7 Mei 2026

Sate Kere in Solo’s Culinary Culture: The Inspiring Legacy of A People’s Dish

WIN Media, Surakarta, 30/3/2026 – Amidst the glitter of constantly emerging modern cuisine in Solo City, there is one simple dish that stands as a silent witness to the historical journey of the marginalized community. Sate Kere, with its main ingredient of tempeh gembus and distinctive peanut sauce, is more than just food. It is a mirror of creativity and resilience of the “wong cilik” (common people) born from economic limitations in the past, and has now become an inspiring culinary heritage.

According to Awan Susanto, a culinary observer from Surakarta, sate kere is a manifestation of the fighting spirit of the common people in surviving. “Sate kere teaches us that limitations are not barriers to creating. When the poor couldn’t afford meat, they created with tempeh gembus—tofu waste processed into tempeh—and created a dish no less delicious than meat satay. This is proof of extraordinary creativity from the common people,” said Awan.

The Origin of Sate Kere: From Railway Tracks to Dining Tables

The history of sate kere cannot be separated from the colonial era and economic hardships experienced by Solo’s people. At that time, beef or goat meat could only be enjoyed by nobles and the wealthy. Ordinary people had to be clever in utilizing cheap and easily available ingredients.

“Sate kere was born in densely populated settlements around railway tracks, such as in Jayengan, Pasar Kliwon, and along the railway banks. There, street vendors began selling satay made from tempeh gembus at very low prices. The name ‘kere’ meaning poor became attached to this dish, but it actually became a proud identity because it has survived to this day,” Awan explained.

The Philosophy of the Name “Kere”: Between Stigma and Pride

The name “sate kere” might sound degrading, but for Solo’s people, this name actually became a symbol of struggle and honesty. Nothing to hide—indeed this dish was born from the pockets of the poor, and that’s what makes it special.

“Javanese people have a philosophy ‘ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana’—one’s self-worth lies in their words, one’s bodily worth lies in their clothing. But in the case of sate kere, self-worth lies in the honesty of accepting reality. No need to pretend to be meat satay, just be authentic and delicious sate kere. This is what makes it respected,” Awan explained.

Tempeh Gembus: The Star of Sate Kere

The main ingredient of sate kere is tempeh gembus—tempeh made from tofu residue after soybean extract is taken. This tofu industry waste is then processed with yeast and fermented until it becomes tempeh with a distinctive texture.

“Tempeh gembus is an example of clever zero waste. What was once discarded is processed into nutritious food. This teaches us to always appreciate food and not waste sustenance. Nutritionally, tempeh gembus still contains protein and fiber good for the body,” Awan revealed.

The tempeh gembus is then cut into cubes, skewered with palm ribs, and grilled over charcoal until browned. Before grilling, the tempeh is usually briefly soaked in spices for better flavor absorption.

Peanut Sauce: The Soul of Sate Kere

The peanut sauce of sate kere has its own characteristics. Made from ground fried peanuts mixed with garlic, chili, palm sugar, aromatic ginger, and a little fermented shrimp paste. Its consistency is just right—not too thin, not too thick.

“Sate kere’s peanut sauce tends to be simpler compared to regular satay sauce. This reflects the simplicity that characterizes this people’s dish. But precisely this simplicity makes it easily accepted and loved by many,” added Awan.

Sate Kere in the Lives of Marginalized Communities

For Solo’s marginalized communities, sate kere is not just food but also a source of livelihood. Many street vendors depend on this dish. They sell on roadsides, near railway tracks, or in traditional markets with small capital but great spirit.

“Sate kere is an economic wheel for the common people. With relatively small capital, they can start a business and support their families. This proves that traditional cuisine has a huge social role,” Awan said.

One legendary sate kere center in Solo is in the Jayengan area, precisely on Jl. Dr. Radjiman near the railway tracks. There, dozens of vendors line up selling sate kere with generational recipes.

Sate Kere vs Meat Satay: Two Worlds in One City

The coexistence of sate kere and meat satay creates an interesting culinary duality in Solo. There’s meat satay for the wealthy, and sate kere for ordinary people. Both are equally delicious, equally loved, only different in ingredients.

“This is like a mirror of social stratification that can be seen through food. But interestingly, sate kere is actually more popular among young people now. They’re curious about its taste and interested in its philosophy. So sate kere actually becomes a bridge uniting various levels of society,” Awan explained.

Awan urges the younger generation of Solo not to forget sate kere. “Sate kere is Solo’s common people’s culinary identity. It teaches us about creativity, resilience, and honesty. We must not be prouder of imported satay than our own ancestral heritage. Visit sate kere stalls, enjoy its taste, and understand its philosophy. By doing so, we participate in preserving an invaluable cultural heritage,” he concluded.


Sate Kere Dalam Budaya Kuliner Solo: Jejak Hidangan Rakyat Yang Menginspirasi

WIN Media, Surakarta, 30/3/2026 – Di antara gemerlap kuliner modern yang terus bermunculan di Kota Solo, ada satu hidangan sederhana yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat pinggiran. Sate Kere, dengan bahan utama tempe gembus dan bumbu kacang yang khas, bukan sekadar makanan. Ia adalah cermin kreativitas dan ketahanan “wong cilik” (rakyat kecil) yang lahir dari keterbatasan ekonomi di masa lalu, dan kini telah menjadi warisan kuliner yang menginspirasi banyak pihak.

