WIN Media, Makassar, 27/2/2026 – The month of Ramadan is always synonymous with the activity of sharing takjil (snacks for breaking the fast) by the roadside. However, in a number of schools, this annual tradition is now being elevated to a higher level: as a social laboratory and character-building opportunity for students. It’s not just about giving away food; students are invited to plan, manage, and reflect on this social action in a structured way.
Ahmad Arfah, a Teacher at MAN 1 Makassar, asserts that takjil sharing activities have enormous potential as a learning medium outside the classroom. “Don’t see this as just a ceremonial event. Behind the distribution of takjil, there are processes of negotiation, financial management, teamwork, and most importantly, the cultivation of empathy. This is a living social laboratory,” he told.
Here are four pillars of character building that can be derived from takjil sharing activities according to Ahmad Arfah:
1. Fostering Empathy and Social Awareness
Arfah explains that direct interaction with takjil recipients, especially those who are less fortunate, provides an emotional impact that cannot be replaced by lessons inside the classroom. “When students distribute takjil to scavengers, motorcycle taxi drivers, or elderly passersby, they see social reality firsthand. This instills a sense of gratitude and encourages sensitivity towards their surroundings,” he explained.
2. Training in Management and Social Entrepreneurship
This activity also teaches practical skills. “Students learn to plan a budget, shop for raw materials, and ensure timely logistics. There’s an element of social entrepreneurship here: how to do good with limited resources but maximum impact,” explained Arfah.
3. Strengthening Collaboration and Mutual Cooperation
Takjil for hundreds of people cannot be prepared alone. “This is where students learn to work in teams. Some are tasked with cooking, preparing packaging, arranging distribution routes, and documenting the activity. They learn to communicate, divide roles, and help each other. Mutual cooperation (gotong royong) feels real, not just a theory,” added Arfah.
4. Building Integrity and Honesty
Arfah highlights the aspect of transparency in managing social funds. “If this activity uses class funds or donations, students learn to be accountable for every rupiah. They create simple financial reports, recording income and expenses. This is the foundation of integrity that is very important for their future,” he emphasized.
Ahmad Arfah hopes that schools do not simply release students to share takjil without guidance. “Guide them, ask them to write a reflection after the activity. What did they feel? What were the difficulties? Why is this activity important? That way, sharing takjil is not just a seasonal trend, but truly becomes a character laboratory that leaves a lifelong impression,” he concluded.
Menjadikan Kegiatan Berbagi Takjil sebagai Laboratorium Sosial dan Karakter Siswa

WIN Media, Makassar, 27/2/2026 – Bulan Ramadan selalu identik dengan kegiatan berbagi takjil di pinggir jalan. Namun, di sejumlah sekolah, tradisi tahunan ini kini diangkat ke level yang lebih tinggi: sebagai laboratorium sosial dan pembentukan karakter siswa. Bukan sekadar bagi-bagi makanan, para siswa diajak merencanakan, mengelola, dan merefleksikan aksi sosial tersebut secara terstruktur.
Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar, menegaskan bahwa kegiatan berbagi takjil memiliki potensi luar biasa sebagai media pembelajaran di luar kelas. “Jangan lihat ini sekadar acara seremonial. Di balik pembagian takjil, ada proses negosiasi, manajemen keuangan, kerja sama tim, dan yang terpenting, penanaman empati. Ini adalah laboratorium sosial yang hidup,” ujarnya.
Berikut empat pilar pembentukan karakter yang dapat dipetik dari kegiatan berbagi takjil menurut Ahmad Arfah:
1. Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Sosial
Arfah menjelaskan bahwa interaksi langsung dengan penerima takjil, terutama mereka yang kurang beruntung, memberikan dampak emosional yang tidak bisa digantikan oleh pelajaran di dalam kelas. “Saat siswa membagikan takjil kepada pemulung, tukang ojek, atau lansia yang melintas, mereka melihat realitas sosial secara langsung. Ini menanamkan rasa syukur dan mendorong kepekaan terhadap lingkungan sekitar,” jelasnya.
2. Melatih Manajemen dan Kewirausahaan Sosial
Kegiatan ini juga mengajarkan keterampilan praktis. “Siswa belajar merencanakan anggaran, berbelanja bahan baku, hingga memastikan logistik tepat waktu. Ada nilai kewirausahaan sosial di sini: bagaimana melakukan kebaikan dengan sumber daya terbatas namun dampaknya maksimal,” terang Arfah.
3. Memperkuat Kolaborasi dan Gotong Royong
Takjil untuk ratusan orang tidak bisa disiapkan sendiri. “Di sinilah siswa belajar bekerja dalam tim. Ada yang bertugas memasak, menyiapkan kemasan, mengatur rute pembagian, hingga mendokumentasikan. Mereka belajar berkomunikasi, membagi peran, dan saling membantu. Gotong royong terasa nyata, bukan sekadar teori,” imbuh Arfah.
4. Membangun Integritas dan Kejujuran
Arfah menyoroti aspek transparansi dalam pengelolaan dana sosial. “Jika kegiatan ini menggunakan uang kas kelas atau sumbangan, siswa belajar mempertanggungjawabkan setiap rupiah. Mereka membuat laporan keuangan sederhana, mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ini fondasi integritas yang sangat penting untuk masa depan mereka,” tegasnya.
Ahmad Arfah berharap sekolah tidak sekadar melepas siswa berbagi takjil tanpa arahan. “Dampingi mereka, minta mereka menulis refleksi setelah kegiatan. Apa yang dirasakan? Apa kesulitannya? Mengapa kegiatan ini penting? Dengan begitu, berbagi takjil tidak sekadar tren musiman, tapi benar-benar menjadi laboratorium karakter yang membekas seumur hidup,” pungkasnya.

