13 Maret 2026

Government Optimistically Targets 5.6% Economic Growth in Q1 Thanks to Ramadan 2026 Boost

WIN Media, Jakarta, 20/2/2026 – The government, through the Ministry of Finance, is targeting Indonesia’s economic growth in the first quarter of 2026 to reach 5.6 percent.

This optimism is driven by a significant increase in public consumption during the month of Ramadan 1447 H, which falls from mid-February to March 2026.

Purnama Dhedhy Styawan, an Economist and Public Policy Expert in Jakarta, considers this target quite realistic but still requires vigilance. “Ramadan is always the locomotive for first-quarter growth due to increased household consumption, especially for food, beverages, clothing, and homecoming transportation. However, we must ensure that the purchasing power of the lower-middle class is not eroded by seasonal inflation,” he told.

Here are four key factors highlighted by Dhedhy in driving 5.6 percent economic growth during Ramadan 2026:

1. Household Consumption as the Main Engine

Dhedhy explained that household consumption contributes more than 50 percent to the GDP. “During Ramadan, consumption patterns shift. Expenditure on food and beverages increases sharply, including for takjil (snacks for breaking the fast), iftar meals, and Eid preparations. This creates a significant multiplier effect for MSMEs and the retail sector,” he explained.

2. Timely Disbursement of THR (Religious Holiday Allowance) and the 13th Salary

The disbursement of the Religious Holiday Allowance (THR) and the proposed 13th salary for State Civil Apparatus (ASN) provide a significant liquidity injection. “THR money is not only saved but mostly spent directly. This is what turns the wheels of the economy from the central level down to the villages,” said Dhedhy.

3. Increasingly Massive Economic Digitalization

Dhedhy also highlighted the role of technology in boosting consumption. “E-commerce platforms, food delivery services, and digital wallets make it easier for people to shop. Ramadan promos from digital platforms also help trigger an increase in transactions. We see that online shopping during this year’s Ramadan is predicted to grow by double digits,” he revealed.

4. Price Stability and Inflation Control

Despite being optimistic, Dhedhy reminded the government to be wary of inflation. “Usually, the prices of basic commodities skyrocket before Eid. The government must conduct market operations and ensure smooth logistical distribution. Uncontrolled inflation could erode purchasing power and make the 5.6 percent target difficult to achieve,” he emphasized.

Purnama Dhedhy Styawan added that achieving this target is not only the government’s responsibility but also requires synergy from all parties. “Consumers must shop wisely, business actors must not hoard goods, and the government must be present to ensure stability. If all goes well, 5.6 percent is not just a number, but a reflection of a healthy and equitable economy,” he concluded.


Pemerintah Optimis Targetkan Ekonomi 5,6% di Kuartal I Berkat Dorongan Ramadan 2026

WIN Media, Jakarta, 20/2/2026 – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,6 persen.

Optimisme ini didorong oleh geliat konsumsi masyarakat yang meningkat signifikan selama bulan Ramadan 1447 H, yang jatuh pada pertengahan Februari hingga Maret 2026.

Purnama Dhedhy Styawan, Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik di Jakarta, menilai target tersebut cukup realistis namun tetap membutuhkan kewaspadaan. “Ramadan selalu menjadi lokomotif pertumbuhan kuartal pertama karena terjadi peningkatan konsumsi rumah tangga, terutama pada makanan, minuman, sandang, dan transportasi mudik. Namun, kita harus memastikan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah bawah tidak tergerus oleh inflasi musiman,” ujarnya.

Berikut empat faktor kunci yang disorot Dhedhy dalam mendorong pertumbuhan ekonomi 5,6 persen selama Ramadan 2026:

1. Konsumsi Rumah Tangga sebagai Mesin Utama

Dhedhy menjelaskan bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB mencapai lebih dari 50 persen. “Saat Ramadan, pola konsumsi berubah. Pengeluaran untuk makanan dan minuman meningkat tajam, termasuk untuk takjil, hidangan berbuka, dan persiapan Lebaran. Ini memberikan multiplier effect yang besar bagi UMKM dan sektor ritel,” jelasnya.

2. THR dan Gaji Ke-13 yang Tepat Waktu

Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan wacana pemberian gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi suntikan likuiditas yang signifikan. “Uang THR tidak hanya disimpan, tetapi sebagian besar langsung dibelanjakan. Ini yang menggerakkan roda ekonomi dari tingkat pusat hingga ke desa-desa,” kata Dhedhy.

3. Digitalisasi Ekonomi yang Semakin Masif

Dhedhy juga menyoroti peran teknologi dalam mendongkrak konsumsi. “Platform e-commerce, layanan pesan-antar makanan, dan dompet digital mempermudah masyarakat berbelanja. Promo-promo Ramadan dari platform digital turut memicu peningkatan transaksi. Kita lihat, belanja online selama Ramadan tahun ini diprediksi tumbuh dua digit,” ungkapnya.

4. Stabilitas Harga dan Pengendalian Inflasi

Meski optimistis, Dhedhy mengingatkan pemerintah untuk waspada terhadap inflasi. “Biasanya harga bahan pokok meroket jelang Lebaran. Pemerintah harus melakukan operasi pasar dan memastikan kelancaran distribusi logistik. Inflasi yang tidak terkendali bisa menggerogoti daya beli dan membuat target 5,6 persen sulit tercapai,” tegasnya.

Purnama Dhedhy Styawan menambahkan bahwa pencapaian target ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan sinergi semua pihak. “Konsumen harus bijak berbelanja, pelaku usaha jangan menimbun barang, dan pemerintah harus hadir menjamin stabilitas. Jika semua berjalan baik, 5,6 persen bukan sekadar angka, tapi cerminan ekonomi yang sehat dan berkeadilan,” tutupnya.

Related News