WIN Media, Makassar, 8/3/2026 – Every March 8th, the world observes International Women’s Day. This celebration serves as a moment to reflect on the achievements as well as the challenges still faced by women in various sectors, including education. Behind their dedication to educating the nation, the teaching profession—which is dominated by women—hides a serious issue: susceptibility to physical and mental exhaustion, or burnout.
Why is this phenomenon still prevalent in 2026? Helmy Syamsuri, a lecturer at STIE YPUP Makassar and an activist in educational and gender issues, offers his analysis.
According to Helmy, the root of the problem lies in the accumulation of unbalanced roles. “A female teacher doesn’t only work at school. After returning home, she faces a ‘second shift,’ which includes domestic work and childcare—responsibilities that in our society are still often fully borne by the mother,” Helmy stated.
This double burden, he continues, is exacerbated by the increasingly high professional demands in the digital era. Teachers are required to master technology, handle administrative tasks for learning, and navigate the complex dynamics of the Gen Alpha students.
“The emotional pressure is enormous. At school, she must be a patient and innovative educator. At home, she must be a perfect mother and wife. When these physical and emotional resources are depleted without being supported adequately, burnout becomes inevitable,” explained Helmy Syamsuri.
The impact is significant. Teachers experiencing burnout tend to have a decreased quality of teaching, become easily angered in the classroom, and ultimately lower the overall quality of education.
“The solution cannot be individual. There must be systemic change. Schools need to provide counseling services or safe spaces for teachers to express themselves. The government and society must also continue to promote gender equality in the domestic sphere, so that household chores become a shared responsibility,” asserted the STIE YPUP Makassar lecturer. This year’s International Women’s Day is hoped to be more than just a ceremonial event, but a trigger for real action to create a healthier and fairer working environment for unsung heroes, especially female teachers.
Hari Perempuan Internasional: Mengapa Guru Perempuan Masih Rentan Alami Burnout?

WIN Media, Makassar, 8/3/2026 – Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Perayaan ini menjadi momen untuk merefleksikan pencapaian sekaligus tantangan yang masih dihadapi perempuan di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Di balik dedikasi mereka mencerdaskan bangsa, profesi guru yang didominasi perempuan menyimpan masalah serius: kerentanan terhadap kelelahan fisik dan mental atau burnout.
Mengapa fenomena ini masih marak terjadi di tahun 2026? Helmy Syamsuri, Dosen STIE YPUP Makassar yang juga pegiat isu pendidikan dan gender, memberikan analisisnya.
Menurut Helmy, akar masalahnya terletak pada akumulasi peran yang tidak seimbang. “Seorang guru perempuan tidak hanya bekerja di sekolah. Setelah pulang, ia menghadapi ‘shift kedua’ yaitu pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang di masyarakat kita masih sering dibebankan sepenuhnya pada ibu,” ujar Helmy.
Beban ganda ini, lanjutnya, diperparah dengan tuntutan profesionalisme yang kian tinggi di era digital. Guru dituntut untuk menguasai teknologi, membuat administrasi pembelajaran, dan menghadapi dinamika murid Gen Alpha yang kompleks.
“Tekanan emosionalnya sangat besar. Di sekolah, ia harus menjadi pendidik yang sabar dan inovatif. Di rumah, ia harus menjadi ibu dan istri yang sempurna. Ketika sumber daya fisik dan emosional ini terkuras tanpa diimbangi dukungan yang memadai, burnout adalah keniscayaan,” jelas Helmy Syamsuri.
Dampaknya tidak main-main. Guru yang mengalami burnout cenderung menurun kualitas mengajarnya, mudah marah di kelas, dan pada akhirnya menurunkan kualitas pendidikan itu sendiri.
“Solusinya tidak bisa individual. Harus ada perubahan sistemik. Sekolah perlu menyediakan layanan konseling atau ruang aman bagi guru untuk berekspresi. Pemerintah dan masyarakat juga harus terus mendorong kesetaraan gender di ranah domestik, agar tugas rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama,” tegas dosen STIE YPUP Makassar tersebut.
Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini diharapkan bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi pemicu aksi nyata untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan adil bagi para pahlawan tanpa tanda jasa, khususnya guru perempuan.

