WIN Media, Makassar, 24/2/2026 – The month of Ramadan this year presents a unique challenge for the world of education. Students continue to attend face-to-face schooling with reduced study hours, but the biggest challenge comes from their own pockets: gadgets. The temptation to scroll through social media or play games during class hours is a major obstacle to learning concentration.
Various schools have begun implementing innovations to address this issue, one of which is the “One Hour Without Gadgets” movement initiated in several schools during class hours. But how effective is this movement?
Ahmad Arfah, a Teacher at MAN 1 Makassar, appreciates the step but reminds that its effectiveness depends on teacher consistency and creativity. “This movement is good as an ice breaker. Giving a break from screens for an hour can restore student focus. But students shouldn’t end up stressed because they’re forced to have ‘nothing to do’. Teachers must provide engaging alternative activities,” he told.
Here is Ahmad Arfah‘s analysis of the effectiveness and challenges of the one hour without gadgets movement in schools during Ramadan:
1. Refreshing the Brain’s “Muscle Memory”
Arfah explains that excessive screen exposure trains the brain to become accustomed to instant, rapid stimulation. “When learning, students need deep focus, which is actually lost due to habitual fast scrolling. One hour without gadgets trains the brain to return to ‘deep focus’ mode. It’s like refreshing muscle memory, but for the brain,” he explained.
2. Teachers Must Be Ready with Alternative Methods
This movement will completely fail if teachers remain silent and let students daydream. “When gadgets are collected or turned off, teachers must be present with interactive learning methods. This could be group discussions, educational games, simple practicums, or physical ice breakers. The key is that students don’t feel deprived, but instead gain a new learning experience,” Arfah explained.
3. The Challenge of Addiction and FOMO Symptoms
Arfah acknowledges that not all students will be enthusiastic. “For students already addicted to gadgets, one hour can feel like torture. They become restless, anxious about missing out (FOMO). This is where the role of teachers and school counselors to provide guidance is crucial. Don’t just prohibit, but provide understanding of why a break from screens is important,” he added.
4. Collaboration with Parents at Home
Arfah emphasizes that this movement will not be optimal without support from home. “If it’s one hour without gadgets at school, but at home they play games until dawn, it’s useless. Schools need to invite parents to commit to monitoring gadget use at home, especially after Tarawih prayers until just before sahur (pre-dawn meal). Ramadan should be a moment to reset digital habits,” he asserted.
Ahmad Arfah is optimistic that this movement could be a breakthrough if managed well. “The key isn’t prohibition, but redirection. Give students activities that are more exciting than just scrolling through social media. Ramadan is the right time to train oneself, including training focus without digital distractions,” he concluded.
Sekolah Tatap Muka Saat Ramadan: Menakar Efektivitas “Gerakan Satu Jam Tanpa Gawai” dalam Meningkatkan Fokus Belajar Siswa

WIN Media, Makassar, 24/2/2026 – Bulan Ramadan tahun ini menjadi ujian tersendiri bagi dunia pendidikan. Siswa tetap menjalani sekolah tatap muka dengan jam belajar yang dikurangi, namun tantangan terbesar justru datang dari dalam saku mereka sendiri: gawai. Godaan untuk scroll media sosial atau bermain game saat jam pelajaran berlangsung menjadi momok bagi konsentrasi belajar.
Berbagai sekolah mulai menerapkan inovasi untuk mengatasi hal ini, salah satunya adalah “Gerakan Satu Jam Tanpa Gawai” yang digagas di beberapa sekolah selama jam pelajaran berlangsung. Namun, seberapa efektifkah gerakan ini?
Ahmad Arfah, Guru MAN 1 Makassar, mengapresiasi langkah tersebut, namun mengingatkan bahwa efektivitasnya tergantung pada konsistensi dan kreativitas guru. “Gerakan ini bagus sebagai ice breaking. Memberi jeda dari layar selama satu jam bisa mengembalikan fokus siswa. Tapi jangan sampai siswa justru stres karena dipaksa ‘mati gaya’. Guru harus menyediakan aktivitas pengganti yang menarik,” ujarnya.
Berikut analisis Ahmad Arfah mengenai efektivitas dan tantangan gerakan satu jam tanpa gawai di sekolah selama Ramadan:
1. Menyegarkan Kembali “Muscle Memory” Otak
Arfah menjelaskan bahwa paparan layar gawai yang berlebihan membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan dan cepat. “Saat belajar, siswa butuh fokus mendalam yang justru hilang karena terbiasa scroll cepat. Satu jam tanpa gawai melatih otak untuk kembali pada mode ‘deep focus’. Ini seperti menyegarkan memori otot, tapi untuk otak,” jelasnya.
2. Guru Harus Siap dengan Metode Pengganti
Gerakan ini akan gagal total jika guru hanya diam dan membiarkan siswa melamun. “Saat gawai dikumpulkan atau dimatikan, guru harus hadir dengan metode pembelajaran interaktif. Bisa dengan diskusi kelompok, permainan edukatif, praktikum sederhana, atau ice breaking fisik. Yang penting, siswa tidak merasa kehilangan, tapi justru mendapatkan pengalaman belajar baru,” terang Arfah.
3. Tantangan Kecanduan dan Gejala FOMO
Arfah mengakui bahwa tidak semua siswa akan antusias. “Bagi siswa yang sudah kecanduan gawai, satu jam terasa seperti siksaan. Mereka gelisah, cemas ketinggalan informasi (FOMO). Di sinilah peran guru dan konselor sekolah untuk memberikan pendampingan. Jangan hanya melarang, tapi beri pemahaman mengapa jeda dari layar itu penting,” imbuhnya.
4. Kolaborasi dengan Orang Tua di Rumah
Arfah menekankan bahwa gerakan ini tidak akan optimal tanpa dukungan dari rumah. “Kalau di sekolah satu jam tanpa gawai, tapi di rumah main game sampai subuh, percuma. Sekolah perlu mengajak orang tua berkomitmen mengawasi penggunaan gawai di rumah, terutama setelah Tarawih hingga jelang sahur. Ramadan harus jadi momentum reset kebiasaan digital,” tegasnya.
Ahmad Arfah optimistis bahwa gerakan ini bisa menjadi terobosan jika dikelola dengan baik. “Kuncinya bukan pada larangan, tapi pada pengalihan. Beri siswa aktivitas yang lebih seru daripada sekadar scroll media sosial. Ramadan adalah waktu tepat untuk melatih diri, termasuk melatih fokus tanpa distraksi digital,” tutupnya.

