14 Maret 2026

Goodbye Paper! Schools Use AI-Based Digital Books

WIN Media, Makassar, 14/3/2026 – The era of printed books and heavy backpacks may soon be over. Several schools have begun trialing Artificial Intelligence (AI)-based digital books. This innovative program promises a more personalized and interactive learning experience while reducing students’ carrying load.

However, amidst the digitalization euphoria, a critical question arises: Is Indonesia’s infrastructure and human resources ready to completely abandon paper?

Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, provides his analysis of this breakthrough. According to him, the step deserves appreciation, but must be implemented cautiously.

“This is a giant leap. AI-based digital books aren’t just ordinary PDFs. They can adjust the difficulty level of material to each student’s ability, provide different practice questions for each child, and even re-explain concepts differently if a child doesn’t understand. This is true personalized learning,” said Harry.

Advanced Features of AI Digital Books

Harry explained several standout features of the AI-based digital books being trialed:

  1. Adaptive: Material and questions automatically adjust to each student’s learning pace. Fast learners receive greater challenges, while slower learners get repetition.
  2. Virtual Assistant: Students can directly ask the AI assistant when encountering difficulties, without waiting for the teacher.
  3. Real-time Analytics: Teachers can monitor each student’s progress in real-time, identifying which parts are most difficult for the class to understand.
  4. Interactive Multimedia: Equipped with videos, 3D animations, and simulations that make abstract concepts concrete.
  5. Environmentally Friendly: Drastically reduces paper usage, aligning with green school programs.

Challenges That Cannot Be Ignored

Despite the promise, Harry reminds of several serious challenges that must be anticipated. “The digital divide is the first problem. Not all students have fast internet access at home. If this trial only succeeds at school but fails at home, the benefits won’t be maximized,” asserted the STIE YPUP Makassar lecturer.

He also highlighted teacher readiness. AI digital books transform the teacher’s role from mere content deliverer to facilitator. Not all teachers are prepared for this change. “Teachers must be trained. They need to be able to read analytical data from the AI dashboard and take appropriate pedagogical actions. Otherwise, this advanced technology will just be a display item,” he added.

Additionally, there are concerns about students’ eye health. Increased screen time needs to be balanced with proper break scheduling.

Parent and Student Responses

The trial showed mixed responses. Some parents expressed happiness that their children’s bags became lighter. However, others worried their children might play games more than study. “I’m glad my child’s bag is no longer heavy, but I’m also worried he’ll just open YouTube or games. I have to supervise him more closely at home,” said a parent of a student at one of the trial schools.

Harry suggested that schools also involve parents in this program. “Parents’ digital literacy must be improved. They need to know how to monitor their children’s learning activities on tablets, how to restrict access to non-educational content. Schools could hold workshops for parents,” he advised.

A Paperless Future

Harry is optimistic that this trial will lay the foundation for digital education transformation in Indonesia. If successful, it’s possible similar programs will be expanded to other cities.

“We do need to slowly leave paper behind. But don’t rush. This trial must be rigorously evaluated. What matters most is improving children’s learning quality, not just technological prestige,” concluded Harry.


Selamat Tinggal Kertas! Sekolah Gunakan Buku Digital Berbasis AI

WIN Media, Makassar, 14/3/2026 – Era buku cetak dan tas ransel berat mungkin akan segera berakhir. Beberapa sekolah memulai uji coba buku digital berbasis kecerdasan buatan (AI). Program inovatif ini menjanjikan pengalaman belajar yang lebih personal dan interaktif, sekaligus mengurangi beban bawaan siswa.

Namun, di tengah euforia digitalisasi, muncul pertanyaan kritis: apakah infrastruktur dan sumber daya manusia di Indonesia sudah siap meninggalkan kertas sepenuhnya?

Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, memberikan analisisnya mengenai terobosan ini. Menurutnya, langkah ini patut diapresiasi, tetapi harus dijalankan dengan hati-hati.

“Ini lompatan besar. Buku digital berbasis AI bukan sekadar PDF biasa. Dia bisa menyesuaikan tingkat kesulitan materi dengan kemampuan siswa, memberi soal latihan yang berbeda untuk tiap anak, bahkan bisa menjelaskan ulang dengan cara yang berbeda jika anak tidak paham. Ini personalized learning yang sesungguhnya,” ujar Harry.

Fitur Canggih Buku Digital AI

Harry menjelaskan beberapa fitur unggulan dari buku digital berbasis AI yang sedang diujicobakan:

  1. Adaptif: Materi dan soal otomatis menyesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Anak yang cepat paham akan mendapat tantangan lebih, sementara yang lambat akan mendapat pengulangan.
  2. Asisten Virtual: Siswa bisa bertanya langsung pada asisten AI jika menemui kesulitan, tanpa harus menunggu guru.
  3. Analitik Real-time: Guru bisa memantau perkembangan setiap siswa secara langsung, mengetahui bagian mana yang paling sulit dipahami kelas.
  4. Multimedia Interaktif: Dilengkapi video, animasi 3D, dan simulasi yang membuat materi abstrak menjadi konkret.
  5. Ramah Lingkungan: Mengurangi penggunaan kertas secara drastis, sejalan dengan program sekolah hijau.

Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan

Meski menjanjikan, Harry mengingatkan sejumlah tantangan serius yang harus diantisipasi. “Kesenjangan digital adalah masalah pertama. Tidak semua siswa punya akses internet cepat di rumah. Kalau uji coba ini hanya berhasil di sekolah tapi gagal di rumah, manfaatnya tidak akan maksimal,” tegas dosen STIE YPUP Makassar tersebut.

Ia juga menyoroti kesiapan guru. Buku digital AI mengubah peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator. Tidak semua guru siap dengan perubahan ini. “Guru harus dilatih. Mereka harus bisa membaca data analitik dari dashboard AI, lalu mengambil tindakan pedagogis yang tepat. Jika tidak, teknologi canggih ini hanya akan menjadi pajangan,” tambahnya.

Selain itu, ada kekhawatiran tentang kesehatan mata siswa. Waktu menatap layar yang bertambah perlu diimbangi dengan pengaturan jeda yang tepat.

Respons Orang Tua dan Siswa

Uji coba menunjukkan respons beragam. Beberapa orang tua mengaku senang karena tas anak menjadi lebih ringan. Namun, ada juga yang khawatir anaknya justru akan lebih sering bermain game daripada belajar. “Saya senang tas anak saya tidak lagi berat, tapi saya juga khawatir dia malah buka YouTube atau game. Saya harus lebih ekstra mengawasinya di rumah,” ujar salah satu orang tua siswa di salah satu sekolah uji coba.

Harry menyarankan agar sekolah juga melibatkan orang tua dalam program ini. “Literasi digital orang tua harus ditingkatkan. Mereka perlu tahu cara memantau aktivitas belajar anak di tablet, cara membatasi akses ke konten non-pendidikan. Sekolah bisa mengadakan workshop untuk orang tua,” sarannya.

Masa Depan Tanpa Kertas

Harry optimis bahwa uji coba ini akan menjadi fondasi bagi transformasi pendidikan digital. Jika berhasil, bukan tidak mungkin program serupa akan diperluas ke kota-kota di Indonesia.

“Kertas memang harus kita tinggalkan perlahan. Tapi jangan terburu-buru. Uji coba ini harus dievaluasi ketat. Yang paling penting adalah kualitas belajar anak meningkat, bukan sekadar gengsi teknologi,” pungkas Harry.

Related News