WIN Media, Masamba, 4/4/2026 – In the highlands of North Luwu Regency, precisely in Masamba District, lies a hidden culinary heritage that has been the pride of the local community for generations. Kapurung, a sago-based dish with savory fish broth and fresh vegetables, is more than just food. It is a mirror of local wisdom of the Luwu people in utilizing the abundant natural resources around them, particularly the aren palm which is the source of high-quality sago.
According to Umar, a culinary observer from Makassar, kapurung is a manifestation of food resilience of the agrarian community in this region. “Kapurung is not just a stomach-filling dish. It is a symbol of life for the Luwu people who have traditionally depended on nature. The sago processed into kapurung teaches us about patience, perseverance, and appreciation for natural processes,” said Umar.
What is Kapurung?
Kapurung is a typical dish of North Luwu, especially from the Masamba area, made from sago flour (aren starch) cooked with water until it thickens like porridge. The broth of kapurung is usually made from fish stock (carp, tilapia, or other freshwater fish) cooked with turmeric, ginger, shallots, and bay leaves until savory. Various vegetables such as water spinach, long beans, chayote, corn, and peanuts are added to the broth.
“Kapurung is different from papeda, which is more liquid and chewy. Kapurung has a thicker texture, almost like porridge, and is usually served with pieces of fish directly in it. This is the distinctive characteristic that sets it apart from sago dishes in other regions,” Umar explained.
History of Kapurung: From Aren Palm Forest to Dining Tables
The history of kapurung cannot be separated from the existence of aren palm trees that grow abundantly in Luwu’s forests. The local community has long utilized aren palms for various purposes, from palm sugar, palm wine, to sago starch. This sago starch is then processed into kapurung.
“In the past, kapurung was a staple food for the inland communities of Luwu, especially during lean seasons when rice was hard to obtain. Sago from aren palms was a lifesaver. Gradually, kapurung developed into a beloved daily dish, not only as a rice substitute but also as a special dish for traditional ceremonies,” Umar explained.
The Making Process: Patience and Skill
Making kapurung begins with extracting sago starch from aren palm trees. The trunk of the aren palm is cut down, the pith is taken, then grated and squeezed to extract the starch. The sago starch is then settled, dried, and ready for use.
“This process of extracting sago starch requires patience and extra physical effort. No wonder kapurung has more value than ordinary food. Every spoonful of kapurung is the result of hard work that deserves gratitude,” Umar revealed.
Once the sago starch is ready, the next step is cooking the kapurung. Sago starch is dissolved in cold water, then cooked while continuously stirred until thickened. Meanwhile, fish is boiled with spices until the broth is savory. Vegetables and peanuts are added at the end.
“The key to kapurung’s deliciousness lies in the stirring technique of the sago. It must be stirred continuously to prevent lumps and achieve a smooth, even texture. This is a task that requires patience,” added Umar.
Kapurung in Traditions and Rituals
In Luwu society, kapurung holds a special place in various traditional ceremonies. At harvest thanksgiving, weddings, and community feasts, kapurung is almost always present as the main dish. Its presence symbolizes gratitude for natural abundance and hope for future blessings.
“Kapurung is a unifying dish. At traditional ceremonies, everyone sits together, enjoying kapurung from a large shared container. This teaches the values of togetherness and mutual cooperation that characterize Luwu’s society,” Umar explained.
Nutritional Value and Health Benefits
Kapurung is rich in complex carbohydrates from sago, providing long-lasting energy. The added vegetables contribute fiber, vitamins, and minerals. Fish as a source of protein and omega-3 fatty acids is good for brain and heart health. Spices like turmeric and ginger also have anti-inflammatory properties.
“Kapurung is a traditional functional food. Our ancestors were wise in creating a dish that not only fills the stomach but also promotes health,” Umar said.
Kapurung in the Modern Era
Although times continue to change, kapurung survives as Masamba’s culinary icon. The younger generation is beginning to take pride in their culinary heritage. Some innovations have been made, such as instant sago packaging to make it easier to prepare kapurung at home.
“Kapurung is Masamba’s culinary identity. I am optimistic that kapurung can become more widely known, like papeda from Papua. What’s needed is promotion and attractive packaging without eliminating the essence of tradition,” Umar concluded.
Kapurung Masamba: Warisan Kuliner Dari Bumi Luwu Yang Menyehatkan

WIN Media, Masamba, 4/4/2026 – Di dataran tinggi Kabupaten Luwu Utara, tepatnya di Kecamatan Masamba, tersembunyi sebuah warisan kuliner yang telah menjadi kebanggaan masyarakat setempat selama bergenerasi. Kapurung, hidangan berbahan dasar sagu dengan kuah ikan yang gurih dan sayuran segar, bukan sekadar makanan. Ia adalah cermin kearifan lokal masyarakat Luwu dalam memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di sekitarnya, khususnya pohon aren yang menjadi sumber sagu berkualitas.
