WIN Media, Makassar, 10/3/2026 – Learning tablets, long considered a solution for digital education, apparently harbor latent dangers. Reports from various teachers and parents reveal that these devices, intended as tools for acquiring knowledge, are often misused to access negative content. From non-educational online games, adult videos, to violent content easily accessible to children.
Ahmad Arfah, a teacher at MAN 1 Makassar who deals daily with the digital generation of students, speaks out about this worrying phenomenon. He asserts that parental supervision is no longer just a recommendation, but a necessity.
“I often hear complaints from fellow teachers and parents. Children are given tablets to study, but they end up playing games or watching uncontrolled content on YouTube. This is a stark warning for all of us,” said Arfah.
According to Arfah, this problem is exacerbated by the still low digital literacy among parents. Many parents feel technologically inept, unsure how to block negative content or monitor their children’s browsing history.
“They feel proud that their child is smart at operating a tablet, but forget that this intelligence can be dangerous without filters. Parents must be willing to learn, at least to distinguish between learning apps and entertainment apps that are not age-appropriate,” he emphasized.
Arfah shared several findings of negative content often accessed by students via learning tablets:
- Violent Online Games: Many students download battle royale or fighting games that can trigger aggressive behavior.
- Adult Content on Video Platforms: Children easily search for inappropriate videos on YouTube or other streaming platforms.
- Unsupervised Social Media: TikTok and Instagram become major loopholes where children can access adult content or even encounter online predators.
- Dangerous Pop-up Ads: Many free applications display adult advertisements that children might accidentally click.
The MAN 1 Makassar teacher provided several recommendations for parents:
- Activate Parental Control: Every tablet operating system has a parental control feature. Take the time to learn about and activate it.
- Set Screen Time Limits: Establish firm schedules for when the tablet can be used for studying and when it must be put away.
- Accompany Children While Learning: Occasionally, sit beside your child while they use the tablet. Ask them what they are learning.
- Open Communication: Teach children to report if they see uncomfortable content. Don’t scold them; instead, be a safe haven for them.
“Learning tablets are a double-edged sword. On one side, they can enhance intelligence; on the other, they can damage morals. The differentiating factor is the active role of parents at home. Schools can only supervise during lesson hours; the rest is in your hands at home,” concluded Arfah.
Warning! Orang Tua Wajib Pantau: Maraknya Konten Negatif di Tablet Belajar Anak

WIN Media, Makassar, 10/3/2026 – Tablet belajar yang selama ini dianggap sebagai solusi pendidikan digital ternyata menyimpan bahaya laten. Laporan dari berbagai kalangan guru dan orang tua mengungkapkan bahwa perangkat yang seharusnya menjadi sarana menuntut ilmu justru kerap disalahgunakan untuk mengakses konten negatif. Mulai dari game online yang tidak mendidik, video dewasa, hingga konten kekerasan yang mudah diakses anak-anak.
Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar yang sehari-hari bergelut dengan siswa generasi digital, angkat bicara mengenai fenomena mengkhawatirkan ini. Ia menegaskan bahwa pengawasan orang tua bukan lagi sekadar anjuran, melainkan keharusan.
“Saya sering mendengar keluhan dari rekan guru dan wali murid. Anak-anak diberi tablet untuk belajar, tapi ujung-ujungnya malah main game atau buka YouTube yang tontonannya tidak terkontrol. Ini warning keras bagi kita semua,” ujar Arfah.
Menurut Arfah, masalah ini diperparah dengan literasi digital orang tua yang masih rendah. Banyak orang tua yang merasa gagap teknologi sehingga tidak tahu cara memblokir konten negatif atau memantau riwayat penjelajahan anak.
“Mereka bangga anaknya pintar mengoperasikan tablet, tapi lupa kalau kepintaran itu bisa berbahaya jika tanpa filter. Orang tua harus mau belajar, setidaknya bisa membedakan mana aplikasi belajar dan mana aplikasi hiburan yang tidak sesuai umur,” tegasnya.
Arfah membagikan beberapa temuan konten negatif yang sering diakses siswa melalui tablet belajar:
- Game Online Berunsur Kekerasan: Banyak siswa yang mengunduh game battle royale atau fighting yang justru memicu perilaku agresif.
- Konten Dewasa di Platform Video: Anak-anak dengan mudah mencari video yang tidak layak tonton melalui YouTube atau platform streaming lain.
- Media Sosial Tanpa Pengawasan: TikTok dan Instagram menjadi celah besar dimana anak bisa mengakses konten dewasa atau bahkan bertemu dengan predator online.
- Iklan Pop-up Berbahaya: Banyak aplikasi gratisan yang justru memunculkan iklan dewasa yang tidak sengaja diklik anak.
Guru MAN 1 Makassar tersebut memberikan sejumlah rekomendasi untuk para orang tua:
- Aktifkan Parental Control: Setiap sistem operasi tablet memiliki fitur kontrol orang tua. Luangkan waktu untuk mempelajari dan mengaktifkannya.
- Batasi Waktu Layar: Tetapkan jadwal tegas kapan tablet boleh digunakan untuk belajar dan kapan harus disimpan.
- Dampingi Anak Saat Belajar: Sesekali, duduklah di samping anak saat mereka menggunakan tablet. Tanyakan apa yang mereka pelajari.
- Komunikasi Terbuka: Ajari anak untuk berani melapor jika melihat konten yang tidak nyaman. Jangan memarahi mereka, tapi jadilah tempat berlindung yang aman.
“Tablet belajar adalah pisau bermata dua. Di satu sisi bisa mencerdaskan, di sisi lain bisa merusak moral. Yang membedakan adalah peran aktif orang tua di rumah. Sekolah hanya bisa mengawasi selama jam pelajaran, sisanya ada di tangan bapak dan ibu di rumah,” pungkas Arfah.

