WIN Media, Makassar, 6/3/2026 – Generation Alpha, children born after 2010, are now filling elementary and middle school classrooms. However, a recent study has revealed a disturbing fact: they have a much higher boredom level in class compared to previous generations. Is this a sign that conventional teaching methods are becoming obsolete?
Research Twenge et al. (2025) found that the average attention span of Gen Alpha children for conventional lesson material ranges from only 4 to 6 minutes, a significant decrease compared to millennials who averaged 12 minutes at the same age. The study, titled “Declining Attention Spans in the Digital Native Era: Implications for Pedagogy,” involved 2,500 participants aged 6-12 years in the United States.
In Indonesia, a similar phenomenon is being felt. Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, asserts that these findings align with conditions on the ground.
“Gen Alpha children grew up with algorithms. They are accustomed to short, fast-paced content that changes every second on TikTok or Reels. When they enter a classroom with a 45-minute lecture method, their brains are already programmed to seek new stimulation. Consequently, boredom is inevitable,” explained Harry.
He added that teachers can no longer just be deliverers of material. “Teachers must transform into facilitators who can incorporate interactive elements, gamification, and micro-learning into every session.”
In agreement with Harry, Ahmad Arfah, a teacher at MAN 1 Makassar who deals with Gen Alpha students daily, acknowledges that this challenge is real.
“I experience it myself. In early 2026, students find it increasingly difficult to focus if only conventional methods are used. They get restless quickly, play with their phones under the desk, or chat among themselves. I’ve been forced to change my teaching style, for example by incorporating quick quizzes every 10 minutes or using short videos to spark discussion,” revealed Arfah.
According to him, the key is variety. “Teachers must be able to ‘read’ the class. If you start to see signs of boredom, immediately switch activities. It’s exhausting, but it has to be done.”
The study by Twenge et al. (2025) recommends a “spaced learning” approach where material is broken down into several short segments interspersed with physical activity breaks. This method has been shown to improve memory retention in children with short attention spans.
This phenomenon serves as a stark warning for the education world. In an era where information is presented in bite-sized formats, rigid and monotonous teaching methods are not just uninteresting, but ineffective. Teachers are required to adapt, or risk being left behind by the very generation they are meant to educate.
Studi Terbaru: Anak Gen Alpha Lebih Cepat Bosan di Kelas, Guru Wajib Ubah Metode Mengajar?

WIN Media, Makassar, 6/3/2026 – Generasi Alpha, anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, kini memenuhi bangku sekolah dasar dan menengah. Namun, sebuah studi terbaru mengungkap fakta yang meresahkan: mereka memiliki tingkat kebosanan yang jauh lebih tinggi di kelas dibandingkan generasi sebelumnya. Apakah ini tanda bahwa metode pengajaran konvensional sudah usang?
Penelitian Twenge et al. (2025) menemukan bahwa rentang perhatian rata-rata anak Gen Alpha terhadap materi pelajaran konvensional hanya berkisar antara 4 hingga 6 menit, menurun signifikan dibandingkan generasi milenial yang mencapai 12 menit pada usia yang sama. Studi berjudul “Declining Attention Spans in the Digital Native Era: Implications for Pedagogy” ini melibatkan 2.500 partisipan anak usia 6-12 tahun di Amerika Serikat.
Di Indonesia, fenomena serupa juga terasa. Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, menegaskan bahwa temuan ini sejalan dengan kondisi di lapangan.
“Anak Gen Alpha tumbuh bersama algoritma. Mereka terbiasa dengan konten pendek, cepat, dan berganti setiap detik di TikTok atau Reels. Ketika masuk ke kelas dengan metode ceramah 45 menit, otak mereka sudah terprogram untuk mencari stimulasi baru. Akibatnya, bosan adalah keniscayaan,” jelas Harry.
Ia menambahkan, guru tidak bisa lagi sekadar menjadi penyampai materi. “Guru wajib bertransformasi menjadi fasilitator yang mampu menyisipkan elemen interaktif, gamifikasi, dan micro-learning dalam setiap sesi.”
Senada dengan Harry, Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar yang sehari-hari berhadapan dengan siswa Gen Alpha, mengakui tantangan ini nyata.
“Saya merasakan sendiri, di awal tahun 2026 ini, siswa semakin sulit diajak fokus jika hanya menggunakan metode konvensional. Mereka cepat gelisah, main hp di bawah meja, atau ngobrol sendiri. Saya terpaksa mengubah gaya mengajar, misalnya dengan kuis cepat setiap 10 menit atau menggunakan video pendek sebagai pemantik diskusi,” ungkap Arfah.
Menurutnya, kunci utama adalah variasi. “Guru harus bisa ‘membaca’ kelas. Jika mulai terlihat tanda-tanda bosan, segera ganti aktivitas. Ini melelahkan, tapi mau tidak mau harus dilakukan.”
Studi Twenge et al. (2025) merekomendasikan pendekatan “spaced learning” di mana materi dipecah menjadi beberapa segmen pendek yang diselingi jeda aktivitas fisik. Metode ini terbukti meningkatkan retensi memori pada anak dengan rentang perhatian pendek.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan. Di era di mana informasi tersaji dalam bentuk bite-sized, metode mengajar yang kaku dan monoton bukan lagi sekadar tidak menarik, melainkan tidak efektif. Guru dituntut untuk beradaptasi, atau risiko ditinggalkan oleh generasi masa depannya sendiri.

