13 Maret 2026

The Aroma of Firewood and Earthen Stoves: The Irreplaceable Secret Behind The Flavor of Serabi Laklak

WIN Media, Mataram, 1/3/2026 – In this era of instant and modern everything, there remains a glimmer of culinary heritage steadfastly maintaining its authenticity. Serabi Laklak, a traditional snack from Lombok, is one such treasure. Its delicious savory and sweet taste comes not only from time-honored recipes but also from an irreplaceable cooking process: using an earthen stove and firewood. The distinctive aroma resulting from the combination of wood fire and clay molds is the very soul of this legendary pancake.

According to Alphacino Junido Loilewen, a culinary observer from Mataram, the use of earthen stoves and firewood is not merely a cooking method but a philosophy and art passed down through generations. “This is the soul of serabi laklak. Without the earthen stove and firewood, the taste would be different; it might even lose its identity. Wood fire provides even heat and a distinctive smoky aroma, while the clay stove maintains the texture and moisture of the pancake,” said Alphacino.

Earthen Stove: A Living Ancestral Heritage

The earthen stove used for cooking serabi laklak is not an ordinary stove. Made from fired clay, this stove has the ability to store and distribute heat evenly. The circular molds on top, made from the same material, are where the batter is poured and cooked to perfection.

Alphacino explains that clay has a unique porosity characteristic. “Clay can absorb excess moisture from the batter, preventing the pancake from becoming soggy. On the other hand, it radiates heat slowly, cooking the pancake from the outside in perfectly. The result is a chewy interior with a slightly crispy exterior,” he explained.

Serabi laklak artisans, who has been selling for years in Mataram, admit that the earthen stove is a faithful companion that cannot be replaced. “The aroma is more fragrant when cooked on an earthen stove with firewood. This is what keeps customers coming back,” said Alphacino.

Firewood: A Heat Source with Distinctive Character

If the stove is the vessel, then firewood is the soul. The choice of firewood is not arbitrary either. Typically, hardwoods like teak or tamarind wood are used, as they produce long-lasting embers and stable heat.

“Firewood provides a dimension of flavor that gas or electricity cannot replicate. Its subtle smoke permeates the batter, creating a distinctive smoky aroma. This is a flavor footprint that can only be achieved with wood fire,” Alphacino explained.

Cooking with firewood also requires special skill. The fire must not be too hot to burn the pancakes, but not too low to ensure they cook properly. Artisans typically know intuitively when to add wood and when to let the embers glow.

Two Flavor Variants: A Harmonious Blend of Savory and Sweet

Lombok’s serabi laklak comes in two main flavor variants: savory and sweet. The savory version uses thick coconut milk poured over the half-cooked batter, while the sweet version is enhanced with liquid palm sugar.

“This flavor combination is a reflection of balance in Sasak culture. There is savory, there is sweet. They never conflict; instead, they complement each other. It’s a simple yet profound life philosophy,” Alphacino added.

Interestingly, the palm sugar used is also not ordinary. True serabi laklak enthusiasts, like Ahmad Yani, claim that palm sugar from Langko Village has a different sweetness that makes serabi laklak unique and irreplaceable.

The Making Process: Patience and Precision

Making serabi laklak with an earthen stove and firewood is not an instant job. It requires patience and precision. Rice flour batter is mixed with coconut milk to the right consistency. The stove is then heated with firewood until it reaches the perfect temperature.

The batter is poured into the clay molds. When half-cooked, for the sweet variant, liquid palm sugar is added in the center, then covered briefly until fully cooked. This process is repeated rhythmically. In a single day, an artisan like Sri Surianingsih can use 25 to 30 kilograms of rice flour.

Economic and Social Value

Serabi laklak is not just about taste; it’s also about economic livelihood for the community. Many mothers (inaq-inaq) in Lombok depend on selling serabi laklak. In Mataram City, they can be found at Cemara Market, Abian Tubuh, Jalan Majapahit, and in Jempong.

The price is also very affordable. For IDR 10,000, customers can get 8 pieces of serabi laklak. In some places, they are even sold for IDR 1,000 per piece. During special moments like Ramadan, demand increases dramatically, bringing blessings to the artisans.

The Threat of Modernization and Preservation Efforts

Amidst the onslaught of modernization, the use of earthen stoves and firewood is under threat. The younger generation tends to prefer more practical and faster methods. However, Alphacino Junido Loilewen reminds us that this uniqueness must be preserved.

