WIN Media, Yogyakarta, 22/2/2026 – Amidst the rapid development of artificial intelligence (AI), questions regarding the use of this technology to support worship are increasingly emerging, especially during the month of Ramadan 1447 H.
Can AI help Muslims achieve deeper devotion, or will it become a new distraction?
Kunto Wibisono, a technology and cybersecurity expert from Yogyakarta, assesses that AI has great potential to support religious practices, but also brings challenges that cannot be ignored. “AI can be a very helpful tool if designed properly.
For example, applications that use AI to analyze Quranic recitation, provide tajwid corrections, or even customize prayer content based on user conditions. But we must remember, worship is a matter of the heart and spirit; technology is just a tool,” he told.
Here are four important points conveyed by Kunto Wibisono regarding the use of AI for worship in Indonesia:
1. Personalization of Worship Experience
Kunto explains that AI can personalize the worship experience based on user preferences and habits. “For instance, AI can recommend a recitation schedule that fits one’s daily routine, or present relevant study content based on their interests. This can increase motivation and consistency in worship,” he explained.
2. AI as a Reminder and Guide
Prayer time reminders, Qibla direction, and imsak schedules are already common. However, with AI, reminders can be smarter. “AI can learn from users’ sleep patterns and activities to provide optimal suhoor time recommendations or remind them not to stay up late to avoid disrupting their fasting worship,” added Kunto.
3. Privacy and Data Security Challenges
As a cybersecurity expert, Kunto highlights the risks of personal data collection by AI-based applications. “Many worship apps request access to location, contacts, and even voice recordings. This data could be vulnerable to misuse if not properly managed. Users must be careful in choosing trusted applications and read privacy policies,” he emphasized.
4. Adoption Potential in Indonesia and the Role of Government
Kunto sees Indonesia as a huge market for worship technology innovation. “With the world’s largest Muslim population, the potential for AI adoption in worship is very high. However, the government and developers must work together to ensure this technology is inclusive, safe, and aligned with local values. Digital literacy education is also important so that people are not easily trapped by technology that actually disrupts devotion,” he concluded.
As we approach the middle of Ramadan 2026, various AI-based applications are beginning to emerge. The public is expected to use them wisely, making technology a means to draw closer to the Creator, not the other way around.
AI untuk Ibadah yang Lebih Khusyuk? Menilik Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Adopsi di Indonesia

WIN Media, Yogyakarta, 22/2/2026 – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), pertanyaan mengenai pemanfaatan teknologi ini untuk mendukung ibadah semakin mengemuka, terutama di bulan Ramadan 1447 H.
Apakah AI mampu membantu umat Muslim mencapai kekhusyukan yang lebih dalam, atau justru menjadi distraksi baru?
Kunto Wibisono, pakar teknologi dan keamanan siber asal Yogyakarta, menilai bahwa AI memiliki potensi besar untuk mendukung praktik ibadah, namun juga membawa tantangan yang tidak bisa diabaikan. “AI bisa menjadi alat yang sangat membantu jika dirancang dengan tepat.
Misalnya, aplikasi yang menggunakan AI untuk menganalisis bacaan Al-Quran, memberikan koreksi tajwid, atau bahkan menyesuaikan konten doa berdasarkan kondisi pengguna. Tapi kita harus ingat, ibadah adalah urusan hati dan spiritual, teknologi hanya alat bantu,” ujarnya.
Berikut empat poin penting yang disampaikan Kunto Wibisono terkait pemanfaatan AI untuk ibadah di Indonesia:
1. Personalisasi Pengalaman Ibadah
Kunto menjelaskan bahwa AI dapat mempersonalisasi pengalaman ibadah berdasarkan preferensi dan kebiasaan pengguna. “Contohnya, AI bisa merekomendasikan jadwal tilawah yang sesuai dengan kesibukan seseorang, atau menyajikan konten kajian yang relevan dengan minatnya. Ini bisa meningkatkan motivasi dan konsistensi beribadah,” jelasnya.
2. AI sebagai Pengingat dan Panduan
Fitur pengingat shalat, arah kiblat, dan waktu imsak sudah umum. Namun dengan AI, pengingat bisa lebih cerdas. “AI bisa belajar dari pola tidur dan aktivitas pengguna untuk memberikan rekomendasi waktu sahur terbaik atau mengingatkan untuk tidak begadang agar tidak mengganggu ibadah puasa,” tambah Kunto.
3. Tantangan Privasi dan Keamanan Data
Sebagai pakar keamanan siber, Kunto menyoroti risiko pengumpulan data pribadi oleh aplikasi berbasis AI. “Banyak aplikasi ibadah yang meminta akses ke lokasi, kontak, bahkan rekaman suara. Data ini bisa rentan disalahgunakan jika tidak dikelola dengan baik. Pengguna harus cermat memilih aplikasi yang terpercaya dan membaca kebijakan privasi,” tegasnya.
4. Potensi Adopsi di Indonesia dan Peran Pemerintah
Kunto melihat Indonesia sebagai pasar yang besar untuk inovasi teknologi ibadah. “Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, potensi adopsi AI untuk ibadah sangat tinggi. Namun, pemerintah dan pengembang harus bekerja sama untuk memastikan teknologi ini inklusif, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai lokal. Edukasi literasi digital juga penting agar masyarakat tidak mudah terjebak teknologi yang justru mengganggu kekhusyukan,” tutupnya.
Menjelang pertengahan Ramadan 2026, berbagai aplikasi berbasis AI mulai bermunculan. Masyarakat diharapkan bijak dalam memanfaatkannya, menjadikan teknologi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bukan sebaliknya.

