13 Maret 2026

Saraba & Sekoteng: Unveiling the Similarities and Differences of Two Body-Warming Drinks from Two Cultures

Saraba

Both are legendary warm beverages in Indonesia, but behind the similar warmth, they hold distinct cultural signatures from Makassar and Java.

WIN Media, Makassar, 28/1/2026 – On a rainy evening or in the cool air of night, nothing feels more comforting than a warm, spiced drink. In the archipelago’s diverse culinary landscape, two names often emerge as champions of warmth: Saraba from Makassar and Sekoteng from Java. At first glance, they seem similar—hot, sweet, and fragrant with spices. However, a deeper look reveals they are unique cultural heritage treasures from different regions.

A Tale of Two Origins
Saraba is an integral part of the hospitality culture of the Bugis-Makassar people in South Sulawesi. Traditionally served to honored guests during special gatherings or as a welcoming drink, Saraba carries a deep philosophy of warmth and respect. In contrast, Sekoteng, whose name is derived from the Chinese “sio tow teng,” has evolved through cultural acculturation in Java. It is often found as a street vendor’s drink, sold from mobile carts with a distinctive “kentongan” (bamboo slit drum) sound, becoming a familiar comfort for the common people.

Deconstructing the Warmth: Ingredients and Texture
The main similarity lies in their use of ginger as a primary warming agent, cementing their status as quintessential ginger-based drinks. Both also use sugar for sweetness. However, their compositions differ significantly.

  • Saraba is known for its rich, creamy, and slightly oily texture from the use of coconut milk or cream. Its spice palette is simpler, focusing on ginger, sometimes with a hint of lemongrass or pandan. The result is a dense, filling, and profoundly warming drink.
  • Sekoteng has a clear, syrup-like broth. Its spice mix is more complex, typically involving ginger, cinnamon, and pandan. The defining characteristic is the addition of various “contents” or “toppings” in the glass: pieces of bread, peanuts, green beans, pacar cina (mesona), and kolang-kaling (palm fruit), making it almost a light dessert soup.

Taste, Presentation, and Cultural Role
In terms of flavor, Saraba offers a dominant sensation of ginger heat blended with savory coconut milk richness. Sekoteng presents a lighter, sweeter ginger flavor complemented by the varied textures of its toppings.

Presentation also reflects their cultural roles. Saraba is usually served elegantly in glasses or special bowls during gatherings. Sekoteng is served practically in glasses from a vendor’s cart, enjoyed casually on the sidewalk.

“Both are iconic Indonesian warm beverages that represent the local wisdom of their communities,” said culinary researcher, Helmy Syamsuri. “Saraba is like a warm, respectful embrace from South Sulawesi, while Sekoteng is a sweet, friendly greeting from the streets of Java. Both are valuable spiced infusion legacies.”

So, which one is better? There’s no need to choose. Appreciating their differences is part of savoring Indonesia’s immense cultural wealth. When in Makassar, savor the creamy warmth of Saraba; when in Java, hunt for the tinkling sound of the Sekoteng seller. Both are authentic experiences of Nusantara’s culinary warmth.


Saraba & Sekoteng: Menyingkap Persamaan dan Perbedaan Dua Minuman Penghangat Badan dari Dua Budaya

Sekoteng

Sama-sama minuman hangat legendaris di Indonesia, tapi di balik kehangatan yang mirip, mereka menyimpan ciri khas budaya yang berbeda asal Makassar dan Jawa

WIN Media, Makassar, 28/1/2026 – Di kala malam hujan atau udara sejuk, mungkin tidak ada yang lebih menenteramkan daripada segelas minuman hangat yang wangi rempah. Dalam khazanah kuliner Nusantara yang beragam, dua nama sering disebut sebagai juaranya: Saraba dari Makassar dan Sekoteng dari Jawa. Secara sekilas, keduanya tampak mirip—panas, manis, dan harum rempah. Namun, jika ditelisik lebih dalam, mereka adalah warisan warisan budaya yang unik dari daerah yang berbeda.

Kisah Dua Asal Usul
Saraba merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya jamuan masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Secara tradisi disajikan untuk tamu kehormatan dalam acara khusus atau sebagai minuman penyambut, Saraba membawa filosofi kehangatan dan rasa hormat yang dalam. Sementara Sekoteng, yang namanya berasal dari bahasa China “sio tow teng”, telah berakulturasi dan berkembang di tanah Jawa. Ia sering hadir sebagai minuman pedagang keliling yang dijajakan dengan bunyi “kentongan” khas, menjadi penghibur yang akrab di kalangan rakyat biasa.

Membedah Kehangatan: Bahan dan Tekstur
Persamaan utamanya terletak pada penggunaan jahe sebagai agen penghangat utama, yang mengukuhkan status mereka sebagai minuman jahe khas. Keduanya juga menggunakan gula sebagai pemanis. Namun, komposisinya jauh berbeda.

  • Saraba dikenal dengan teksturnya yang kental, creamy, dan sedikit berminyak dari penggunaan santan atau krim kelapa. Rempahnya cenderung lebih sederhana, berpusat pada jahe, terkadang dengan sentuhan serai atau pandan. Hasilnya adalah minuman yang padat, mengenyangkan, dan hangat menyeluruh.
  • Sekoteng memiliki kuah bening mirip sirup. Ramuan rempahnya lebih kompleks, biasanya melibatkan jahe, kayu manis, dan pandan. Ciri khasnya adalah adanya berbagai “isiian” atau “topping” dalam gelasnya: potongan roti, kacang tanah, kacang hijau, pacar cina, dan kolang-kaling, sehingga hampir menyerupai soup dessert ringan.

Rasa, Penyajian, dan Peran Budaya
Dari segi rasa, Saraba menawarkan dominasi kepedasan jahe yang berpadu dengan kekayaan gurih santan. Sekoteng menghadirkan rasa jahe yang lebih ringan dan manis, dilengkapi tekstur beragam dari isiannya.

Penyajian juga mencerminkan peran budayanya. Saraba biasanya disajikan secara elegan dalam gelas atau mangkuk khusus saat berkumpul. Sekoteng disajikan secara praktis dalam gelas dari gerobak pedagang, dinikmati santai di tepi jalan.

“Keduanya adalah minuman penghangat Indonesia yang ikonis dan mewakili kearifan lokal masyarakatnya,” ujar peneliti kuliner, Helmy Syamsuri. “Saraba ibarat pelukan hangat nan hormat dari Sulsel, sedangkan Sekoteng adalah sapaan manis nan akrab dari keramaian jalanan Jawa. Keduanya adalah warisan infusi rempah yang berharga.”

Jadi, mana yang lebih enak? Tidak perlu memilih. Menghargai perbedaannya adalah bagian dari menikmati kekayaan budaya Indonesia yang sangat besar. Saat di Makassar, nikmatilah kehangatan creamy Saraba; saat di Jawa, burulah bunyi ‘ting ting’ penjual Sekoteng. Keduanya adalah pengalaman autentik dari kehangatan kuliner Nusantara.

Related News