WIN Media, Makassar, 13/1/2026 – Amidst the bustling development of Makassar City, lies a hidden green oasis offering tranquility and valuable lessons on the harmony between nature and humans. Lantebung Ecotourism, located in Bira Village, Tamalanrea District, has transformed from a once-degraded fishpond area into a “green lung” and a premier environmental tourism destination on the city’s fringe.
This approximately 30-hectare area is dominated by thriving mangrove forests, creating a labyrinth of roots and green canopies that serve as habitats for various biota. Visitors can explore its beauty by riding a jukung (traditional boat) through calm canals, directly observing migratory birds, crabs, and fish within this ecosystem. Besides nature tourism, the site offers conservation education, fresh seafood cuisine, and Instagrammable photo spots.
Lantebung’s success is closely tied to the active role of the local community, organized in a surveillance group. They conduct planting, maintenance, and independently manage tourism activities. This empowerment model is considered key to the ecotourism’s sustainability.
M. Nawir, a Senior Researcher from the Sulisa Matta Bangsa institute, appreciates the management model in Lantebung. “Lantebung Ecotourism is a tangible example of successful community-based ecotourism. Mangrove conservation is no longer seen as a restriction but as an asset that provides direct economic benefits through responsible tourism. This is a mutualistic symbiosis: mangroves are preserved, the marine ecosystem improves, and the welfare of the surrounding community increases,” he explained.
However, challenges remain. Development pressure around the area and the volume of plastic waste carried by currents are serious concerns. Nawir added, “Lantebung’s sustainability depends on shared commitment. Strong policy support from the city government is needed to maintain this green zoning, as well as collective visitor awareness to leave no trash behind.”
For Makassar residents and tourists, Lantebung Ecotourism offers a refreshing short escape without having to travel far. This destination proves that nature conservation and economic empowerment can go hand in hand, creating a small “sanctuary” on the city’s outskirts that is worth preserving.
Ekowisata Lantebung Makassar: Surga Mangrove dan Konservasi di Pinggiran Kota

WIN Media, Makassar, 13/1/2026 – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Makassar, tersembunyi sebuah oase hijau yang menawarkan kedamaian sekaligus pelajaran berharga tentang harmonisasi alam dan manusia. Ekowisata Lantebung, yang terletak di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, telah bertransformasi dari kawasan tambak yang sempat terdegradasi menjadi “paru-paru” dan destinasi wisata lingkungan unggulan di pinggiran kota.
Kawasan seluas sekitar 30 hektar ini didominasi oleh hutan mangrove yang tumbuh subur, menciptakan labirin akar dan kanopi hijau yang menjadi habitat bagi berbagai biota. Pengunjung dapat menyusuri keindahannya dengan naik jukung (perahu tradisional) melintasi kanal yang tenang, menyaksikan langsung burung migran, kepiting, dan ikan yang hidup di ekosistem ini. Selain wisata alam, tempat ini juga menawarkan edukasi konservasi, kuliner seafood segar, dan spot foto yang instagramable.
Keberhasilan Lantebung tidak lepas dari peran aktif masyarakat lokal yang tergabung dalam kelompok pengawas. Mereka melakukan penanaman, pemeliharaan, sekaligus mengelola aktivitas wisata secara mandiri. Model pemberdayaan ini dinilai sebagai kunci kesinambungan ekowisata.
M. Nawir, Peneliti Senior dari lembaga Sulisa Matta Bangsa, mengapresiasi model pengelolaan di Lantebung. “Ekowisata Lantebung adalah contoh nyata community-based ecotourism yang berhasil. Konservasi mangrove bukan lagi dilihat sebagai larangan, tetapi sebagai aset yang memberi manfaat ekonomi langsung melalui wisata yang bertanggung jawab. Ini adalah simbiosis mutualisme: mangrove terjaga, ekosistem laut membaik, dan kesejahteraan masyarakat sekitar meningkat,” paparnya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Tekanan pembangunan di sekitar kawasan dan volume sampah plastik yang terbawa arus menjadi perhatian serius. Nawir menambahkan, “Keberlanjutan Lantebung bergantung pada komitmen bersama. Perlu dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah kota untuk mempertahankan zonasi hijau ini, serta kesadaran kolektif pengunjung untuk tidak meninggalkan jejak sampah.”
Bagi warga Makassar dan wisatawan, Ekowisata Lantebung menawarkan pelarian singkat yang menyejukkan tanpa harus pergi jauh. Destinasi ini membuktikan bahwa pelestarian alam dan pemberdayaan ekonomi bisa berjalan beriringan, menciptakan sebuah “surga” kecil di pinggiran kota yang layak untuk dijaga keberadaannya.

