WIN Media, Makassar, 3/3/2026 – The month of Ramadan is not only a spiritual moment for Muslims but also a lucrative goldmine for content creators. Every year, during the fasting month, there is a significant surge in digital content consumption. Data shows that the time Indonesians spend on social media increases by up to 30 percent during Ramadan, as people tend to spend more time at home while waiting for iftar (breaking the fast).
Harry Yulianto, a digital business expert from STIE YPUP Makassar, revealed that Ramadan is the “harvest season” for content creators. “Engagement rates during Ramadan can spike two to three times higher. Ads also become more expensive because many brands are competing to run advertisements. This is a golden moment not to be missed,” he told.
Here are four monetization strategies for fasting-themed content recommended to help content creators maximize their earnings during Ramadan:
1. Utilize Platform Monetization Features
Harry explains that every social media platform has monetization features that can be utilized. “YouTube has AdSense, TikTok has the Creator Fund, Facebook has In-Stream Ads. Viral Ramadan-themed content will generate passive income from ads shown on our videos,” he explained.
He advises content creators to consistently upload content throughout the 30 days of Ramadan. “Platform algorithms favor consistency. The more often you upload, the greater the chance your videos will appear on the FYP or be recommended. Create daily content such as iftar recipes, sahur tips, or short religious studies,” Harry added.
To maximize income, creators need to pay attention to video duration. “On YouTube, videos of at least 8 minutes can display more ads. But make sure the content remains high-quality, don’t force it,” he advised.
2. Collaborate with Brands (Endorsements)
Ramadan is when brands compete to increase sales. “Food and beverage brands, Muslim fashion, and Islamic banking all have large marketing budgets during Ramadan. This is an opportunity for content creators to secure endorsements,” Harry revealed.
He recommends creators create an attractive media kit and offer it to potential brands. “Show engagement rate data, audience demographics, and examples of previous content. Brands want to know what benefits they’ll get from collaborating with us,” he explained.
Harry also suggests creators proactively contact brands. “Don’t just wait for offers. Research which brands match your content niche, then send collaboration proposals. Ramadan is the best time for pitching,” he emphasized.
3. Sell Digital or Physical Products
Content creators can leverage their popularity to sell products. “Create Ramadan recipe e-books, online cooking classes, or special Ramadan merchandise like t-shirts and mugs. Audiences who already trust us will be more likely to buy products we offer,” Harry explained.
He gave an example where culinary creators could sell packaged spices or frozen food under their own brand. “Utilize Shopee, Tokopedia, or TikTok Shop features for direct selling. Integrate them with the content you create. For example, in recipe videos, include purchase links for the ingredients,” he added.
Harry emphasizes the importance of building audience trust. “Never sell low-quality products. Reputation is everything for content creators. Disappointing your audience just once can destroy years of built-up trust,” he reminded.
4. Live Shopping and Direct Interaction
Live shopping features on TikTok and Instagram are currently trending. “During Ramadan, many people spend their evenings after Tarawih prayers scrolling through social media. This is the perfect time for live shopping. Offer products at special Ramadan prices, give discounts, and interact directly with viewers,” said Harry.
He advises creators to prepare for live shopping thoroughly. “Prepare the products to be sold, determine promotional prices, and practice attractive presentation techniques. Engage viewers with quizzes or giveaways. The more exciting the live session, the more people will stay watching, and the greater the sales potential,” he explained.
Harry also recommends collaborating with fellow creators during live shopping. “You can tag each other’s audiences, expanding your reach. This is a powerful strategy to increase exposure and sales,” he added.
Harry Yulianto reminds that the key to successful monetization is consistency and authenticity. “Don’t just chase money while neglecting content quality. Audiences can sense if you’re not sincere. Create content that is useful, entertaining, and aligned with Ramadan values. The money will follow naturally,” he advised.
He also suggests creators continuously learn and follow trends. “Social media changes rapidly. What’s viral today may not be viral tomorrow. Keep monitoring algorithm developments and new features. Attend webinars or training to improve your skills,” Harry concluded.
Ramadan Menjadi Ladang Cuan Konten Kreator: Strategi Monetisasi Konten Bertema Puasa di Media Sosial

WIN Media, Makassar, 3/3/2026 – Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Muslim, tetapi juga ladang cuan yang menggiurkan bagi para konten kreator. Setiap tahun, selama bulan puasa, terjadi lonjakan signifikan dalam konsumsi konten digital. Data menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia di media sosial meningkat hingga 30 persen selama Ramadan, karena orang cenderung lebih banyak bersantai di rumah sambil menunggu waktu berbuka.
Harry Yulianto, pakar bisnis digital dari STIE YPUP Makassar, mengungkapkan bahwa Ramadan adalah “musim panen” bagi konten kreator. “Engagement rate selama Ramadan bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat. Iklan juga lebih mahal karena banyak brand berlomba-lomba memasang iklan. Ini adalah momen emas yang sayang untuk dilewatkan,” ujarnya.
