6 Mei 2026

China Launches 100 MW Molten Salt Solar Plant, a Solar Energy Breakthrough That Operates 24/7

WIN Media, Yogyakarta, 25/3/2026 – China has officially commissioned a 100-megawatt (MW) concentrated solar power (CSP) plant that uses molten salt technology, marking a major breakthrough in renewable energy. The facility is capable of supplying electricity around the clock, overcoming the long-standing limitation of solar power—its dependence on direct sunlight.

Unlike conventional photovoltaic panels, the molten salt solar plant utilizes an array of mirrors to concentrate sunlight onto a receiver. The captured heat is stored in high-temperature molten salt, which retains thermal energy for hours. When electricity is needed, the heat is used to generate steam that drives a turbine, producing power even at night or during cloudy weather.

This integrated thermal storage system addresses the intermittency issue that has historically constrained solar energy adoption. With a capacity of 100 MW, the plant can deliver stable, continuous output, reinforcing grid reliability without resorting to fossil fuel backups.

Kunto Wibisono, a technology and cybersecurity expert based in Yogyakarta, highlighted that the significance of this innovation lies not only in its capacity but also in its contribution to energy resilience. He noted that large-scale renewable plants with thermal storage rely heavily on automation and digital control systems.

“From a cybersecurity perspective, critical infrastructure like power plants must be protected with rigorous protocols. China’s project demonstrates that the energy transition can go hand in hand with strengthening operational security,” Kunto said.

He also pointed out that Indonesia, blessed with abundant solar resources, could consider molten salt CSP as a viable option to meet its renewable energy targets, provided that aspects such as financing, technology transfer, and system reliability are carefully addressed.


China Resmikan PLTS Garam Cair 100 MW, Terobosan Energi Surya yang Mampu Beroperasi 24 Jam Nonstop

WIN Media, Yogyakarta, 25/3/2026 – China kembali mencatatkan tonggak sejarah di sektor energi terbarukan dengan meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis garam cair berkapasitas 100 megawatt (MW). Teknologi ini dinobatkan sebagai terobosan karena mampu memasok listrik selama 24 jam penuh, mengatasi kelemahan utama energi surya yang selama ini bergantung pada intensitas sinar matahari langsung.

Berbeda dengan panel surya konvensional, PLTS garam cair menggunakan sistem pemusatan energi surya (CSP) dengan cermin-cermin besar yang memantulkan sinar matahari ke sebuah receiver. Panas yang terkumpul kemudian disimpan dalam garam cair bersuhu sangat tinggi, yang dapat mempertahankan energi termal hingga berjam-jam. Saat dibutuhkan, panas tersebut diubah menjadi uap untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik—bahkan saat malam hari atau cuaca mendung.

Teknologi ini menjawab tantangan intermittency yang selama ini membatasi pemanfaatan energi surya. Dengan sistem penyimpanan panas yang terintegrasi, pembangkit 100 MW tersebut dapat beroperasi secara stabil dan mendukung jaringan listrik tanpa perlu beralih ke bahan bakar fosil saat matahari tidak bersinar.

Kunto Wibisono, pakar teknologi dan keamanan siber asal Yogyakarta, menilai bahwa inovasi ini bukan hanya soal kapasitas, tetapi juga tentang ketahanan sistem energi. Menurutnya, integrasi antara pembangkit energi terbarukan dengan sistem penyimpanan termal berskala besar merupakan langkah strategis menuju kemandirian energi.

“Yang menarik, sistem seperti ini sangat bergantung pada otomatisasi dan kendali digital. Dari sisi keamanan siber, infrastruktur kritis seperti pembangkit listrik harus dilindungi dengan protokol yang ketat. China menunjukkan bahwa transisi energi bisa berjalan seiring dengan penguatan keamanan operasional,” ujar Kunto.

Ia menambahkan bahwa Indonesia yang kaya akan potensi matahari dapat menjadikan teknologi garam cair sebagai salah satu opsi untuk mencapai target bauran energi terbarukan, dengan tetap memperhatikan aspek pendanaan, transfer teknologi, dan keandalan sistem.

Related News