“If serabi laklak is cooked with a gas stove, it becomes ordinary. Its special quality will be lost. Therefore, we need to support artisans who remain faithful to traditional methods. The government and society must collaborate to preserve this culinary heritage,” he emphasized.

Several efforts have been made, such as including serabi laklak in MSME bazaars and cultural events, like during the MotoGP event in Mandalika. The hope is that serabi laklak will not only be known by locals but also by international tourists.

Tips for Enjoying Authentic Serabi Laklak:

  1. Enjoy While Warm: Serabi laklak is best enjoyed while still warm, fresh from the stove.
  2. Choose Wood-Fired Ones: Ensure you buy from sellers who still faithfully use earthen stoves and firewood.
  3. Try Both Variants: Taste both the savory and sweet versions to experience their complete harmony.
  4. Visit Directly: Go to sales centers like Cemara Market, Abian Tubuh, or Jalan Majapahit in Mataram for the most authentic experience.

Alphacino concluded with an inspiring message: “Serabi laklak is a poem of flavor written by our ancestors. Every bite tells a story of earth, fire, and patience. Do not let this poem end. Preserve it, enjoy it, and be proud of it.”


Aroma Kayu Bakar dan Tungku Tanah: Rahasia Di Balik Cita Rasa Serabi Laklak Yang Tak Tergantikan

WIN Media, Mataram, 1/3/2026 – Di era serba instan dan modern, masih ada secercah warisan kuliner yang setia mempertahankan keasliannya. Serabi Laklak, jajanan khas Lombok, adalah salah satunya. Kelezatannya yang gurih dan manis tidak hanya berasal dari resep turun-temurun, tetapi juga dari proses memasak yang tak tergantikan: menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Aroma khas yang dihasilkan dari perpaduan api kayu dan cetakan tanah liat inilah yang menjadi jiwa dari serabi legendaris ini.

Menurut Alphacino Junido Loilewen, pengamat kuliner dari Mataram, penggunaan tungku tanah dan kayu bakar bukan sekadar metode memasak, melainkan sebuah filosofi dan seni yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Ini adalah nyawa dari serabi laklak. Tanpa tungku tanah dan kayu bakar, rasanya akan berbeda, bahkan mungkin kehilangan identitasnya. Api kayu memberikan panas yang merata dan aroma asap yang khas, sementara tungku tanah liat menjaga kelembapan dan tekstur serabi,” ujar Alphacino.

Tungku Tanah: Warisan Leluhur yang Terus Hidup

Tungku tanah yang digunakan untuk memasak serabi laklak bukanlah tungku sembarangan. Terbuat dari tanah liat yang dibakar, tungku ini memiliki kemampuan menyimpan dan mendistribusikan panas secara merata. Cetakan bundar di atasnya, yang terbuat dari bahan yang sama, menjadi tempat adonan dituang dan dimasak hingga matang sempurna.

Alphacino menjelaskan bahwa tanah liat memiliki sifat porositas yang unik. “Tanah liat mampu menyerap kelembapan berlebih dari adonan, sehingga serabi tidak mudah lembek. Di sisi lain, ia juga memantulkan panas secara perlahan, membuat serabi matang dari luar ke dalam dengan sempurna. Hasilnya adalah tekstur yang kenyal di dalam dan sedikit renyah di luar,” paparnya.

Para perajin serabi laklak, yang telah berjualan bertahun-tahun di Mataram, mengaku bahwa tungku tanah adalah sahabat setia yang tidak bisa digantikan. “Aromanya lebih harum dipanggang di tungku tanah dan kayu bakar. Ini yang membuat pelanggan selalu kembali,” kata Alphacino.

Kayu Bakar: Sumber Panas dengan Karakter Khas

Jika tungku adalah wadahnya, maka kayu bakar adalah jiwanya. Pemilihan kayu bakar juga tidak sembarangan. Biasanya, kayu yang digunakan adalah kayu keras seperti kayu jati atau kayu asam yang mampu menghasilkan bara api tahan lama dan panas yang stabil.

“Kayu bakar memberikan dimensi rasa yang tidak bisa diberikan oleh gas atau listrik. Asapnya yang halus meresap ke dalam adonan, menciptakan aroma smokey yang khas. Ini adalah jejak rasa yang hanya bisa dihadirkan oleh api kayu,” jelas Alphacino.

Proses memasak dengan kayu bakar juga membutuhkan keahlian khusus. Api tidak boleh terlalu besar agar serabi tidak gosong, tetapi juga tidak boleh terlalu kecil agar matang sempurna. Para perajin biasanya sudah hafal betul kapan harus menambah kayu dan kapan harus membiarkan bara tetap menyala.

