8 Mei 2026

From Corn Fields to The Dining Table: The Journey of Binte as Masamba’s Culinary Icon

WIN Media, Masamba, 6/4/2026 – On the highlands of North Luwu Regency, vast stretches of green corn fields extend across the landscape. Here, in Masamba District, begins the journey of a simple yet meaningful dish. Binte, Masamba’s signature corn soup, is more than just food. It is the fruit of a long journey—from corn seeds planted in the fields, carefully tended with patience, harvested with joy, to finally being cooked into a warm dish that unites families and communities.

According to Umar, a culinary observer from Makassar, binte is a mirror of the close relationship between the Luwu people and their nature. “Binte cannot be separated from corn. And corn cannot be separated from farmers. Every spoonful of binte we enjoy is the result of hard work in the fields, of patience waiting for harvest season, and of gratitude for the abundant harvest. This is a journey worth respecting,” said Umar.

What is Binte?

Binte is a corn soup typical of Masamba, cooked with coconut milk, shallots, and simple spices. Its broth is thick, savory, and slightly sweet from the sweet corn that is its main ingredient. Binte is usually served warm, with slices of spring onion and celery, and sprinkled with fried shallots. Some variations add chicken or fish, but the most authentic version is binte with corn as the star.

“Binte is different from ordinary corn soups. Because it uses thick coconut milk, its texture is thicker and its taste more savory. This is the distinctive characteristic that sets it apart from corn soups in other regions,” Umar explained.

The Journey from the Fields: Corn as the Champion

Binte’s journey begins in the corn fields on the hills of Masamba. Local farmers plant local corn varieties that have been passed down through generations. Corn is planted at the start of the rainy season, tended using traditional methods without excessive chemical fertilizers. After about 3-4 months, the corn is ready for harvest.

“Corn is the champion of Masamba’s fields. The corn harvest is not only a source of carbohydrates but also a source of livelihood and pride. When harvest time arrives, the whole family goes down to the fields. This is a moment of joy eagerly awaited,” Umar explained.

After harvest, the corn is shelled or cut as needed. Some is sold at the market, some is processed into binte for family consumption and special occasions.

From Fields to Kitchen: The Process of Making Binte

The process of making binte begins by boiling corn in water until cooked. Then, shallots, garlic, and spices that have been sautéed until fragrant are added. Thick coconut milk is poured slowly while stirring to prevent curdling. The broth is cooked until thickened and the corn becomes soft. Spring onions, celery, and fried shallots are added at the end as a finishing touch.

“The key to delicious binte lies in the balance between the natural sweetness of corn, the savory richness of coconut milk, and the aroma of shallots. Not too thick, not too thin. This is a recipe passed down from mother to daughter, from generation to generation,” Umar revealed.

Binte as a Symbol of Gratitude and Togetherness

In Masamba community tradition, binte is often served at thanksgiving events, such as after harvest festivals, weddings, or births. Its presence symbolizes gratitude for the harvest and prayers for future blessings.

“Binte is a unifying dish. At communal feasts, everyone sits together, enjoying warm binte. There are no status differences; all are equal. This teaches the values of togetherness and mutual cooperation that characterize Luwu society,” Umar explained.

Binte at the Daily Table

Not only at traditional ceremonies, binte is also a daily dish in Masamba homes. Having warm binte for breakfast is a common sight. Children love the natural sweetness of corn, while adults enjoy the savory richness of coconut milk broth.

“Binte is a people’s dish. Its price is affordable, its ingredients are easy to find, and its cooking process is not complicated. This proves that deliciousness doesn’t have to be expensive,” added Umar.

Nutritional Value and Health Benefits

Binte is rich in complex carbohydrates from corn, providing long-lasting energy. Coconut milk contains healthy fats good for the body. Corn also contains fiber good for digestion, as well as B vitamins important for metabolism.

“Binte is an example of a traditional functional food. Our ancestors were wise in creating a dish that is not only tasty but also healthy. Corn and coconut milk are a perfect combination,” Umar said.

Binte in the Modern Era

Amidst the onslaught of modern cuisine, binte survives as Masamba’s culinary icon. The younger generation is beginning to take pride in their culinary heritage. Some innovations have been made, such as binte with added young sweet corn or instant binte in powdered packaging to make it easier for tourists to take home as souvenirs.

“Binte is Masamba’s culinary identity. I am optimistic that binte can become more widely known. What’s needed is promotion and attractive packaging without eliminating the essence of tradition,” Umar concluded.


Dari Ladang Jagung Ke Meja Makan: Perjalanan Binte Sebagai Ikon Kuliner Masamba

WIN Media, Masamba, 6/4/2026 – Di dataran tinggi Kabupaten Luwu Utara, hamparan ladang jagung yang hijau membentang luas. Di sinilah, di Kecamatan Masamba, perjalanan sebuah hidangan sederhana namun kaya makna dimulai. Binte, sup jagung khas Masamba, bukan sekadar makanan. Ia adalah buah dari perjalanan panjang—dari biji jagung yang ditanam di ladang, dirawat dengan penuh kesabaran, dipanen dengan sukacita, hingga akhirnya diolah menjadi hidangan hangat yang menyatukan keluarga dan masyarakat.

