WIN Media, Kediri, 28/2/2026 – Across the vast green rice fields stretching across Kediri Regency, the sound of sparrows fluttering fills the air. For some, these small birds might be just an ordinary sight. However, for the people of Kediri, sparrows are part of an agrarian tradition that has been passed down for generations: hunting them to be processed into a delicious dish known as Sate Emprit (Sparrow Satay).
According to Adi Purnomo, a culinary observer from Kediri, the tradition of hunting sparrows in agricultural lands has deep historical roots and is closely related to the agricultural cycle of Kediri’s society. “The relationship between farmers and sparrows is a paradoxical relationship. On one hand, sparrows are pests that damage rice crops. On the other hand, they become a valuable source of animal protein for the community. From this, local wisdom was born: turning threats into blessings,” said Adi.
Harvest Season and the Emergence of Sparrows
The tradition of hunting sparrows usually begins during the rice harvest season. Thousands of sparrows flock to the rice fields to eat the ripening rice grains. This natural phenomenon is utilized by the community for hunting.
Adi Purnomo explains that the timing of sparrow emergence is closely tied to the agricultural cycle. “Usually, sparrows start arriving when the rice begins to fill, about 2-3 weeks before harvest. This is the long-awaited moment for traditional hunters. They know that within a short time, the fields will be filled with thousands of small birds ready to be caught,” he explained.
Traditional Hunting Techniques Passed Down Through Generations
Kediri’s community has developed various sparrow hunting techniques passed down through generations. The most common technique uses large nets installed among the rice plants. When birds fly low looking for food, they become trapped in the nets.
There is also a traditional technique called “ngontong” or “ngeper” using cone-shaped tools made from woven bamboo baited with rice grains. Birds that enter the trap cannot escape due to its special design.
“These techniques are clever local wisdom. Without excessively damaging the ecosystem, people can catch enough birds for consumption. They also understand when the hunting season begins and when to stop to maintain bird populations,” explained Adi.
From Pests to Delicious Dishes
Once caught, sparrows are then processed into various dishes. The most popular is certainly Sate Emprit. The sparrows are cleaned, seasoned with garlic, coriander, and sweet soy sauce, then grilled over charcoal until perfectly cooked.
The process of grilling sparrow satay requires special skill. Due to their small size, sparrows can easily burn if not carefully monitored. “The secret to delicious sparrow satay lies in the grilling technique and marinade. The fire must be moderate, and the skewers must be frequently turned to ensure even cooking. The result is savory meat, crispy on the outside, yet still tender inside,” revealed Adi.
Besides satay, sparrows can also be deep-fried or cooked into stew. Every part of the bird, from the meat to the head, can be eaten. Its crispy and savory texture provides a unique appeal.
Economic and Social Value
The tradition of hunting sparrows not only meets food needs but also becomes an additional source of income for the community. During harvest season, hunters can sell their catch to sparrow satay traders or directly sell ready-made satay at traditional markets.
“For some residents, sparrow season is a special blessing. They can earn extra income alongside their main work as farmers. This shows how Kediri’s community is very adaptive in utilizing natural potential,” added Adi.
Shifts in Tradition in the Modern Era
However, as times change, the tradition of hunting sparrows has begun to shift. Agricultural modernization, pesticide use, and changing planting patterns have affected sparrow populations. As a result, the supply of sparrows for satay has become increasingly limited.
“Now, finding sparrows is not as easy as before. Farmers rarely see large flocks of sparrows like 20-30 years ago. This is a major challenge for the sustainability of sparrow satay cuisine,” revealed Adi.
Some sparrow satay traders have been forced to switch to using quail or chicken meat as substitutes. However, true enthusiasts claim the taste is different. “Sparrow satay has a distinctive flavor that cannot be replaced. The savoriness is different, the texture is unique. Hopefully, this tradition can continue to survive,” hoped Adi.
