13 Maret 2026

ChatGPT-5 in the Classroom: A Plagiarism Threat or the Future Teaching Assistant?

WIN Media, Makassar, 13/3/2026 – The launch of ChatGPT-5 by OpenAI in early 2026 has shaken the world of education. With capabilities far more advanced than its predecessors, this Artificial Intelligence (AI) assistant can write essays at a postgraduate level, solve advanced mathematical problems, and even create complex programming code. On one hand, this is an extraordinary technological leap. On the other hand, educators are faced with an old specter now returning with a new face: plagiarism.

Harry Yulianto, an Educational Technology Expert from STIE YPUP Makassar, offers his perspective on this phenomenon. According to him, the presence of ChatGPT-5 is like a double-edged sword that educators must approach wisely.

“We cannot ban technology. Calculators were once banned in classrooms, now they are mandatory tools. The same goes for AI. What we must change is how we teach and evaluate,” said Harry.

Increasingly Sophisticated Plagiarism Threat

Harry acknowledges that ChatGPT-5 renders conventional assignments like writing papers or doing homework irrelevant. Students can easily ask the AI to complete tasks in seconds.

“In the past, plagiarism was easy to detect because it was copy-pasted from the internet. Now, ChatGPT-5 writes in various styles, making it difficult to trace with ordinary plagiarism detection software. This is a serious challenge to academic integrity,” he explained.

He gave an example of how a student could ask the AI to write a 10-page essay with seemingly convincing references, when in fact it was entirely AI-generated. Teachers and lecturers now must be more astute and may need to use specialized AI detectors.

The Future Teaching Assistant

However, Harry also sees an equally significant positive side. ChatGPT-5, if used correctly, could become a personal assistant for both teachers and students.

“Imagine a teacher having to create 30 different questions for 30 students. With ChatGPT-5, this can be done in a minute. Teachers can focus on mentoring, rather than tedious administrative work,” explained the STIE YPUP Makassar lecturer.

For students, ChatGPT-5 can serve as a personal tutor available 24/7. Students who are shy about asking questions in class can discuss with the AI without fear of being judged.

“What’s important is AI literacy. Students must be taught how to ask properly (prompt engineering) and how to verify AI answers. Don’t just swallow them whole,” he added.

Changing the Evaluation Paradigm

Harry emphasizes that the presence of ChatGPT-5 forces the education world to reform. Evaluation methods that rely solely on memorization and written assignments are obsolete.

“We must shift to evaluations that measure critical thinking processes, not just final results. Oral exams, presentations, collaborative projects, and portfolios will become increasingly important. We must test students’ ability to use AI ethically, not just ban it,” he asserted.

He gave an example: teachers could assign tasks requiring students to compare ChatGPT-5’s answers with other sources, then critique its weaknesses. In this way, AI becomes a tool for training reasoning skills.

“ChatGPT-5 is a mirror for us. If we still teach with 20th-century methods, we will be overwhelmed. But if we dare to innovate, AI can become our best partner in educating future generations,” concluded Harry.


ChatGPT-5 di Ruang Kelas: Ancaman Plagiarisme atau Asisten Guru Masa Depan?

WIN Media, Makassar, 13/3/2026 – Peluncuran ChatGPT-5 oleh OpenAI awal tahun 2026 telah mengguncang dunia pendidikan. Dengan kemampuan yang jauh lebih canggih dari versi sebelumnya, asisten kecerdasan buatan (AI) ini mampu menulis esai layaknya mahasiswa pascasarjana, memecahkan soal matematika tingkat lanjut, bahkan membuat kode pemrograman yang kompleks. Di satu sisi, ini adalah lompatan teknologi luar biasa. Di sisi lain, para pendidik dihadapkan pada momok lama yang kini kembali dengan wajah baru: plagiarisme.

Harry Yulianto, Pakar Teknologi Pendidikan dari STIE YPUP Makassar, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Menurutnya, kehadiran ChatGPT-5 ibarat pisau bermata dua yang harus disikapi dengan bijak oleh para pendidik.

“Kita tidak bisa melarang teknologi. Dulu kalkulator dilarang di kelas, sekarang jadi alat wajib. Begitu juga dengan AI. Yang harus kita ubah adalah cara kita mengajar dan mengevaluasi,” ujar Harry.

Ancaman Plagiarisme yang Semakin Canggih

Harry mengakui bahwa ChatGPT-5 membuat tugas-tugas konvensional seperti menulis makalah atau mengerjakan PR menjadi tidak relevan. Siswa bisa dengan mudah meminta AI menyelesaikan tugas dalam hitungan detik.

“Dulu plagiarisme mudah dideteksi karena copas dari internet. Sekarang, ChatGPT-5 menulis dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, sulit dilacak oleh software deteksi plagiarisme biasa. Ini tantangan serius bagi integritas akademik,” jelasnya.

Ia mencontohkan bagaimana seorang mahasiswa bisa meminta AI menulis esai 10 halaman dengan referensi yang tampak meyakinkan, padahal seluruhnya adalah hasil generasi AI. Guru dan dosen kini harus lebih jeli dan mungkin perlu menggunakan detektor AI khusus.

Asisten Guru Masa Depan

Namun, Harry juga melihat sisi positif yang tak kalah besarnya. ChatGPT-5, jika digunakan dengan benar, bisa menjadi asisten pribadi bagi guru dan siswa.

“Bayangkan seorang guru harus membuat 30 soal berbeda untuk 30 siswa. Dengan ChatGPT-5, ini bisa dilakukan dalam semenit. Guru bisa fokus pada pendampingan, bukan lagi pekerjaan administratif yang membosankan,” terang dosen STIE YPUP Makassar tersebut.

Bagi siswa, ChatGPT-5 bisa menjadi tutor pribadi yang siap membantu 24 jam. Siswa yang malu bertanya di kelas bisa berdiskusi dengan AI tanpa rasa takut dihakimi.

“Yang penting adalah literasi AI. Siswa harus diajari bagaimana bertanya yang benar (prompt engineering) dan bagaimana memverifikasi jawaban AI. Jangan ditelan mentah-mentah,” tambahnya.

Mengubah Paradigma Evaluasi

Harry menekankan bahwa kehadiran ChatGPT-5 memaksa dunia pendidikan untuk berbenah. Metode evaluasi yang hanya mengandalkan hafalan dan tugas tertulis sudah usang.

“Kita harus beralih ke evaluasi yang mengukur proses berpikir kritis, bukan sekadar hasil akhir. Ujian lisan, presentasi, proyek kolaboratif, dan portofolio akan menjadi semakin penting. Kita harus menguji kemampuan siswa menggunakan AI secara etis, bukan justru melarangnya,” tegasnya.

Ia mencontohkan, guru bisa memberi tugas yang meminta siswa membandingkan jawaban ChatGPT-5 dengan sumber lain, lalu mengkritisi kelemahannya. Dengan cara ini, AI justru menjadi alat untuk melatih daya nalar.

“ChatGPT-5 adalah cermin bagi kita. Jika kita masih mengajar dengan metode abad ke-20, maka kita akan kewalahan. Tapi jika kita berani berinovasi, AI bisa menjadi mitra terbaik dalam mencerdaskan generasi masa depan,” pungkas Harry.

Related News