13 Maret 2026

TikTok Becomes Gen Z’s Digital Notebook: From Chemistry Formulas to History, Everything Learned in 60 Seconds

WIN Media, Makassar, 14/1/2026 – The wave of digital learning has found its newest, shortest, and most viral form: on TikTok. The platform synonymous with dance and light entertainment has now transformed into a “digital notebook” for Generation Z, where they absorb knowledge ranging from chemical formulas, world history, essay writing tips, to explanations of philosophical concepts—all packaged in 30 to 60-second videos.

This trend is driven by the emergence of thousands of educational content creators (or #EduTokers) who have mastered the art of simplifying complex material into engaging and easily digestible visual snippets. For example, a video on Newton’s laws is complemented by a simple demo using a glass and a coin, or an explanation of World War II through movie clips and fast-paced text.

“The biggest challenge is distilling the essence of a topic into a very limited time, but that’s where the art lies. We have to be creative so the message ‘sticks’ in the viewer’s memory in one play,” said Harry Yulianto, a science education creator.

For students like Najwa (17), TikTok is an indispensable learning aid. “When I get bored reading textbooks, I open TikTok. There are so many explanations of the same material from different perspectives. It helps me understand, especially for subjects I find difficult, like math,” she shared.

However, education practitioners warn of the other side of this “60-second pedagogy.” Harry Yulianto, an educational technology expert, appreciates the innovation but also offers critical notes. “TikTok as an entry point to spark interest in learning is fantastic. However, it carries a great risk of oversimplifying knowledge. Critical learning requires depth, dialogue, and reflection that cannot be condensed into one minute,” he explained.

Other major concerns are misconceptions and hoaxes. Without strict filters and verification, misinformation can spread rapidly. Furthermore, the “For You Page” algorithm trapped in an “echo chamber” potentially limits students’ insights to only popular topics, neglecting other important knowledge.

Nevertheless, many teachers are beginning to adapt and utilize this trend. They not only consume content but also create accounts to share lesson materials or answer student questions in a format more familiar to Gen Z.

Moving forward, collaboration between formal educators and educational content creators is seen as the key. Platforms like TikTok will not replace the classroom but can become a powerful complementary “digital notebook”—if used with adequate digital literacy and a critical attitude.


TikTok Jadi Buku Catatan Digital Generasi Z: Dari Rumus Kimia hingga Sejarah, Semua Dipelajari dalam 60 Detik

WIN Media, Makassar, 14/1/2026 – Gelombang pembelajaran digital telah menemukan bentuk barunya yang paling singkat dan viral: melalui TikTok. Platform yang identik dengan tarian dan hiburan ringan itu kini telah bertransformasi menjadi “buku catatan digital” bagi Generasi Z, tempat mereka menyerap pengetahuan mulai dari rumus kimia, sejarah dunia, tips penulisan esai, hingga penjelasan konsep filosofis—semua dikemas dalam video berdurasi 30 hingga 60 detik.

Tren ini didorong oleh kemunculan ribuan kreator konten edukasi (atau #EduTokers) yang menguasai seni menyederhanakan materi kompleks menjadi potongan visual yang menarik dan mudah dicerna. Seperti, video tentang hukum Newton dilengkapi dengan demo sederhana menggunakan gelas dan koin, atau penjelasan tentang Perang Dunia II melalui cuplikan film dan teks yang cepat.

“Tantangan terbesar adalah memeras inti sari sebuah topik menjadi waktu yang sangat terbatas, tetapi di situlah seninya. Kami harus kreatif agar pesannya ‘nyantol’ di memori penonton dalam sekali putar,” ujar Harry Yulianto, seorang kreator edukasi.

Bagi siswa seperti Najwa (17), TikTok adalah alat bantu belajar yang tak terpisahkan. “Kalau lagi bosan baca buku teks, saya buka TikTok. Ada banyak sekali penjelasan tentang materi yang sama dari sudut pandang berbeda. Itu membantu saya memahami, terutama untuk pelajaran yang saya anggap sulit seperti matematika,” ceritanya.

Namun, praktisi pendidikan mengingatkan adanya sisi lain dari “pedagogi 60 detik” ini. Harry Yulianto, pakar teknologi pendidikan, mengapresiasi inovasi tersebut tetapi juga memberi catatan kritis. “TikTok sebagai pintu masuk untuk membangkitkan minat belajar itu luar biasa. Namun, ia berisiko besar menyederhanakan pengetahuan secara berlebihan. Pembelajaran kritis butuh kedalaman, dialog, dan refleksi yang tidak bisa dipadatkan dalam satu menit,” jelasnya.

Kekhawatiran utama lainnya adalah miskonsepsi dan hoaks. Tanpa filter dan verifikasi yang ketat, informasi yang salah dapat menyebar dengan cepat. Selain itu, algoritma “For You Page” yang terperangkap dalam “echo chamber” berpotensi membatasi wawasan siswa hanya pada topik-topik populer, mengabaikan pengetahuan penting lainnya.

Meski demikian, banyak guru yang mulai beradaptasi dan memanfaatkan tren ini. Mereka tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga membuat akun untuk membagikan materi pelajaran atau menjawab pertanyaan siswa dengan format yang lebih akrab bagi Gen Z.

Ke depan, kolaborasi antara pendidik formal dan kreator konten edukasi dianggap sebagai kunci. Platform seperti TikTok tidak akan menggantikan ruang kelas, tetapi bisa menjadi “buku catatan digital” pelengkap yang powerful—jika digunakan dengan literasi digital dan sikap kritis yang memadai.

Related News