WIN Media, Makassar, 14/1/2026 – Generative Artificial Intelligence (AI), once feared as a replacement for teachers, is now projected to become the most powerful collaborative partner in the classroom. This transformation from threat to creative assistant occurs as educators begin to leverage it strategically to enrich the learning process.
Generative AI, such as Large Language Models (LLMs), can generate text content, images, questions, and even learning scenarios based on user commands (prompts). The key to its utilization lies in the teacher’s ability to act as the “conductor” directing this technology.
Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, asserts that this paradigm shift eliminates the substitute vs. helper dichotomy. “Generative AI is not a competitor to teachers, but an amplifier of their creativity and capacity. It is an assistant that never tires of brainstorming. A teacher who typically needs two hours to prepare three variations of a story problem can now, with the right prompt, generate ten variations in five minutes. The saved time can be redirected to more meaningful personal interaction with students,” Yulianto explained to WIN Media.
He provided real-world examples: a history teacher can ask AI to create a fictional dialogue between two proclamation figures, an art teacher can generate illustrations for a poem in various styles, or a science teacher can produce complex explanations of photosynthesis tailored to a specific student’s understanding.
“AI handles repetitive administrative and creative burdens, while teachers focus on what machines cannot replace: building emotional connections, assessing nuanced answers, motivating, and character building. This is the perfect synergy,” added Harry.
However, challenges remain, particularly regarding teacher digital literacy and caution against AI information bias or hallucinations. Continuous training is key so that teachers are not merely users, but critical and intelligent masters of this tool.
The future of education, according to Yulianto, will be filled with “augmented” teachers empowered by AI, where personalized learning and creative idea exploration reach previously impossible levels.
Generative AI di Tangan Guru: Dari Ancaman Jadi Asisten Pengajar Kreatif

WIN Media, Makassar, 14/1/2026 – Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI) yang sempat ditakuti akan menggantikan peran guru, kini justru diproyeksikan menjadi mitra kolaboratif terkuat di dalam kelas. Transformasi dari ancaman menjadi asisten kreatif ini terjadi ketika para pendidik mulai memanfaatkannya secara strategis untuk memperkaya proses pembelajaran.
Generative AI, seperti model bahasa besar (LLM), mampu menghasilkan konten teks, gambar, soal, hingga skenario pembelajaran berdasarkan perintah (prompt) dari pengguna. Kunci pemanfaatannya terletak pada kemampuan guru sebagai “konduktor” yang mengarahkan teknologi ini.
Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, menegaskan bahwa pergeseran paradigma ini menghilangkan dikotomi pengganti vs. penolong. “Generative AI bukanlah pesaing guru, melainkan amplifier dari kreativitas dan kapasitas guru. Ia adalah asisten yang tak pernah lelah untuk brainstorming. Guru yang biasa membutuhkan waktu dua jam untuk menyusun tiga variasi soal cerita, kini dengan prompt yang tepat dapat menghasilkan sepuluh variasi dalam lima menit. Waktu yang dihemat dapat dialihkan untuk interaksi personal yang lebih bermakna dengan siswa,” papar Yulianto kepada WIN Media.
Dia memberikan contoh aplikasi nyata: seorang guru sejarah dapat meminta AI untuk membuat dialog fiksi antara dua tokoh proklamator, seorang guru seni dapat membuat ilustrasi untuk sebuah puisi dalam berbagai gaya, atau guru IPA dapat menghasilkan penjelasan rumit tentang fotosintesis dalam bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman siswa tertentu.
“AI mengatasi beban administratif dan kreatif yang repetitif, sementara guru fokus pada hal yang tidak bisa digantikan mesin: membangun hubungan emosional, menilai nuansa jawaban, memotivasi, dan membimbing karakter. Ini adalah sinergi sempurna,” tambah Harry.
Namun, tantangannya tetap ada, terutama dalam hal literasi digital guru dan kehati-hatian terhadap bias informasi atau halusinasi AI. Pelatihan yang berkelanjutan menjadi kunci agar guru tidak sekadar user, tapi menjadi master yang kritis dan cerdas dalam memanfaatkan alat ini.
Masa depan pendidikan, menurut Yulianto, akan diisi oleh guru-guru “augmented” yang diperkuat oleh AI, di mana personalisasi pembelajaran dan eksplorasi ide kreatif mencapai tingkat yang sebelumnya tidak mungkin.