Berikut empat strategi monetisasi konten bertema puasa yang direkomendasikan agar konten kreator bisa memaksimalkan cuan selama Ramadan:
1. Manfaatkan Fitur Monetisasi Platform
Harry menjelaskan bahwa setiap platform media sosial memiliki fitur monetisasi yang bisa dimanfaatkan. “YouTube punya AdSense, TikTok punya Creator Fund, Facebook punya In-Stream Ads. Konten bertema Ramadan yang viral akan menghasilkan pendapatan pasif dari iklan yang tayang di video kita,” jelasnya.
Ia menyarankan konten kreator untuk konsisten mengunggah konten selama 30 hari Ramadan. “Algoritma platform menyukai konsistensi. Semakin sering upload, semakin besar peluang video masuk FYP atau direkomendasikan. Buat konten harian seperti resep buka puasa, tips sahur, atau kajian singkat,” tambah Harry.
Untuk memaksimalkan pendapatan, kreator perlu memperhatikan durasi video. “Di YouTube, video minimal 8 menit bisa menampilkan lebih banyak iklan. Tapi pastikan kontennya tetap berkualitas, jangan dipaksakan,” sarannya.
2. Kolaborasi dengan Brand (Endorsement)
Ramadan adalah saat di mana brand berlomba-lomba meningkatkan penjualan. “Brand makanan, minuman, fesyen muslim, hingga perbankan syariah memiliki anggaran marketing besar selama Ramadan. Ini peluang bagi konten kreator untuk mendapatkan endorse,” ungkap Harry.
Ia merekomendasikan kreator untuk membuat media kit yang menarik dan menawarkannya kepada brand potensial. “Tunjukkan data engagement rate, demografi audiens, dan contoh konten sebelumnya. Brand ingin tahu apa benefit yang mereka dapatkan jika bekerja sama dengan kita,” paparnya.
Harry juga menyarankan kreator untuk proaktif menghubungi brand. “Jangan hanya menunggu tawaran. Riset brand apa yang cocok dengan niche konten kita, lalu kirim proposal kolaborasi. Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan pitching,” tegasnya.
3. Jual Produk Digital atau Fisik
Konten kreator bisa memanfaatkan popularitasnya untuk menjual produk. “Buat e-book resep masakan Ramadan, kelas online masak bersama, atau merchandise khusus Ramadan seperti kaos dan mug. Audiens yang sudah percaya pada kita akan lebih mudah membeli produk yang kita tawarkan,” jelas Harry.
Ia mencontohkan kreator kuliner bisa menjual bumbu masak kemasan atau frozen food dengan brand pribadi. “Manfaatkan fitur Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop untuk berjualan langsung. Integrasikan dengan konten yang kita buat. Misalnya, di video resep, sertakan link pembelian bahan-bahannya,” tambahnya.
Harry menekankan pentingnya membangun kepercayaan audiens. “Jangan pernah menjual produk yang tidak berkualitas. Reputasi adalah segalanya bagi konten kreator. Satu kali mengecewakan audiens, bisa hancur kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun,” ingatnya.
4. Live Shopping dan Interaksi Langsung
Fitur live shopping di TikTok dan Instagram sedang naik daun. “Selama Ramadan, banyak orang menghabiskan waktu malam setelah Tarawih untuk scroll media sosial. Ini waktu tepat untuk live shopping. Tawarkan produk dengan harga spesial Ramadan, beri diskon, dan interaksi langsung dengan penonton,” ujar Harry.
Ia menyarankan kreator untuk mempersiapkan live shopping dengan matang. “Siapkan produk yang akan dijual, tentukan harga promo, dan latih cara presentasi yang menarik. Libatkan penonton dengan kuis berhadiah atau give away. Semakin seru live-nya, semakin banyak yang bertahan menonton, dan semakin besar potensi penjualan,” jelasnya.
Harry juga merekomendasikan kolaborasi dengan sesama kreator saat live shopping. “Bisa saling tag audiens, sehingga jangkauan lebih luas. Ini strategi ampuh untuk meningkatkan exposure dan penjualan,” tambahnya.
Harry Yulianto mengingatkan bahwa kunci sukses monetisasi adalah konsistensi dan autentisitas. “Jangan hanya mengejar uang, tapi abaikan kualitas konten. Audiens bisa merasakan jika kita tidak tulus. Buat konten yang bermanfaat, menghibur, dan sesuai dengan nilai-nilai Ramadan. Uang akan mengikuti dengan sendirinya,” pesannya.
Ia juga menyarankan kreator untuk terus belajar dan mengikuti tren. “Media sosial berubah cepat. Apa yang viral hari ini, belum tentu viral besok. Pantau terus perkembangan algoritma dan fitur baru. Ikuti webinar atau pelatihan untuk meningkatkan skill,” tutup Harry.