Local Wisdom Worth Preserving
Despite modernization challenges, Adi Purnomo hopes the tradition of sparrow hunting and sparrow satay cuisine will remain sustainable. “This is not just about food. This is about cultural heritage and local wisdom that has been passed down for decades. It’s about how our ancestors lived in harmony with nature, utilizing resources without destroying them,” he concluded.
He suggests that local government and cultural activists document this tradition before it becomes extinct. “A sparrow satay culinary festival could be held, or a thematic tourism village showcasing the process of hunting and cooking sparrows. That way, the younger generation can learn about and take pride in their culinary heritage,” Adi closed.
How to Enjoy Sparrow Satay Kediri-Style:
- Choose Freshly Grilled: Sparrow satay is best enjoyed warm, right off the grill.
- Dip in Chili Sauce: The spiciness of chili sauce enhances the enjoyment of sparrow satay.
- Eat with Warm Rice: Although it can be eaten as a snack, sparrow satay also pairs well as a side dish with rice.
- Enjoy Every Part: Don’t hesitate to eat the head and feet; that’s where the deliciousness lies.
Dari Sawah Ke Tusuk Sate: Jejak Panjang Tradisi Berburu Burung Pipit Di Lahan Pertanian Kediri

WIN Media, Kediri, 28/2/2026 – Di hamparan sawah hijau yang membentang luas di Kabupaten Kediri, terdengar suara riuh rendah burung pipit yang beterbangan. Bagi sebagian orang, burung kecil ini mungkin hanya pemandangan biasa. Namun bagi masyarakat Kediri, burung pipit adalah bagian dari tradisi agraris yang telah berlangsung turun-temurun: berburu untuk kemudian diolah menjadi hidangan lezat yang dikenal dengan nama Sate Emprit.
Menurut Adi Purnomo, pengamat kuliner dari Kediri, tradisi berburu burung pipit di lahan pertanian memiliki akar sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan siklus pertanian masyarakat Kediri. “Hubungan antara petani dan burung pipit adalah hubungan paradoksal. Di satu sisi, burung pipit adalah hama yang merusak tanaman padi. Di sisi lain, ia menjadi sumber protein hewani yang berharga bagi masyarakat. Dari sinilah lahir kearifan lokal: mengubah ancaman menjadi berkah,” ujar Adi.
Musim Paceklik dan Kemunculan Burung Pipit
Tradisi berburu burung pipit biasanya dimulai saat memasuki musim panen padi. Ribuan burung pipit berbondong-bondong datang ke sawah untuk memakan bulir padi yang menguning. Fenomena alam ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berburu.
Adi Purnomo menjelaskan bahwa waktu kemunculan burung pipit sangat terkait dengan siklus pertanian. “Biasanya, burung pipit mulai berdatangan saat padi mulai berisi, sekitar 2-3 minggu sebelum panen. Ini adalah momentum yang ditunggu-tunggu para pemburu tradisional. Mereka tahu bahwa dalam waktu singkat, sawah akan dipenuhi ribuan burung kecil yang siap ditangkap,” paparnya.
Teknik Berburu Tradisional yang Diwariskan Turun-Temurun
Masyarakat Kediri mengembangkan berbagai teknik berburu burung pipit yang diwariskan secara turun-temurun. Teknik yang paling umum adalah menggunakan jaring besar (rampet) yang dipasang di antara tanaman padi. Ketika burung-burung terbang rendah mencari makan, mereka terperangkap dalam jaring.
Ada juga teknik tradisional yang disebut “ngontong” atau “ngeper” menggunakan alat berbentuk kerucut dari anyaman bambu yang diberi umpan padi. Burung yang masuk ke dalam perangkap tidak bisa keluar karena desainnya yang khusus.
“Teknik-teknik ini adalah kearifan lokal yang cerdas. Tanpa merusak ekosistem secara berlebihan, masyarakat bisa menangkap burung dalam jumlah yang cukup untuk dikonsumsi. Mereka juga memahami kapan musim berburu dimulai dan kapan harus berhenti agar populasi burung tetap terjaga,” jelas Adi.