Menurut Umar, pemerhati kuliner dari Makassar, binte adalah cermin hubungan erat antara masyarakat Luwu dengan alamnya. “Binte tidak bisa dipisahkan dari jagung. Dan jagung tidak bisa dipisahkan dari petani. Setiap sendok binte yang kita nikmati adalah hasil dari kerja keras di ladang, dari kesabaran menunggu musim panen, dan dari rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Ini adalah perjalanan yang patut dihormati,” ujar Umar.

Apa Itu Binte?

Binte adalah sup jagung khas Masamba yang dimasak dengan santan, bawang, dan rempah sederhana. Kuahnya kental, gurih, dan sedikit manis dari jagung manis yang menjadi bahan utamanya. Binte biasanya disajikan hangat, dengan potongan daun bawang dan seledri, serta taburan bawang goreng. Beberapa variasi menambahkan potongan ayam atau ikan, namun versi paling autentik adalah binte dengan jagung sebagai bintang utamanya.

“Binte berbeda dengan sup jagung pada umumnya. Karena menggunakan santan kental, teksturnya lebih kental dan rasanya lebih gurih. Ini adalah ciri khas yang membedakannya dari sup jagung di daerah lain,” jelas Umar.

Perjalanan dari Ladang: Jagung sebagai Panglima

Perjalanan binte dimulai dari ladang jagung di perbukitan Masamba. Petani setempat menanam jagung varietas lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Jagung ditanam pada awal musim hujan, dirawat dengan metode tradisional tanpa pupuk kimia berlebihan. Setelah sekitar 3-4 bulan, jagung siap dipanen.

“Jagung adalah panglima di ladang Masamba. Hasil panen jagung tidak hanya menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga sumber ekonomi dan kebanggaan. Saat panen tiba, seluruh keluarga turun ke ladang. Ini adalah momen sukacita yang dinanti-nantikan,” papar Umar.

Setelah dipanen, jagung dipipil atau dipotong-potong sesuai kebutuhan. Sebagian dijual ke pasar, sebagian diolah menjadi binte untuk konsumsi keluarga dan acara-acara khusus.

Dari Ladang ke Dapur: Proses Mengolah Binte

Proses mengolah binte dimulai dengan merebus jagung dalam air hingga matang. Kemudian, ditambahkan bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah yang telah ditumis hingga harum. Santan kental dituang perlahan sambil diaduk agar tidak pecah. Kuah dimasak hingga mengental dan jagung menjadi lunak. Daun bawang, seledri, dan bawang goreng ditambahkan di akhir sebagai penyempurna.

“Kunci binte yang enak ada di keseimbangan antara manis alami jagung, gurihnya santan, dan aroma bawang. Tidak boleh terlalu kental, tidak boleh terlalu encer. Ini adalah resep yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan, dari generasi ke generasi,” ungkap Umar.

Binte sebagai Simbol Syukur dan Kebersamaan

Dalam tradisi masyarakat Masamba, binte sering disajikan dalam acara-acara syukuran, seperti setelah panen raya, pernikahan, atau kelahiran. Kehadirannya melambangkan rasa syukur atas hasil bumi dan doa untuk keberkahan di masa depan.

“Binte adalah hidangan pemersatu. Dalam kenduri, semua orang duduk bersama, menikmati binte hangat. Tidak ada perbedaan status, semua sama. Ini mengajarkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Luwu,” jelas Umar.

Binte di Meja Sehari-hari

Tidak hanya dalam acara adat, binte juga menjadi hidangan sehari-hari di rumah-rumah di Masamba. Sarapan dengan binte hangat adalah pemandangan umum. Anak-anak menyukai rasa manis alami jagung, sementara orang dewasa menikmati gurihnya kuah santan.

“Binte adalah makanan yang merakyat. Harganya terjangkau, bahannya mudah didapat, dan cara memasaknya tidak rumit. Ini bukti bahwa kelezatan tidak harus mahal,” tambah Umar.

Nilai Gizi dan Manfaat Kesehatan

Binte kaya akan karbohidrat kompleks dari jagung yang memberikan energi tahan lama. Santan mengandung lemak sehat yang baik untuk tubuh. Jagung juga mengandung serat yang baik untuk pencernaan, serta vitamin B yang penting untuk metabolisme.

“Binte adalah contoh pangan fungsional tradisional. Nenek moyang kita sudah cerdas meracik makanan yang tidak hanya enak tetapi juga menyehatkan. Jagung dan santan adalah kombinasi yang sempurna,” ujar Umar.

Binte di Era Modern

Di tengah gempuran kuliner modern, binte tetap bertahan sebagai ikon kuliner Masamba. Generasi muda mulai bangga dengan warisan kulinernya. Beberapa inovasi mulai dilakukan, seperti binte dengan tambahan jagung manis muda atau binte instan dalam kemasan bubuk untuk memudahkan wisatawan membawa pulang oleh-oleh.

“Binte adalah identitas kuliner Masamba. Saya optimis binte bisa dikenal lebih luas. Yang dibutuhkan adalah promosi dan kemasan yang menarik tanpa menghilangkan esensi tradisi,” pungkas Umar.

Related News