Dua Varian Rasa: Gurih dan Manis yang Berpadu Harmonis

Serabi laklak Lombok hadir dalam dua varian rasa utama: gurih dan manis. Varian gurih hanya menggunakan santan kental yang dituangkan ke atas adonan setengah matang, sementara varian manis diberi tambahan gula aren cair yang legit.

“Kombinasi rasa ini adalah cerminan keseimbangan dalam budaya Sasak. Ada yang gurih, ada yang manis. Keduanya tidak pernah bertentangan, justru saling melengkapi. Ini filosofi hidup yang sederhana namun dalam,” tambah Alphacino.

Yang menarik, gula aren yang digunakan juga bukan gula sembarangan. Para penikmat serabi laklak sejati, seperti Ahmad Yani, mengaku bahwa gula aren dari Desa Langko memiliki rasa manis yang berbeda dan membuat serabi laklak tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Proses Pembuatan: Kesabaran dan Ketelitian

Membuat serabi laklak dengan tungku tanah dan kayu bakar bukanlah pekerjaan instan. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian. Adonan tepung beras dicampur santan hingga kekentalan yang pas. Setelah itu, tungku dipanaskan dengan kayu bakar hingga mencapai suhu yang tepat.

Adonan kemudian dituang ke dalam cetakan tanah liat. Setelah setengah matang, untuk varian manis, ditambahkan cairan gula aren di tengahnya, lalu ditutup sebentar hingga matang sempurna. Proses ini dilakukan berulang-ulang dengan ritme yang teratur. Dalam sehari, seorang perajin seperti Sri Surianingsih bisa menghabiskan 25 hingga 30 kilogram tepung beras.

Nilai Ekonomi dan Sosial

Serabi laklak bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal roda ekonomi masyarakat. Banyak inaq-inaq (ibu-ibu) di Lombok yang menggantungkan hidup dari berjualan serabi laklak. Di Kota Mataram, mereka bisa ditemukan di Pasar Cemara, Abian Tubuh, Jalan Majapahit, hingga di Jempong.

Harganya pun sangat terjangkau. Dengan Rp10.000, pembeli sudah bisa mendapatkan 8 biji serabi laklak. Bahkan di beberapa tempat, ada yang menjual Rp1.000 per biji. Pada momen-momen tertentu seperti Ramadan, permintaan meningkat drastis, menjadi berkah tersendiri bagi para perajin.

Ancaman Modernisasi dan Upaya Pelestarian

Di tengah gempuran modernisasi, penggunaan tungku tanah dan kayu bakar mulai terancam. Generasi muda cenderung memilih cara yang lebih praktis dan cepat. Namun, Alphacino Junido Loilewen mengingatkan bahwa keunikan ini harus dijaga.

“Jika serabi laklak dimasak dengan kompor gas, ia akan menjadi serabi biasa. Keistimewaannya akan hilang. Oleh karena itu, kita perlu mendukung para perajin yang masih setia dengan metode tradisional. Pemerintah dan masyarakat harus berkolaborasi untuk melestarikan warisan kuliner ini,” tegasnya.

Beberapa upaya telah dilakukan, seperti mengikutsertakan serabi laklak dalam bazar UMKM dan even-even budaya, seperti pada ajang MotoGP di Mandalika. Harapannya, serabi laklak tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh wisatawan mancanegara.

Tips Menikmati Serabi Laklak Autentik:

  1. Saat Hangat: Serabi laklak paling nikmat disantap selagi hangat, baru matang dari tungku.
  2. Pilih yang Menggunakan Kayu Bakar: Pastikan membeli dari penjual yang masih setia menggunakan tungku tanah dan kayu bakar.
  3. Coba Dua Varian: Cicipi varian gurih dan manis untuk merasakan harmoni lengkapnya.
  4. Kunjungi Langsung: Datanglah ke sentra-sentra penjualan seperti di Pasar Cemara, Abian Tubuh, atau Jalan Majapahit, Mataram, untuk mendapatkan yang paling autentik.

Alphacino menutup dengan pesan yang menggugah. “Serabi laklak adalah puisi rasa yang ditulis oleh nenek moyang kita. Setiap gigitan adalah cerita tentang tanah, api, dan kesabaran. Jangan biarkan puisi ini berakhir. Lestarikan, nikmati, dan banggakan.”

Related News