7 Mei 2026

Tengleng Solo: Culinary Heritage of Goat Bone Dish From The Land of Bengawan

WIN Media, Surakarta, 22/3/2026 – In the city of Solo, known for its philosophy of “Memayu Hayuning Bawana” (beautifying the world), there is a dish that has become a silent witness to the historical journey of its people. Tengkleng, a dish made from goat bones with rich spiced broth, is more than just food. It is a culinary heritage born from the creativity and survival resilience of the “little people” during the colonial era, and has now transformed into a culinary icon that proudly represents the Land of Bengawan.

According to Awan Susanto, a culinary observer from Surakarta, tengkleng holds deep meaning about the historical journey and life philosophy of the local community. “Tengkleng is an edible mirror of history. Every bone you bite, every marrow you suck, reminds us of our ancestors’ struggle to survive in difficult times. This dish teaches us that from limitations, extraordinary creativity is born,” said Awan.

The Dark History Behind Tengkleng’s Deliciousness

Tengkleng was born during the Japanese colonial occupation, when the people of Solo lived in misery and food shortages. At that time, goat meat was only enjoyed by nobles and the Dutch, while ordinary people only received waste in the form of bones and offal.

“They didn’t lose their ingenuity. Goat bones and offal were processed with different spices. The recipes weren’t difficult to find, as they were available in traditional markets. Generally, the ingredients included coconut, ginger, turmeric, lemongrass, fresh lime leaves, galangal, cinnamon, bay leaves, dried cloves, garlic, shallots, salt, candlenuts, nutmeg, and soy sauce,” Awan explained, citing historical records.

The name “tengkleng” itself is believed to originate from the sound when people in the past ate using plates made of gebreng (tinplate). When used for eating, the plates would make a “kleng-kleng-kleng” sound.

Deep Philosophy in a Bowl of Tengkleng

Tengkleng is not just about taste, but also rich in philosophical values. The way of enjoying tengkleng by sucking marrow from the bones teaches about life resilience. “This bone marrow is slowly sucked, meaning it is enjoyed gradually to find the essence of its deliciousness. It teaches us not to easily succumb to life’s sufferings,” Awan explained.

Furthermore, tengkleng also contains ancestral messages about appreciating sustenance. “The diversity of food originated from the creativity of Javanese people triggered by ancestral advice: Don’t throw away rice. It is an effort to honor Dewi Sri (the rice goddess). Not just about selecting leftover meat, but also not wasting ingredients given by God even in the form of bones and offal,” Awan elaborated.

The Making Process: Harmony of Nusantara Spices

The secret of tengkleng’s deliciousness lies in the rich blend of spices and patient cooking technique. Goat bones are boiled for a long time over low heat until tender and the spices are perfectly absorbed. The ground spices consisting of shallots, garlic, turmeric, ginger, coriander, and candlenuts are sautéed with lemongrass, bay leaves, and galangal until fragrant.

“Cooking over low heat is a metaphor for life. To achieve good results, we must be patient and diligent. Nothing is instant in life, just like tengkleng that’s cooked for hours until the broth becomes rich in flavor,” Awan added.

Tengkleng as a Symbol of Togetherness

In Solo society, tengkleng is often served at special occasions such as weddings, holidays, or family gatherings. This dish connects generations, carrying stories and traditions passed down through time.

“In every spoonful of tengkleng, there is a warm feeling reflecting the family values of Solo’s people. More than just food, tengkleng teaches the importance of appreciating diversity, upholding cooperation, and fostering togetherness,” Awan concluded.


Tengleng Solo: Warisan Kuliner Hidangan Tulang Kambing Dari Bumi Bengawan

WIN Media, Surakarta, 22/3/2026 – Di kota Solo yang dikenal dengan filosofi “Memayu Hayuning Bawana”, terdapat sebuah hidangan yang telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah masyarakatnya. Tengkleng, hidangan berbahan dasar tulang kambing dengan kuah rempah yang kaya, bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan kuliner yang lahir dari kreativitas dan ketahanan hidup “wong cilik” di masa penjajahan, dan kini telah bertransformasi menjadi ikon kuliner yang membanggakan Bumi Bengawan.

