13 Maret 2026

Metaverse Enters the Classroom? Implementing Virtual Reality Labs in Higher Education, Is It Urgent?

WIN Media, Makassar, 11/3/2026 – The metaverse concept that went viral a few years ago is now beginning to find its tangible form in higher education. Several universities in Indonesia have started competing to build Virtual Reality (VR) laboratories as learning tools. However, amidst budget constraints and infrastructure gaps, a fundamental question arises: how urgent is this technology to be implemented on campus?

Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, offers his perspective on this phenomenon. According to him, VR does offer a significant leap in learning methods, but not all campuses need to rush into adopting it.

“The main question isn’t ‘can we or can’t we’, but ‘do we need it or not’. VR is urgent if it’s truly needed to simulate things that are impossible to do in the real world. For example, in medicine, aviation engineering, or archaeology,” said Harry.

Harry explains that for departments like elementary school teacher education or management, VR investment might not be as high a priority as developing digital libraries or enhancing lecturer capacity. He warns campuses against falling into the trap of technological prestige without considering academic urgency.

“Don’t let campuses buy expensive VR equipment just to show off in brochures, only to have no curriculum that actually utilizes it. That’s called waste,” asserted the STIE YPUP Makassar lecturer.

Nevertheless, Harry acknowledges that in the era of Industry 4.0 and Society 5.0, skills in using immersive technology will become increasingly needed. Graduates familiar with VR will have higher selling points in the job market, especially in technology, healthcare, and advanced manufacturing sectors.

“VR creates immersive learning experiences. Students don’t just read or listen, but can ‘feel’ the situations they are studying directly. This increases memory retention by up to 80% compared to conventional methods,” he explained.

However, Harry Yulianto emphasizes that VR adoption must be done gradually and systematically. He recommends several steps for universities wishing to start implementing VR:

  • Conduct a Needs Analysis: Ensure there are courses that genuinely require VR simulation.
  • Build Basic Infrastructure: Fast internet connection and stable electricity are absolute prerequisites.
  • Prepare Human Resources: Lecturers must be trained first before facilitating students.
  • Inter-Campus Collaboration: For campuses with limited budgets, they can collaborate to share VR resources.

“VR is the future of education, but we shouldn’t rush. What matters most is how this technology truly improves graduate quality, not just becoming a campus showpiece,” concluded Harry Yulianto.


Metaverse Masuk Kelas? Penerapan Lab Virtual Reality di Perguruan Tinggi, Apa Mendesak?

WIN Media, Makassar, 11/3/2026 – Konsep metaverse yang sempat heboh beberapa tahun lalu kini mulai menemukan wujud nyatanya di dunia pendidikan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai berlomba-lomba membangun laboratorium Virtual Reality (VR) sebagai sarana pembelajaran. Namun, di tengah keterbatasan anggaran dan kesenjangan infrastruktur, pertanyaan mendasar muncul: seberapa mendesak sebenarnya teknologi ini diterapkan di kampus?

Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Menurutnya, VR memang menawarkan lompatan besar dalam metode pembelajaran, tapi tidak semua kampus perlu terburu-buru mengadopsinya.

“Pertanyaan utamanya bukan ‘bisa atau tidak’, tapi ‘perlu atau tidak’. VR itu mendesak jika memang dibutuhkan untuk mensimulasikan hal yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Misalnya untuk kedokteran, teknik penerbangan, atau arkeologi,” ujar Harry.

Harry menjelaskan bahwa bagi jurusan seperti pendidikan guru sekolah dasar atau manajemen, investasi VR mungkin tidak seprioritas pengembangan perpustakaan digital atau peningkatan kapasitas dosen. Ia mengingatkan agar kampus tidak terjebak dalam gengsi teknologi tanpa mempertimbangkan urgensi akademik.

“Jangan sampai kampus membeli perangkat VR mahal hanya untuk pamer di brosur, tapi setelah itu tidak ada kurikulum yang memanfaatkannya. Itu pemborosan namanya,” tegas dosen STIE YPUP Makassar tersebut.

Meski demikian, Harry mengakui bahwa di era industri 4.0 dan society 5.0, keterampilan menggunakan teknologi imersif akan semakin dibutuhkan. Lulusan yang terbiasa dengan VR akan memiliki nilai jual lebih di dunia kerja, terutama di bidang teknologi, kesehatan, dan manufaktur canggih.

“VR menciptakan pengalaman belajar yang mendalam (immersive learning). Mahasiswa tidak hanya membaca atau mendengar, tapi bisa ‘merasakan’ langsung situasi yang dipelajari. Ini meningkatkan retensi memori hingga 80% dibanding metode konvensional,” jelasnya.

Namun, Harry Yulianto menekankan bahwa adopsi VR harus dilakukan secara bertahap dan terencana. Ia merekomendasikan beberapa langkah bagi perguruan tinggi yang ingin mulai menerapkan VR:

  • Lakukan Analisis Kebutuhan: Pastikan ada mata kuliah yang benar-benar membutuhkan simulasi VR.
  • Bangun Infrastruktur Dasar: Jaringan internet cepat dan listrik stabil adalah prasyarat mutlak.
  • Siapkan SDM: Dosen harus dilatih terlebih dahulu sebelum memfasilitasi mahasiswa.
  • Kolaborasi Antar Kampus: Bagi kampus dengan anggaran terbatas, bisa bekerja sama berbagi sumber daya VR.

“VR itu masa depan pendidikan, tapi jangan sampai kita tergesa-gesa. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi ini benar-benar meningkatkan kualitas lulusan, bukan sekadar jadi pajangan kampus,” pungkas Harry Yulianto.

Related News