13 Maret 2026

Controversy Over “Neuro-Enhancers” for Exams: Between Ethics and Academic Pressure

WIN Media, Makassar, 13/1/2026 – As the exam period approaches, the phenomenon of using substances or supplements claimed to be neuro-enhancers or “brain performance boosters” is re-emerging among students. This practice has sparked intense debate between ethical demands and increasingly suffocating academic pressure.

Neuro-enhancers refer to compounds, from certain over-the-counter supplements to misused prescription drugs like modafinil or ritalin, consumed to instantly boost focus, memory, and study stamina.

Harry Yulianto, an Education Expert from STIE YPUP Makassar, highlights that the root of the problem lies in an education ecosystem that overemphasizes final outcomes. “This is a pathological symptom of a system that still idolizes exam scores as the sole measure of success. When cognitive load and competition become unbearable, students look for shortcuts. Neuro-enhancers are perceived as a ‘technical solution’ to a systemic problem,” he told.

He warned that beyond the unfully-mapped risks to physical and mental health, the use of such substances creates unfairness and undermines the essence of learning. “It is akin to academic doping. It erodes the values of hard work, perseverance, and deep understanding. What occurs is not an enhancement of ability, but a risky shortcut that can lead to dependence,” Yulianto emphasized.

On the other hand, the pressure to enter top universities or achieve perfect scores often makes students and even parents turn a blind eye to the risks. The circulation of misinformation in online communities, which dramatizes benefits and downplays side effects, further exacerbates the situation.

“Prohibitions and ‘just say no’ campaigns are not enough. Our assessment system needs to transform from merely testing memory to evaluating critical thinking, creativity, and knowledge application. When exams are no longer just a memorization marathon, the ‘need’ for neuro-enhancers will diminish,” explained Harry Yulianto.

He urged schools to open an educational dialogue about stress management, healthy study techniques, and academic ethics, rather than being judgmental. This controversy, he says, is a loud alarm for all education stakeholders to re-evaluate the true burden and purpose of academic assessment.


Kontroversi “Neuro-Enhancer” untuk Ujian: Antara Etika dan Tekanan Akademik

WIN Media, Makassar, 13/1/2026 – Menjelang periode ujian, fenomena penggunaan zat atau suplemen yang diklaim sebagai neuro-enhancer atau “peningkat kinerja otak” kembali mencuat di kalangan pelajar. Praktik ini memantik perdebatan sengit antara tuntutan etika dan tekanan akademik yang kian mencekik.

Neuro-enhancer merujuk pada senyawa, dari suplemen over-the-counter seperti tertentu hingga obat resep seperti modafinil atau ritalin yang disalahgunakan, yang dikonsumsi untuk meningkatkan fokus, daya ingat, dan stamina belajar secara instan.

Harry Yulianto, Pakar Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, menyoroti akar masalahnya pada ekosistem pendidikan yang terlalu menekankan hasil akhir. “Ini adalah gejala patologis dari sistem yang masih mempertuhankan nilai ujian sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan. Saat beban kognitif dan kompetisi tidak lagi tertahankan, siswa mencari jalan pintas. Neuro-enhancer dipersepsikan sebagai ‘solusi teknis’ untuk masalah sistemik,” ujarnya .

Dia memperingatkan bahwa selain risiko kesehatan fisik dan mental yang belum sepenuhnya terpetakan, penggunaan zat tersebut menciptakan ketidakadilan dan merusak esensi pembelajaran. “Ini laksana doping akademik. Ia mengikis nilai kerja keras, ketekunan, dan pemahaman mendalam. Yang terjadi bukanlah peningkatan kemampuan, melainkan shortcut berisiko yang bisa menyebabkan ketergantungan,” tegas Yulianto.

Di sisi lain, tekanan untuk masuk perguruan tinggi favorit atau meraih nilai sempurna seringkali membuat siswa dan bahkan orang tua tutup mata terhadap risiko. Peredaran informasi yang keliru di komunitas online, yang mendramatisir manfaat dan mengecilkan efek samping, turut memperparah situasi.

“Larangan dan kampanye ‘just say no’ saja tidak cukup. Sistem evaluasi kita perlu bertransformasi dari sekadar menguji ingatan (memory-based) menjadi menilai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan aplikasi pengetahuan. Ketika ujian bukan lagi sekadar hafalan maraton, ‘kebutuhan’ untuk neuro-enhancer akan berkurang,” papar Harry Yulianto.

Dia mendorong sekolah untuk membuka dialog edukatif tentang manajemen stres, teknik belajar sehat, dan etika akademik, alih-alih menghakimi. Kontroversi ini, menurutnya, adalah alarm keras bagi semua pemangku kepentingan pendidikan untuk mengevaluasi ulang beban dan tujuan sesungguhnya dari penilaian akademik.

Related News