Menurut Umar, pemerhati kuliner dari Makassar, kapurung adalah manifestasi ketahanan pangan masyarakat agraris di wilayah ini. “Kapurung bukan sekadar hidangan pengganjal perut. Ia adalah simbol kehidupan masyarakat Luwu yang secara turun-temurun menggantungkan hidup pada alam. Sagu yang diolah menjadi kapurung mengajarkan kita tentang kesabaran, ketekunan, dan penghargaan terhadap proses alam,” ujar Umar.
Apa Itu Kapurung?
Kapurung adalah hidangan khas Luwu Utara, terutama dari daerah Masamba, yang terbuat dari tepung sagu (pati aren) yang dimasak dengan air hingga mengental seperti bubur. Kuah kapurung biasanya terbuat dari kaldu ikan (bisa ikan mas, ikan nila, atau ikan air tawar lainnya) yang dimasak dengan kunyit, jahe, bawang, dan daun salam hingga gurih. Ke dalam kuah tersebut ditambahkan berbagai sayuran seperti kangkung, kacang panjang, labu siam, jagung, dan kacang tanah.
“Kapurung berbeda dari papeda yang lebih cair dan kenyal. Kapurung memiliki tekstur lebih kental, hampir seperti bubur, dan biasanya disajikan dengan potongan ikan langsung di dalamnya. Ini adalah ciri khas yang membedakannya dari olahan sagu di daerah lain,” jelas Umar.
Sejarah Kapurung: Dari Hutan Aren ke Meja Makan
Sejarah kapurung tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pohon aren (enau) yang tumbuh subur di hutan-hutan Luwu. Masyarakat setempat sejak dulu memanfaatkan pohon aren untuk berbagai keperluan, mulai dari gula aren, tuak, hingga pati sagu. Pati sagu inilah yang kemudian diolah menjadi kapurung.
“Dahulu, kapurung adalah makanan pokok masyarakat pedalaman Luwu, terutama saat musim paceklik ketika beras sulit didapat. Sagu dari pohon aren menjadi penyelamat. Lambat laun, kapurung berkembang menjadi hidangan sehari-hari yang digemari, tidak hanya sebagai makanan pengganti beras tetapi juga sebagai santapan istimewa dalam acara-acara adat,” papar Umar.
Proses Pembuatan: Kesabaran dan Keterampilan
Pembuatan kapurung dimulai dari pengambilan pati sagu dari pohon aren. Batang pohon aren ditebang, diambil empulurnya, lalu diparut dan diperas untuk diambil patinya. Pati sagu kemudian diendapkan, dikeringkan, dan siap diolah.
“Proses pengambilan pati sagu ini membutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra. Tidak heran jika kapurung memiliki nilai lebih dibanding makanan biasa. Setiap sendok kapurung adalah hasil kerja keras yang patut disyukuri,” ungkap Umar.
Setelah pati sagu siap, langkah selanjutnya adalah memasak kapurung. Pati sagu dilarutkan dengan air dingin, lalu dimasak sambil diaduk terus hingga mengental. Sementara itu, ikan direbus dengan bumbu rempah hingga kuahnya gurih. Sayuran dan kacang tanah ditambahkan di akhir.
“Kunci kelezatan kapurung ada di teknik mengaduk sagu. Harus terus diaduk agar tidak menggumpal dan teksturnya lembut merata. Ini pekerjaan yang butuh ketelatenan,” tambah Umar.
Kapurung dalam Tradisi dan Ritual Adat
Dalam masyarakat Luwu, kapurung memiliki tempat istimewa dalam berbagai upacara adat. Pada acara syukuran panen, pernikahan, dan selamatan, kapurung hampir selalu hadir sebagai hidangan utama. Kehadirannya melambangkan rasa syukur atas hasil alam dan harapan akan keberkahan di masa depan.
“Kapurung adalah hidangan pemersatu. Dalam acara adat, semua orang duduk bersama, menikmati kapurung dalam satu wadah besar. Ini mengajarkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Luwu,” jelas Umar.
Nilai Gizi dan Manfaat Kesehatan
Kapurung kaya akan karbohidrat kompleks dari sagu yang memberikan energi tahan lama. Sayuran yang ditambahkan menyumbang serat, vitamin, dan mineral. Ikan sebagai sumber protein dan asam lemak omega-3 baik untuk kesehatan otak dan jantung. Rempah-rempah seperti kunyit dan jahe juga memiliki sifat anti-inflamasi.
“Kapurung adalah pangan fungsional tradisional. Nenek moyang kita sudah cerdas meracik makanan yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menyehatkan,” ujar Umar.
Kapurung di Era Modern
Meskipun zaman terus berubah, kapurung tetap bertahan sebagai ikon kuliner Masamba. Generasi muda mulai bangga dengan warisan kulinernya. Beberapa inovasi mulai dilakukan, seperti kemasan sagu instan untuk memudahkan pembuatan kapurung di rumah.
“Kapurung adalah identitas kuliner Masamba. Saya optimis kapurung bisa dikenal lebih luas, seperti papeda dari Papua. Yang dibutuhkan adalah promosi dan kemasan yang menarik tanpa menghilangkan esensi tradisi,” pungkas Umar.

