WIN Media, Yogyakarta, 28/2/2026 – In an era where Artificial Intelligence (AI) is embedded in almost every aspect of digital life, from predictive text to photo editing, a counter-cultural movement is quietly gaining momentum. Throughout early 2026, a growing trend has been observed, particularly among Generation Z and young millennials: the voluntary switch from sophisticated smartphones to basic “dumb phones.”
This phenomenon, often termed “digital detox,” sees young people trading in their devices for phones that can only call and text. But why, at a time when technology is more powerful than ever, are digital natives choosing to disconnect?
Kunto Wibisono, a technology and cybersecurity expert based in Yogyakarta, explains that this movement is a direct response to the overwhelming nature of modern digital life. “We are experiencing a saturation point. The constant connectivity, the endless notifications, and now the integration of AI into every app have created a cognitive burden. For many, the smartphone is no longer a tool of empowerment, but a source of anxiety,” said Kunto.
He adds that AI, while designed to simplify life, often contributes to information overload. Algorithms predict what users want to see, creating a dopamine-driven loop that keeps them glued to the screen. “Ironically, the smarter the phone gets, the more some people feel the need to ‘dumb down’ their interaction with technology to preserve their mental health,” Kunto explained.
The devices of choice are often rugged, minimalist phones from brands like Nokia., or even modified older models. These phones offer limited functionality, which users find liberating. The benefits reported by early adopters include improved focus, better sleep, and more meaningful face-to-face interactions.
However, Kunto Wibisono also warns of a cybersecurity paradox. “While dumb phones reduce the risk of malware and phishing attacks common in app ecosystems, they are not without risk. Basic phones still have vulnerabilities, and because they lack regular security updates, they could be entry points for sophisticated hackers,” he cautioned. He advises that anyone considering a digital detox should also focus on digital hygiene for the devices they keep connected.
The trend signifies a broader societal reflection on our relationship with technology. As Kunto puts it, “This is not about rejecting technology outright. It’s about rejecting the control it has over our time and attention. Young people are reclaiming their autonomy, one basic phone at a time.” In 2026, the “dumb phone” has ironically become a smart choice for a generation seeking sanity in a hyper-connected world.
Fenomena “Digital Detox”: Di tengah Gempuran AI, Mengapa Banyak Anak Muda Kembali ke “Ponsel Jadul”?

WIN Media, Yogyakarta, 28/2/2026 – Di era di mana Kecerdasan Buatan (AI) telah tertanam di hampir setiap aspek kehidupan digital, mulai dari prediksi teks hingga pengeditan foto, sebuah gerakan kontra-budaya diam-diam mulai menguat. Sepanjang awal tahun 2026, tren yang berkembang terlihat, terutama di kalangan Generasi Z dan milenial muda: peralihan secara sukarela dari ponsel pintar canggih ke ponsel “jadul” atau dumb phone.
Fenomena yang sering disebut “detoks digital” ini, membuat anak muda menukar perangkat mereka dengan ponsel yang hanya bisa menelepon dan mengirim SMS. Namun mengapa, di saat teknologi lebih canggih dari sebelumnya, para digital native ini memilih untuk memutuskan koneksi?
Kunto Wibisono, pakar teknologi dan keamanan siber asal Yogyakarta, menjelaskan bahwa gerakan ini adalah respons langsung terhadap sifat kehidupan digital modern yang membebani. “Kita sedang mengalami titik jenuh. Konektivitas yang konstan, notifikasi yang tak ada habisnya, dan kini integrasi AI ke setiap aplikasi telah menciptakan beban kognitif. Bagi banyak orang, ponsel pintar bukan lagi alat untuk memberdayakan diri, tetapi sumber kecemasan,” ujar Kunto.
Ia menambahkan bahwa AI, yang dirancang untuk menyederhanakan hidup, justru sering berkontribusi pada kelebihan informasi. Algoritma memprediksi apa yang ingin dilihat pengguna, menciptakan siklus yang didorong dopamin yang membuat mereka terus terpaku pada layar. “Ironisnya, semakin pintar ponselnya, semakin banyak orang merasa perlu untuk ‘menurunkan level’ interaksi mereka dengan teknologi demi menjaga kesehatan mental,” jelas Kunto.
Ponsel pilihan biasanya adalah perangkat minimalis dan tangguh dari merek seperti Nokia dan Punkt., atau bahkan model lama yang dimodifikasi. Ponsel ini menawarkan fungsionalitas terbatas, yang justru dirasakan membebaskan oleh para penggunanya. Manfaat yang dilaporkan oleh para pengguna awal termasuk peningkatan fokus, tidur lebih nyenyak, dan interaksi tatap muka yang lebih bermakna.
Namun, Kunto Wibisono juga memperingatkan adanya paradoks keamanan siber. “Meskipun ponsel biasa mengurangi risiko malware dan serangan phishing yang umum terjadi di ekosistem aplikasi, bukan berarti mereka tanpa risiko. Ponsel dasar tetap memiliki celah keamanan, dan karena jarang mendapatkan pembaruan keamanan rutin, mereka bisa menjadi titik masuk bagi peretas canggih,” pungkasnya. Ia menyarankan agar siapa pun yang mempertimbangkan detoks digital juga harus fokus pada kebersihan digital untuk perangkat yang tetap mereka gunakan.
Tren ini menandakan refleksi masyarakat yang lebih luas tentang hubungan kita dengan teknologi. Seperti yang dikatakan Kunto, “Ini bukan tentang menolak teknologi secara langsung. Ini tentang menolak kendali yang dimilikinya atas waktu dan perhatian kita. Anak muda merebut kembali otonomi mereka, satu ponsel sederhana pada satu waktu.” Di tahun 2026, “ponsel jadul” justru menjadi pilihan cerdas bagi generasi yang mencari kewarasan di dunia yang hiper-terkoneksi.

