WIN Media, Yogyakarta, 28/3/2026 – An artificial intelligence project called MiroFish is capturing global attention. Developed in a remarkably short time by a young Chinese developer, MiroFish goes beyond conventional data analysis—it runs large-scale social simulations using thousands of autonomous agents, each equipped with unique memory, personality, and decision-making patterns.
Within days of its introduction, MiroFish not only topped trending charts on GitHub but also secured millions of dollars in funding from investors. The technology is hailed as an early representation of a new direction for AI: a social simulation engine capable of replicating societal dynamics in a realistic manner.
Technically, the system builds a digital ecosystem populated by thousands of autonomous agents. Each agent is designed with distinct backgrounds, decision-making logic, and memory capabilities. When fed inputs such as news, policy changes, or market signals, MiroFish simulates how these individuals interact, form opinions, and respond to shifting circumstances. The output is a dynamic picture of social evolution, not a static report based solely on historical data.
Commenting on this development, Kunto Wibisono, a technology and cybersecurity expert based in Yogyakarta, said MiroFish opens new frontiers in AI application. “So far, AI has mostly been used to identify patterns in past data. MiroFish tries to go a step further: predicting how a particular policy or event might shape collective human behavior. This holds great potential for policy planning, crisis management, and public communication strategies,” he explained.
However, Kunto also pointed out several challenges. “The quality of the simulation heavily depends on the data used to ‘populate’ the agents’ characteristics. If the data fails to represent social diversity or contains bias, the predictions could be misleading. Moreover, there is the issue of efficiency—running thousands of agents with heavy computation naturally consumes large amounts of energy and token costs, as many developers on GitHub have highlighted,” he added.
Kunto emphasized that technologies like MiroFish are not meant to replace human intuition but to serve as decision-support tools. “In the future, we might see extensions of this technology—for instance, to assess risks before someone posts on social media, or to test various policy scenarios before they are actually implemented.”
Although still in its early stages, MiroFish marks a significant shift: from AI that merely “reads” the world to AI that can “simulate” possible futures.
Bukan Sekadar Analisis Data, MiroFish Hadirkan “Mesin Simulasi Sosial” untuk Prediksi Perilaku Kolektif

WIN Media, Yogyakarta, 28/3/2026 – Sebuah proyek kecerdasan buatan (AI) bernama MiroFish tengah menjadi sorotan global. Dikembangkan dalam waktu singkat oleh pengembang muda asal Tiongkok, MiroFish tidak sekadar menganalisis data, tetapi mampu menjalankan simulasi sosial berskala besar dengan melibatkan ribuan agen otonom yang memiliki karakter dan memori unik.
Dalam hitungan hari sejak diperkenalkan, MiroFish langsung mendominasi tren di GitHub—platform pengembang perangkat lunak—dan berhasil mengamankan pendanaan jutaan dolar dari para investor. Teknologi ini digadang sebagai representasi awal dari arah baru pemanfaatan AI: sebagai mesin simulasi sosial yang dapat mereplikasi dinamika masyarakat secara realistis.
Secara teknis, sistem ini membangun ekosistem digital berisi ribuan agen otonom. Setiap agen dirancang memiliki latar belakang, pola pengambilan keputusan, serta kemampuan memori. Ketika diberikan input seperti berita, kebijakan, atau sinyal pasar, MiroFish mensimulasikan bagaimana individu-individu tersebut berinteraksi, membentuk opini, hingga bereaksi terhadap perubahan. Hasilnya adalah gambaran evolusi sosial yang dinamis, bukan sekadar laporan statis berbasis data historis.
Menanggapi perkembangan ini, Kunto Wibisono, pakar teknologi dan keamanan siber asal Yogyakarta, menilai MiroFish membuka cakrawala baru dalam pemanfaatan AI. “Selama ini AI lebih banyak digunakan untuk mengenali pola dari data masa lalu. MiroFish mencoba melangkah lebih jauh: memprediksi bagaimana suatu kebijakan atau peristiwa akan membentuk perilaku kolektif masyarakat. Ini sangat potensial untuk perencanaan kebijakan, manajemen krisis, hingga strategi komunikasi publik,” ujarnya.
Namun, Kunto juga mengingatkan sejumlah tantangan. “Kualitas simulasi sangat bergantung pada data yang digunakan untuk ‘mengisi’ karakter agen. Jika data yang dipakai tidak merepresentasikan keragaman sosial atau bias, maka hasil prediksi bisa keliru. Selain itu, ada persoalan efisiensi—menggunakan ribuan agen dengan komputasi besar tentu boros energi dan biaya token, seperti yang banyak disorot komunitas pengembang di GitHub,” tambahnya.
Kunto menekankan bahwa teknologi seperti MiroFish bukan untuk menggantikan intuisi manusia, melainkan menjadi alat bantu dalam pengambilan keputusan. “Ke depan, kita mungkin akan melihat ekstensi dari teknologi ini, misalnya untuk menilai risiko sebelum seseorang berkomentar di media sosial, atau untuk menguji berbagai skenario kebijakan sebelum benar-benar diterapkan.”
Meski masih dalam tahap awal, kehadiran MiroFish menandai pergeseran penting: dari AI yang sekadar “membaca” dunia, menuju AI yang mampu “memainkan” skenario masa depan.

