WIN Media, Makassar, 16/1/2026 – The iconic panorama along Losari Beach, long dominated by the curve of the Makassar Strait and sunset silhouettes, has gained a new architectural element that is quickly becoming a signature feature. The 99-Dome Mosque, standing majestically in the area, has not only added a place of worship but has transformed itself into a primary city landmark that invites both awe and contemplation.
With an architectural design adopting a distinctive Middle Eastern style, the mosque offers a view that contrasts yet harmonizes with the blue sea backdrop. Its 99 domes, symbolizing the Asmaul Husna (Names of God), are not only a religious symbol but also a powerful aesthetic element, creating a unique silhouette against the Makassar sky. Its strategic location makes it a new focal point for citizens exercising during car-free days and visiting tourists.
The presence of this mosque is seen to have shifted the axis of attention in the Losari area, creating a new destination that blends religious tourism, architecture, and culture. It stands as physical proof of the city’s evolving dynamics, presenting a public space with value beyond an ordinary hangout spot.
M. Nawir, Senior Researcher from the Sulisa Matta Bangsa institute in Makassar, highlights the socio-cultural aspect of this landmark’s emergence. “The 99-Dome Mosque is an interesting phenomenon in Makassar’s urban spatial planning. It is not merely a place of worship but an architectural statement communicating a modern and monumental Islamic identity. In the context of Losari as the most democratic public space in Makassar, its presence creates a new dialectic between spirituality and urban life,” he explained.
However, Nawir also cautions about the importance of wise integration. “As a new landmark, the challenge is to ensure it functions inclusively. The mosque must remain a comfortable house of worship for congregations while being a landmark appreciated by people of all backgrounds regardless of religion. The management of traffic, parking, and commercial activities around it needs to be regulated so as not to disturb the solemnity of worship but instead strengthen it as a unified destination.”
With its grandeur and strategic location, the 99-Dome Mosque has established itself as a new icon. It not only enriches Losari’s visual landscape but also strengthens the narrative of Makassar as a metropolis that values religious tradition, architectural art, and quality public space. This landmark is predicted to become one of the must-visit spots defining Makassar’s future face.
Lanskap Baru Losari: Kemunculan Masjid 99 Kubah sebagai Landmark Kota Makassar

WIN Media, Makassar, 16/1/2026 – Panorama ikonik sepanjang Pantai Losari, yang selama ini didominasi oleh lengkung laut Selat Makassar dan siluet matahari terbenam, kini mendapatkan elemen arsitektural baru yang segera menjadi ciri khas. Masjid 99 Kubah, yang berdiri megah di kawasan tersebut, tidak hanya menambah ruang ibadah tetapi telah mentransformasi dirinya menjadi landmark utama kota yang mengundang decak kagum sekaligus perenungan.
Masjid dengan desain arsitektur yang mengadopsi gaya khas Timur Tengah ini menawarkan pemandangan yang kontras namun harmonis dengan latar belakang laut biru. Ke-99 kubahnya, yang melambangkan Asmaul Husna, tidak hanya menjadi simbol religius tetapi juga elemen estetika yang kuat, menciptakan siluet yang unik terhadap langit Makassar. Lokasinya yang strategis menjadikannya titik fokus baru bagi warga yang berolahraga di car free day maupun wisatawan yang berkunjung.
Kehadiran masjid ini dinilai telah menggeser poros perhatian di kawasan Losari, menciptakan destinasi baru yang memadukan wisata religi, arsitektur, dan budaya. Ia menjadi bukti fisik dari dinamika kota yang terus berkembang, menghadirkan ruang publik dengan nilai lebih dari sekadar tempat nongkrong biasa.
M. Nawir, Peneliti Senior dari lembaga Sulisa Matta Bangsa, Makassar, menyoroti aspek sosio-kultural dari kemunculan landmark ini. “Masjid 99 Kubah adalah fenomena menarik dalam tata ruang kota Makassar. Ia bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan sebuah statement arsitektural yang mengkomunikasikan identitas keislaman yang modern dan monumental. Dalam konteks Losari sebagai ruang publik paling demokratis di Makassar, kehadirannya menciptakan dialektika baru antara spiritualitas dan kehidupan urban,” paparnya.
Namun, Nawir juga mengingatkan tentang pentingnya integrasi yang bijak. “Sebagai landmark baru, tantangannya adalah memastikan bahwa ia berfungsi inklusif. Masjid harus tetap menjadi rumah ibadah yang nyaman bagi jamaah, sekaligus landmark yang bisa diapresiasi oleh semua kalangan tanpa memandang agama. Pengelolaan lalu lintas, parkir, dan aktivitas komersial di sekitarnya perlu diatur agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah, tetapi justru saling menguatkan sebagai satu kesatuan destinasi.”
Dengan kemegahan dan lokasinya yang strategis, Masjid 99 Kubah telah menancapkan diri sebagai ikon baru. Ia tidak hanya memperkaya lanskap visual Losari tetapi juga memperkuat narasi Makassar sebagai kota metropolis yang menghargai tradisi religius, seni arsitektur, dan ruang publik berkualitas. Landmark ini diprediksi akan menjadi salah satu must-visit spot yang mendefinisikan wajah Makassar ke depan.

