13 Maret 2026

“Deepfake” for Education: Technology That Brings History to Life in the Classroom

WIN Media, Makassar, 8/2/2026 – A controversial technology known for misinformation is finding a surprising new purpose: the classroom. Educators and technologists are pioneering the use of Deepfake Technology—artificial intelligence that creates hyper-realistic video and audio—to develop immersive educational content, allowing students to have “conversations” with historical figures and witness simulated historical events with unprecedented realism.

Projects now in trial include a lesson where a digitally resurrected Albert Einstein explains the theory of relativity. This approach aims to create Immersive Learning experiences that foster deeper emotional connection and retention than textbooks or static videos.

Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, is at the forefront of this exploration. “When used responsibly, this is a powerful tool for AI in Education. It can break temporal barriers, making abstract history tangible and sparking incredible student curiosity. However, its deployment must be framed within ironclad Ethical Guidelines. Every educational deepfake must be clearly watermarked and contextualized by the teacher to prevent confusion between fact and synthetic media,” Harry explained.

The ethical concerns are significant. Experts warn that normalizing synthetic media for students without clear digital literacy safeguards could inadvertently make them more vulnerable to malicious deepfakes outside the classroom. The key, proponents argue, is to use the technology not just as a showpiece but as a critical teaching moment itself—educating students on how the technology works and its potential for both creation and manipulation.

The emerging consensus in educational technology circles is that deepfakes have a place in future pedagogy, but their use must be cautious, transparent, and always subordinate to the core educational goal of fostering critical thinking, not replacing it.


“Deepfake” untuk Edukasi: Teknologi yang Membawa Sejarah Hidup di Kelas

WIN Media, Makassar, 8/2/2026 – Teknologi kontroversial yang dikenal sebagai penyebar misinformasi kini menemukan tujuan baru yang mengejutkan: ruang kelas. Para pendidik dan teknolog mulai merintis penggunaan Deepfake Teknologi—kecerdasan artifisial yang menciptakan video dan audio hiper-realistis—untuk mengembangkan konten edukasi imersif, memungkinkan siswa “berbincang” dengan tokoh sejarah dan menyaksikan simulasi peristiwa bersejarah dengan realisme yang belum pernah ada.

Proyek yang sedang dalam uji coba mencakup pelajaran dimana Albert Einstein yang dihidupkan secara digital menjelaskan teori relativitas. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman Pembelajaran Imersif yang menumbuhkan koneksi emosional dan daya ingat yang lebih dalam dibandingkan buku teks atau video statis.

Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, berada di garis depan eksplorasi ini. “Bila digunakan secara bertanggung jawab, ini adalah alat ampuh untuk AI dalam Pendidikan. Ia dapat meruntuhkan batasan waktu, membuat sejarah yang abstrak menjadi nyata dan memicu rasa ingin tahu siswa yang luar biasa. Namun, penggunaannya harus dibingkai dalam Panduan Etik yang sangat ketat. Setiap deepfake edukasi harus diberi watermark yang jelas dan dikontekstualisasikan oleh guru untuk mencegah kebingungan antara fakta dan media sintetis,” jelas Harry.

Kekhawatiran etisnya signifikan. Para pakar memperingatkan bahwa menormalisasi media sintetis untuk siswa tanpa penjagaan literasi digital yang jelas justru dapat membuat mereka lebih rentan terhadap deepfake jahat di luar kelas. Kuncinya, menurut pendukung, adalah menggunakan teknologi ini bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai momen pengajaran kritis itu sendiri—mengedukasi siswa tentang cara kerja teknologi ini serta potensinya untuk kreasi dan manipulasi.

Konsensus yang muncul di kalangan teknologi pendidikan adalah bahwa deepfake memiliki tempat dalam pedagogi masa depan, namun penggunaannya harus hati-hati, transparan, dan selalu tunduk pada tujuan pendidikan inti untuk menumbuhkan pemikiran kritis, bukan menggantikannya.

Related News