13 Maret 2026

Acculturation on a Plate: Tracing The Footprints of Cina Benteng and Malay in The Creation of Betawi’s Rujak Juhi

WIN Media, Jakarta, 1/2/2026 – Behind the savory, fresh, and spicy deliciousness of Betawi’s Rujak Juhi lies a long story of harmonious cultural blending. This iconic dish is not just an ordinary fruit/vegetable salad; it is historical evidence of the culinary acculturation between the Cina Benteng community (Chinese Peranakan of Tangerang) and Malay-Betawi culture, merging into one captivating dish.

The uniqueness of Rujak Juhi lies in the use of “juhi” or salted squid as the main protein, an ingredient not commonly found in typical rujak. According to Rohmat Amin, a Betawi culinary observer, this is the starting point of the acculturation trail. “Juhi or salted squid is a very typical ingredient in Chinese Peranakan cuisine, used to add a deep umami and savory flavor. The Betawi community, geographically and culturally close to the Cina Benteng community in Tangerang, adopted this ingredient and processed it in their own way,” Rohmat explained.

A Meeting of Flavors from Two Worlds
Rohmat Amin elaborated that this acculturation occurs in the dish’s key elements. “From the Cina Benteng side, we can see the use of juhi itself and the likely salting preservation technique. Meanwhile, from the Malay-Betawi repertoire, comes the thick peanut sauce, the use of chili, palm sugar, and various raw fresh vegetables like bean sprouts, cucumber, and water spinach,” he said.

The process also shows adaptation. The salty and tough salted squid is first soaked and boiled to soften it and reduce the salt content, before being combined with the sweet, sour, and spicy vegetables and peanut sauce. “This is a form of ‘localization.’ A foreign ingredient is processed with techniques and flavors familiar to the local palate, thus creating a new unity,” added Rohmat.

A Symbol of Tolerance and Culinary Creativity
Rujak Juhi is not just a dish but also a reflection of the plural social life of Batavia (Jakarta) in the past. “This dish was born from daily interactions in the market, in mixed residential environments. It shows how Betawi society was open, adaptive, and creative in accepting new influences, then transforming them into their own identity,” explained Rohmat Amin.

Today, Rujak Juhi remains a beloved dish, often present at family gatherings and communal feasts. Its existence reminds us that Indonesia’s culinary richness often originates from the meeting of various cultures, which then blend into a unique and irreplaceable flavor heritage.

“Every bite of Rujak Juhi is history. There is a story about voyages, spice trade, inter-ethnic interaction, and ultimately, the creativity of our ancestors in creating something delicious from what was available,” concluded Rohmat.


Akulturasi di atas Piring: Menelusuri Jejak Cina Benteng dan Melayu Dalam Kreasi Rujak Juhi Betawi

WIN Media, Jakarta, 1/2/2026 – Di balik kelezatan Rujak Juhi Betawi yang gurih, segar, dan pedas, tersimpan kisah panjang tentang percampuran budaya yang harmonis. Hidangan ikonik ini bukan hanya sekadar rujak biasa, melainkan sebuah bukti sejarah akulturasi kuliner antara masyarakat Cina Benteng (Tionghoa Peranakan Tangerang) dan budaya Melayu-Betawi, yang berpadu dalam satu sajian yang memikat lidah.

Keunikan Rujak Juhi terletak pada penggunaan “juhi” atau cumi asin sebagai protein utama, sebuah bahan yang tidak lazim ditemukan dalam rujak pada umumnya. Menurut Rohmat Amin, pengamat kuliner Betawi, inilah titik awal jejak akulturasi tersebut. “Juhi atau cumi asin adalah bahan yang sangat khas dalam masakan Cina Peranakan, digunakan untuk menambah cita rasa umami dan gurih yang mendalam. Masyarakat Betawi, yang secara geografis dan budaya dekat dengan komunitas Cina Benteng di Tangerang, mengadopsi bahan ini dan mengolahnya dengan cara mereka sendiri,” jelas Rohmat.

Pertemuan Rasa dari Dua Dunia
Rohmat Amin memaparkan bahwa akulturasi ini terjadi pada elemen-elemen kunci hidangan. “Dari sisi Cina Benteng, kita dapat lihat penggunaan juhi itu sendiri dan kemungkinan teknik pengawetan dengan garam. Sementara dari khasanah Melayu-Betawi, hadirlah bumbu kacang yang kental, penggunaan cabai, gula merah, dan aneka sayuran segar mentah seperti tauge, mentimun, dan kangkung,” ujarnya.

Prosesnya pun menunjukkan penyesuaian. Cumi asin yang asin dan keras direndam dan direbus terlebih dahulu untuk melunakkannya dan mengurangi kadar garam, sebelum akhirnya dipadukan dengan sayuran dan bumbu kacang yang manis, asam, dan pedas. “Ini adalah bentuk ‘pelokalan’. Bahan yang asing diolah dengan teknik dan rasa yang sudah akrab di lidah lokal, sehingga tercipta kesatuan baru,” tambah Rohmat.

Simbol Toleransi dan Kreativitas Kuliner
Rujak Juhi tidak hanya sekadar hidangan, tetapi juga cerminan dari kehidupan sosial Batavia (Jakarta) masa lampau yang plural. “Hidangan ini lahir dari interaksi sehari-hari di pasar, dalam lingkungan tempat tinggal yang berbaur. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Betawi terbuka, adaptif, dan kreatif dalam menerima pengaruh baru, lalu mengubahnya menjadi identitas mereka sendiri,” papar Rohmat Amin.

Kini, Rujak Juhi tetap menjadi hidangan yang dicintai, sering kali hadir dalam acara-acara keluarga dan kenduri. Keberadaannya mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia sering kali berawal dari pertemuan berbagai budaya, yang kemudian melebur menjadi suatu warisan rasa yang unik dan tak tergantikan.

“Setiap suapan Rujak Juhi itu adalah sejarah. Ada cerita tentang pelayaran, perdagangan rempah, interaksi antaretnis, dan akhirnya, kreativitas nenek moyang kita dalam menciptakan sesuatu yang lezat dari apa yang ada,” pungkas Rohmat.

Related News