WIN Media, Makassar, 15/1/2026 – The social media platform TikTok has evolved into an unexpected virtual classroom, particularly for short and engaging science content. This populist “Science Edu-TikTok” phenomenon has successfully ignited children’s interest in science, but simultaneously poses new challenges for conventional teaching methods in schools.
Science content on TikTok, often presented by creators or even innovative teachers, packages chemistry experiments, physics explanations, or biology facts into 15 to 60-second videos. This visual, dynamic, and easily digestible format has proven highly effective in capturing the attention of the younger generation.
Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, appreciates this new wave of interest. “What’s happening is a democratization of science access. TikTok has successfully broken the psychological barrier that science is difficult and boring. Children who might not be interested in reading textbooks become curious seeing colorful chemical reactions or explanations about black holes with simple analogies. This is a highly effective gateway,” he told WIN Media.
However, Yulianto also warns of the other side of the coin. “The biggest challenge for schools is the ‘speed gap’ and depth. Students’ brains are now accustomed to high visual stimulation and instant information in a matter of seconds. They may then find lecture-based methods or procedural, time-consuming lab experiments less engaging. Furthermore, the TikTok algorithm can create an ‘echo chamber’ and the spread of oversimplified or even incorrect science information,” he explained.
According to him, schools must not condemn this platform but should adapt and integrate it critically. “Teachers must become ‘digital curators’ who select accurate TikTok content for classroom discussion, while also teaching digital literacy to assess content credibility. Conversely, schools can adopt the principles of micro-learning and visual storytelling from TikTok to make their own materials more engaging,” elaborated Harry Yulianto.
This phenomenon, he says, is a call for educators to no longer act as the sole source of knowledge, but as guides who help students navigate, filter, and deepen the flood of information they receive from the digital world.
Fenomena “TikTok Edukasi Sains”: Dampaknya pada Minat Anak dan Tantangan bagi Sekolah

WIN Media, Makassar, 15/1/2026 – Platform media sosial TikTok telah berkembang menjadi ruang kelas virtual yang tak terduga, khususnya untuk konten sains singkat dan menarik. Fenomena “TikTok Edukasi Sains” yang merakyat ini berhasil menyalakan minat anak-anak terhadap sains, namun sekaligus melemparkan tantangan baru bagi metode pengajaran konvensional di sekolah.
Konten sains di TikTok, sering dibawakan oleh kreator atau bahkan guru-guru inovatif, mengemas eksperimen kimia, penjelasan fisika, atau fakta biologi dalam video berdurasi 15 hingga 60 detik. Format yang visual, dinamis, dan mudah dicerna ini terbukti ampuh menangkap perhatian generasi muda.
Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, mengapresiasi gelombang minat baru ini. “Yang terjadi adalah democratization of science access. TikTok berhasil memecah penghalang psikologis bahwa sains itu sulit dan membosankan. Anak-anak yang mungkin tidak tertarik membaca buku teks, justru penasaran melihat reaksi kimia berwarna-warni atau penjelasan tentang lubang hitam dengan analogi yang sederhana. Ini adalah gateway yang sangat efektif,” ujarnya kepada WIN Media.
Namun, Yulianto juga memperingatkan sisi lain dari koin tersebut. “Tantangan terbesar bagi sekolah adalah ‘kesenjangan kecepatan’ dan kedalaman. Otak siswa sudah terbiasa dengan stimulasi visual tinggi dan informasi instant dalam hitungan detik. Mereka kemudian mungkin merasa metode ceramah atau eksperimen laboratorium yang prosedural dan membutuhkan waktu lama menjadi kurang menarik. Selain itu, algoritma TikTok bisa menciptakan ‘echo chamber’ dan penyebaran informasi sains yang terlalu disederhanakan atau bahkan salah,” jelasnya.
Menurutnya, sekolah tidak boleh mengutuk platform ini, melainkan harus beradaptasi dan mengintegrasikannya secara kritis. “Guru harus menjadi ‘kurator digital’ yang memilih konten TikTok yang akurat untuk didiskusikan di kelas, sekaligus mengajarkan literasi digital untuk menilai kredibilitas konten. Sebaliknya, sekolah bisa mengadopsi prinsip ‘pembelajaran mikro’ (micro-learning) dan storytelling visual dari TikTok untuk membuat materi mereka lebih engaging,” papar Harry Yulianto.
Fenomena ini, tuturnya, adalah panggilan bagi pendidik untuk tidak lagi berperan sebagai sumber pengetahuan satu-satunya, tetapi sebagai pemandu yang membantu siswa menavigasi, menyaring, dan memperdalam banjir informasi yang mereka terima dari dunia digital.

