WIN Media, Makassar, 16/1/2026 – As final exams approach, the same scene repeats in various student cities: libraries full until late at night, coffee shops packed with students and scattered books, and social media feeds filled with complaints about all-nighters. The “SKS” or Sistem Kebut Semalam (All-Nighter Cramming System) phenomenon—a study method that compresses all material into just one night before an exam—is apparently still the main staple for many students, despite various studies having proven its ineffectiveness.
Many students admit that they still regularly resort to cramming for most of their courses. Their reasons vary: “assignments pile up throughout the semester,” “I only get in the mood to study when the deadline approaches,” or the belief that “last-minute material is easier to remember during the exam.”
“I know the risks, but it’s hard to avoid. My class schedule is packed plus organizational activities, so I only have free time the night before the exam. I go all out, staying up all night with three cups of coffee,” confessed Fadli (20), an Management student.
However, learning experts firmly state that cramming is a flawed learning strategy. Harry Yulianto, an educator, explained, “From a cognitive perspective, the human brain is designed to store information in long-term memory through the process of spaced repetition. Cramming only moves information to short-term memory, which is quickly lost after the exam. The result is that learning is not meaningful.”
The negative impacts of cramming are not only on academic results, which are often sub-optimal, but also on physical and mental health. Acute sleep deprivation lowers concentration, increases stress and anxiety, and weakens the immune system. In the long run, this habit can contribute to burnout and decreased learning motivation.
So why is this practice so hard to eradicate? Harry Yulianto, an academic counselor, sees the root of the problem in time management and a mistaken perception of studying. “Many students are not taught how to manage a long-term study schedule. Studying is also often seen as a burden to pass exams, not as a process of understanding knowledge. On the other hand, a dense curriculum load is indeed a driving factor,” she said.
Several campuses and schools have begun initiating “Peer Counseling” programs and “Smart Learning Strategy” workshops to address this. The essence is to teach effective study techniques such as spaced repetition, active recall, and the Pomodoro technique, while also building awareness to start studying early.
Another solution lies in evaluation methods from educators. “If the assessment system still focuses on memorization and final exams that carry a large weight, students will tend to take the cramming shortcut. There needs to be a push for process-based, project, or portfolio assessments that require students to study consistently,” added Harry.
In the end, eradicating the cramming habit requires a joint paradigm shift. It is not only the students’ responsibility to be more disciplined, but also educational institutions to create systems and curricula that support sustainable learning, not just a last-minute sprint towards exams.
Fenomena “SKS” (Sistem Kebut Semalam) yang Masih Marak di Kalangan Pelajar

WIN Media, Makassar, 16/1/2026 – Menjelang ujian akhir semester, pemandangan yang sama terulang di berbagai kota pelajar: perpustakaan penuh hingga larut malam, warung kopi dipenuhi mahasiswa dengan buku berserakan, dan status media sosial yang dipenuhi keluhan tentang begadang. Fenomena “SKS” atau Sistem Kebut Semalam—metode belajar dengan memadatkan seluruh materi hanya dalam satu malam sebelum ujian—ternyata masih menjadi andalan utama bagi banyak pelajar dan mahasiswa, meski berbagai riset telah membuktikan ketidakefektifannya.
Banyak mahasiswa yang mengaku masih rutin menerapkan SKS untuk sebagian besar mata kuliah. Alasannya beragam: “tugas menumpuk sepanjang semester”, “baru mood belajar saat deadline sudah dekat”, atau keyakinan bahwa “materi yang dipelajari mendadak lebih mudah diingat saat ujian”
“Saya sadar risikonya, tapi sulit menghindari. Jadwal kuliah padat ditambah organisasi, baru ada waktu kosong ya pas H-1 ujian. Porsinya sampai begadang, ditemani kopi tiga gelas,” aku Fadli (20), mahasiswa jurusan Manajemen.
Namun, para ahli pembelajaran dengan tegas menyatakan bahwa SKS adalah strategi belajar yang keliru. Harry Yulianto, seorang pendidik, menjelaskan, “Dari sisi kognitif, otak manusia dirancang untuk menyimpan informasi dalam memori jangka panjang melalui proses pengulangan berjarak (spaced repetition). SKS hanya memindahkan informasi ke memori jangka pendek, yang akan hilang dengan cepat setelah ujian. Hasilnya, pembelajaran tidak bermakna.”
Dampak buruk SKS tidak hanya pada hasil akademis yang seringkali di bawah optimal, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental. Kurang tidur akut menurunkan konsentrasi, meningkatkan stres dan kecemasan, serta melemahkan sistem imun. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berkontribusi pada burnout dan menurunnya motivasi belajar.
Lalu, mengapa praktik ini begitu sulit dihilangkan? Harry Yulianto, konselor akademik, melihat akar masalahnya pada manajemen waktu dan persepsi yang salah tentang belajar. “Banyak siswa yang tidak diajarkan cara mengatur jadwal belajar jangka panjang. Belajar juga sering dilihat sebagai beban untuk lulus ujian, bukan sebagai proses memahami ilmu. Di sisi lain, beban kurikulum yang padat memang menjadi faktor pendorong,” ujarnya.
Beberapa kampus dan sekolah mulai menginisiasi program “Peer Counseling” dan workshop “Smart Learning Strategy” untuk mengatasi hal ini. Intinya adalah mengajarkan teknik belajar efektif seperti spaced repetition, active recall (mengingat aktif), dan pomodoro technique, sekaligus membangun kesadaran untuk memulai belajar sejak awal.
Solusi lainnya terletak pada evaluasi dari pendidik. “Jika sistem penilaian masih berfokus pada hafalan dan ujian akhir yang menyumbang nilai besar, siswa akan cenderung mengambil jalan pintas SKS. Perlu didorong penilaian berbasis proses, proyek, atau portofolio yang membuat siswa harus konsisten belajar,” tambah Harry
Pada akhirnya, mengikis kebiasaan SKS membutuhkan perubahan paradigma bersama. Bukan hanya tanggung jawab siswa untuk lebih disiplin, tetapi juga institusi pendidikan untuk menciptakan sistem dan kurikulum yang mendukung pembelajaran berkelanjutan, bukan sekadar kejar tayar menuju ujian.