Menurut Awan Susanto, pemerhati kuliner dari Surakarta, tengkleng menyimpan makna mendalam tentang perjalanan sejarah dan filosofi hidup masyarakat setempat. “Tengkleng adalah cermin sejarah yang bisa dimakan. Setiap tulang yang digigit, setiap sumsum yang disedot, mengingatkan kita pada perjuangan leluhur dalam bertahan hidup di masa sulit. Hidangan ini mengajarkan bahwa dari keterbatasan, lahir kreativitas luar biasa,” ujar Awan.

Sejarah Kelam di Balik Kelezatan Tengkleng

Tengkleng lahir dari masa penjajahan Jepang, ketika rakyat Solo hidup dalam kesengsaraan dan kekurangan bahan pangan. Saat itu, daging kambing hanya dinikmati oleh para bangsawan dan orang Belanda, sementara rakyat biasa hanya mendapatkan limbah berupa tulang dan jeroan.

“Mereka tak kehilangan akal. Tulang dan jeroan kambing diolah dengan bumbu yang berbeda. Resepnya juga tidak terlampau sulit dicari alias tersedia di pasar tradisional. Secara umum daftar resepnya adalah kelapa, jahe, kunyit, serai, daun jeruk segar, lengkuas, kayu manis, daun salam, cengkeh kering, bawang putih, bawang merah, garam dapur, kemiri, pala, dan kecap,” jelas Awan mengutip catatan sejarah.

Nama “tengkleng” sendiri konon berasal dari bunyi ketika orang-orang zaman dulu makan menggunakan piring dari gebreng atau bahan semacam seng. Saat digunakan untuk makan, piring itu berbunyi “kleng-kleng-kleng”.

Filosofi Mendalam di Semangkuk Tengkleng

Tengkleng bukan hanya soal rasa, tetapi juga sarat nilai filosofis. Cara menikmati tengkleng dengan menyedot sumsum dari dalam tulang mengajarkan tentang ketahanan hidup. “Sumsum tulang ini biasanya disesepi, yang berarti dihisap secara perlahan agar menemukan letak kenikmatannya. Ini mengajarkan kita untuk tidak mudah takluk oleh penderitaan hidup,” jelas Awan.

Lebih dari itu, tengkleng juga mengandung pesan leluhur tentang menghargai rezeki. “Keragaman makanan itu bermula dari kreativitas orang Jawa yang dipicu welingan (nasihat) leluhur: Jangan membuang nasi. Itu adalah upaya menghormati Dewi Sri. Tak hanya soal pemilihan sisa daging kambing, takaran santan dan bumbu, namun juga tidak menyia-nyiakan bahan pemberian Gusti Allah sekalipun berwujud tulang dan jeroan,” papar Awan.

Proses Pembuatan: Harmoni Rempah Nusantara

Rahasia kelezatan tengkleng terletak pada perpaduan rempah yang kaya dan teknik memasak yang sabar. Tulang kambing direbus lama dengan api kecil hingga empuk dan bumbu meresap sempurna. Bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, ketumbar, dan kemiri ditumis bersama serai, daun salam, serta lengkuas hingga harum.

“Proses memasak dengan api kecil ini adalah metafora kehidupan. Untuk mencapai hasil yang baik, kita harus sabar dan telaten. Tidak ada yang instan dalam hidup, seperti halnya tengkleng yang dimasak berjam-jam hingga kuahnya kaya rasa,” tambah Awan.

Tengkleng sebagai Simbol Kebersamaan

Dalam masyarakat Solo, tengkleng sering disajikan dalam acara-acara khusus seperti pernikahan, hari raya, atau pertemuan keluarga. Hidangan ini menghubungkan generasi, membawa cerita, dan tradisi yang diwariskan dari masa ke masa.

“Dalam setiap suapan tengkleng, tersimpan rasa hangat yang mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan masyarakat Solo. Lebih dari sekadar makanan, tengkleng mengajarkan pentingnya menghargai keberagaman, menjunjung kerja sama, dan memupuk kebersamaan,” pungkas Awan.

Related News