Dari Hama Menjadi Hidangan Lezat
Setelah tertangkap, burung pipit kemudian diolah menjadi berbagai hidangan. Yang paling populer tentu saja Sate Emprit. Burung pipit dibersihkan, dibumbui dengan bawang putih, ketumbar, dan kecap manis, lalu dibakar di atas bara api hingga matang sempurna.
Proses membakar sate emprit membutuhkan keahlian khusus. Karena ukurannya yang kecil, burung pipit mudah gosong jika tidak diawasi dengan baik. “Rahasia sate emprit yang enak ada di teknik pembakaran dan bumbu marinasi. Api harus sedang, dan sate harus sering dibolak-balik agar matang merata. Hasilnya adalah daging yang gurih, renyah di luar, dan tetap lembut di dalam,” ungkap Adi.
Selain sate, burung pipit juga bisa digoreng kering atau dimasak menjadi tongseng. Setiap bagian burung, mulai dari daging hingga kepala, bisa dimakan. Teksturnya yang renyah dan gurih menjadi daya tarik tersendiri.
Nilai Ekonomi dan Sosial
Tradisi berburu burung pipit tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Saat musim panen tiba, para pemburu bisa menjual hasil tangkapan mereka ke pedagang sate emprit atau langsung menjual sate jadi di pasar-pasar tradisional.
“Bagi sebagian warga, musim burung pipit adalah berkah tersendiri. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan di sela-sela pekerjaan utama sebagai petani. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kediri sangat adaptif dalam memanfaatkan potensi alam,” tambah Adi.
Pergeseran Tradisi di Era Modern
Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi berburu burung pipit mulai mengalami pergeseran. Modernisasi pertanian, penggunaan pestisida, dan perubahan pola tanam mempengaruhi populasi burung pipit. Akibatnya, pasokan burung pipit untuk sate emprit semakin terbatas.
“Kini, mencari burung pipit tidak semudah dulu. Petani jarang melihat kawanan besar burung pipit seperti 20-30 tahun lalu. Ini tantangan besar bagi kelestarian kuliner sate emprit,” ungkap Adi.
Beberapa pedagang sate emprit terpaksa beralih menggunakan burung puyuh atau daging ayam sebagai pengganti. Namun, penggemar sejati mengaku rasanya berbeda. “Sate emprit punya cita rasa khas yang tidak bisa digantikan. Gurihnya berbeda, teksturnya juga unik. Semoga tradisi ini bisa terus bertahan,” harap Adi.
Kearifan Lokal yang Perus Dilestarikan
Terlepas dari tantangan modernisasi, Adi Purnomo berharap tradisi berburu burung pipit dan kuliner sate emprit tetap lestari. “Ini bukan sekadar soal makanan. Ini tentang warisan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan puluhan tahun. Ini tentang bagaimana nenek moyang kita hidup harmonis dengan alam, memanfaatkan sumber daya tanpa merusaknya,” pungkasnya.
Ia mengusulkan agar pemerintah daerah dan pegiat budaya mendokumentasikan tradisi ini sebelum punah. “Bisa dibuat festival kuliner sate emprit, atau desa wisata tematik yang menampilkan proses berburu dan memasak burung pipit. Dengan begitu, generasi muda bisa mengenal dan bangga dengan warisan kulinernya,” tutup Adi.
Cara Menikmati Sate Emprit ala Kediri:
- Pilih yang Baru Dibakar: Sate emprit paling nikmat disantap hangat-hangat, baru keluar dari panggangan.
- Cocol dengan Sambal: Pedasnya sambal akan menambah kenikmatan sate emprit.
- Makan dengan Nasi Hangat: Meski bisa dimakan sebagai camilan, sate emprit juga cocok sebagai lauk pendamping nasi.
- Nikmati Semua Bagian: Jangan ragu memakan kepala dan cekernya, justru di situlah letak kelezatannya.