Menurut Awan Susanto, pemerhati kuliner dari Surakarta, sate kere adalah manifestasi semangat juang masyarakat kecil dalam bertahan hidup. “Sate kere mengajarkan kita bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berkarya. Ketika dulu masyarakat miskin tidak mampu membeli daging, mereka berkreasi dengan tempe gembus—ampas tahu yang diolah menjadi tempe—dan menciptakan hidangan yang tak kalah lezat dari sate daging. Inilah bukti kreativitas luar biasa dari rakyat kecil,” ujar Awan.

Asal-Usul Sate Kere: Dari Pinggir Rel ke Meja Makan

Sejarah sate kere tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan dan kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat Solo. Pada masa itu, daging sapi atau kambing hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan dan orang kaya. Sementara rakyat biasa harus pintar-pintar memanfaatkan bahan yang murah dan mudah didapat.

“Sate kere lahir di kampung-kampung padat penduduk sekitar rel kereta api, seperti di daerah Jayengan, Pasar Kliwon, dan sepanjang bantaran rel. Di sanalah para pedagang kaki lima mulai menjajakan sate dari tempe gembus dengan harga sangat murah. Nama ‘kere’ yang berarti miskin melekat pada hidangan ini, tetapi justru menjadi identitas kebanggaan karena mampu bertahan hingga kini,” jelas Awan.

Filosofi Nama “Kere”: Antara Stigma dan Kebanggaan

Nama “sate kere” mungkin terdengar merendahkan, namun bagi masyarakat Solo, nama ini justru menjadi simbol perjuangan dan kejujuran. Tidak ada yang perlu disembunyikan—memang hidangan ini lahir dari kantong orang miskin, dan itulah yang membuatnya istimewa.

“Orang Jawa punya filosofi ‘ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana’—harga diri seseorang terletak pada ucapannya, harga diri tubuh pada pakaiannya. Tapi dalam hal sate kere, harga diri justru terletak pada kejujuran menerima kenyataan. Tidak perlu berpura-pura menjadi sate daging, cukup jadi sate kere yang autentik dan lezat. Inilah yang membuatnya dihormati,” papar Awan.

Tempe Gembus: Bintang Utama Sate Kere

Bahan utama sate kere adalah tempe gembus—tempe yang terbuat dari ampas tahu setelah diambil sari kedelainya. Limbah industri tahu ini kemudian diolah dengan ragi dan difermentasi hingga menjadi tempe yang memiliki tekstur khas.

“Tempe gembus adalah contoh zero waste yang cerdas. Apa yang tadinya dibuang, diolah menjadi bahan makanan bergizi. Ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakan rezeki. Secara nutrisi, tempe gembus tetap mengandung protein dan serat yang baik untuk tubuh,” ungkap Awan.

Tempe gembus kemudian dipotong dadu, ditusuk dengan lidi, dan dibakar di atas arang hingga matang kecokelatan. Sebelum dibakar, tempe biasanya direndam sebentar dalam bumbu agar rasanya meresap.

Bumbu Kacang: Jiwa Sate Kere

Bumbu kacang sate kere memiliki karakteristik tersendiri. Terbuat dari kacang tanah goreng yang dihaluskan, dicampur dengan bawang putih, cabai, gula merah, kencur, dan sedikit petis. Kekentalannya pas—tidak terlalu encer, tidak terlalu kental.

“Bumbu kacang sate kere cenderung lebih sederhana dibanding bumbu sate pada umumnya. Ini mencerminkan kesederhanaan yang menjadi ciri khas hidangan rakyat. Tapi justru kesederhanaan inilah yang membuatnya mudah diterima dan dicintai banyak orang,” tambah Awan.

Sate Kere dalam Kehidupan Masyarakat Pinggiran

Bagi masyarakat pinggiran Solo, sate kere bukan sekadar makanan, tetapi juga sumber penghidupan. Banyak pedagang kaki lima yang menggantungkan nasib pada hidangan ini. Mereka berjualan di pinggir jalan, dekat rel kereta, atau di pasar-pasar tradisional dengan modal kecil namun semangat besar.

“Sate kere adalah roda ekonomi bagi wong cilik. Dengan modal relatif kecil, mereka bisa membuka usaha dan menghidupi keluarga. Ini bukti bahwa kuliner tradisional memiliki peran sosial yang sangat besar,” ujar Awan.

Salah satu sentra sate kere legendaris di Solo adalah di daerah Jayengan, tepatnya di Jl. Dr. Radjiman dekat rel kereta api. Di sana, puluhan pedagang berjejer menjajakan sate kere dengan resep turun-temurun.

Sate Kere vs Sate Daging: Dua Dunia dalam Satu Kota

Keberadaan sate kere berdampingan dengan sate daging menciptakan dualitas kuliner yang menarik di Solo. Ada sate daging untuk kalangan mampu, ada sate kere untuk rakyat biasa. Keduanya sama-sama lezat, sama-sama dicintai, hanya berbeda bahan.

“Ini seperti cermin stratifikasi sosial yang bisa dilihat dari makanan. Tapi yang menarik, sate kere justru lebih populer di kalangan anak muda sekarang. Mereka penasaran dengan rasanya dan tertarik dengan filosofinya. Jadi sate kere justru menjadi jembatan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat,” jelas Awan.

Awan berpesan agar generasi muda Solo tidak melupakan sate kere. “Sate kere adalah identitas kuliner wong cilik Solo. Ia mengajarkan kita tentang kreativitas, ketahanan, dan kejujuran. Jangan sampai kita lebih bangga dengan sate impor daripada warisan leluhur sendiri. Kunjungi warung sate kere, nikmati rasanya, dan pahami filosofinya. Dengan begitu, kita ikut melestarikan warisan budaya yang tak ternilai,” pungkasnya.

Related News