like Jenius, Blu, and Digibank, are launching massive campaigns offering up to 100% cashback, shopping discounts, free credit giveaways, and even “digital THR” programs that deposit funds directly into users’ accounts.
Purnama Dhedhy Styawan, an Economics and Public Policy Expert in Jakarta, views this phenomenon as part of the acceleration of digital finance in Indonesia. “This shows that our digital financial ecosystem is becoming more mature. People have many options to maximize their THR value. However, behind the glittering promos, there is a risk of consumerism that must be watched out for,” he said.
Dhedhy reminds the public to use promos wisely and avoid falling into consumptive debt. He also highlights the importance of digital literacy so that people understand the terms and conditions of each promo, including potential hidden fees. “Don’t let the THR euphoria lead to excessive consumption patterns that harm personal finances,” he added.
With increasingly fierce competition, analysts predict a consolidation in the fintech industry in the coming years. However, the most important thing now is how the public can use this momentum to improve their welfare, not add to their financial burden after Eid.
Fenomena THR Digital: Dompet Elektronik dan Bank Digital Berebut Uang Tunai Masyarakat

WIN Media, Jakarta, 4/3/2026 – Jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, persaingan industri keuangan digital kian memanas. Dompet elektronik (e-wallet) dan bank digital berlomba-lomba menarik perhatian masyarakat dengan berbagai program promo dan cashback untuk merebut aliran dana Tunjangan Hari Raya (THR) yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah.
Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi uang elektronik pada Maret 2026 diprediksi tumbuh 40 persen dibanding bulan biasa. Lonjakan ini didorong oleh kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi non-tunai, terutama generasi milenial dan Gen Z. Para pemain seperti GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja, serta bank digital seperti Jenius, Blu, dan Digibank, menggelar kampanye besar-besaran dengan iming-iming cashback hingga 100 persen, diskon belanja, bagi-bagi saldo, bahkan program “THR digital” yang langsung masuk ke rekening pengguna.
Purnama Dhedhy Styawan, Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik di Jakarta, menilai fenomena ini sebagai bagian dari akselerasi digitalisasi keuangan di Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa ekosistem keuangan digital kita semakin matang. Masyarakat punya banyak pilihan untuk memaksimalkan nilai THR mereka. Namun, di balik gemerlap promo, ada risiko konsumtivisme yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Dhedhy mengingatkan agar masyarakat bijak memanfaatkan promo dan tidak terjebak utang konsumtif. Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital agar masyarakat memahami syarat dan ketentuan setiap promo, termasuk potensi biaya tersembunyi. “Jangan sampai euforia THR justru menjerumuskan pada pola konsumsi berlebihan yang merugikan keuangan pribadi,” tambahnya.
Dengan semakin ketatnya persaingan, para pengamat memperkirakan akan terjadi konsolidasi di industri fintech dalam beberapa tahun ke depan. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan justru menambah beban finansial pasca-Lebaran.

