WIN Media, Kediri, 26/2/2026 – Among dozens of takjil flooding Kediri’s afternoon markets during Ramadan, one name always captures attention: Es Buto Ijo. With its unique—even slightly eerie—name, this refreshing drink has become a queen always sought after. However, behind this curiosity-provoking name lies a legend and philosophy deeply rooted in Kediri’s cultural society.
According to Adi Purnomo, a culinary observer from Kediri, the name “Buto Ijo” is not merely a meaningless nickname. “Es Buto Ijo is closely related to Kediri’s local folklore that has lived among the community for a long time. This name was deliberately chosen not to frighten, but as a form of respect for folk tales as well as a clever traditional marketing strategy,” said Adi.
Tracing the Legend of Buto Ijo in Javanese Chronicles
In the repertoire of East Javanese folklore, particularly in the Kediri region, the figure of Buto Ijo or green giant is quite well-known. Several versions of the story associate it with the glory days of the Kediri Kingdom in the 11th to 12th centuries. Some say Buto Ijo was the guardian of the kingdom’s gate, while others tell of him as a mystical being ruling over forests and water springs.
Adi Purnomo explains that this connection between legend and cuisine is not unusual in Javanese culture. “Javanese people often use names considered sacred or mystical to name things, including food. The purpose is not to frighten, but to provide a strong and memorable identity. The name ‘Buto Ijo’ is clearly more memorable than just ‘green mixed ice’,” he explained.
Green Color: Symbol of Fertility and Blessings
The philosophy of es buto ijo does not stop at its name. The green color characteristic of this drink is also rich in meaning. In Javanese tradition, green symbolizes fertility, coolness, and blessings. This color is also associated with nature, plants, and sources of life.
“The choice of green color for es buto ijo is very appropriate. When breaking fast after a day of thirst, we need refreshing coolness. Green psychologically provides a calming and refreshing effect. This aligns with the main function of this drink as a thirst quencher,” explained Adi.
Traditionally, the green color in es buto ijo comes from the use of pandan leaves or other natural dyes. Some sellers also add green grass jelly which provides additional color and texture.
Composition: A Flavor Combination Reflecting Life
Es buto ijo typically consists of several main components: shaved ice, red or brown syrup, savory coconut milk, and chewy tapioca pearl sprinkles. Some variations also add jackfruit, kolang-kaling (palm fruit), or green grass jelly.
Adi Purnomo interprets this composition as a depiction of life consisting of various elements. “There is sweet (syrup), savory (coconut milk), fresh (ice), and chewy (tapioca pearls). All unite in harmony. This teaches us that life is not monotonous; there are joys and sorrows, sweetness and bitterness, but all must be appreciated and enjoyed,” he said.
The Refreshment Always Missed During Ramadan
Why does es buto ijo always become the queen of takjil in Kediri? According to Adi Purnomo, the answer lies in its ability to fulfill physical and psychological needs when breaking fast.
“After a day of fasting, our body needs quick fluid and energy intake. Es buto ijo with its shaved ice provides instant hydration, while the syrup and coconut milk provide the sugar and fat needed to restore energy. The chewy texture of tapioca pearls also provides a pleasant chewing sensation,” he explained.
Additionally, the aspect of nostalgia also plays an important role. “For Kediri people, es buto ijo is part of collective memory. They grew up with this drink, accompanying iftar from childhood to adulthood. Every sip evokes beautiful memories of family togetherness during the holy month,” added Adi.
From Traditional Markets to Modern Cafes
Although rooted in tradition, es buto ijo continues to evolve with the times. Now, it is not only found in traditional markets but also in modern cafes, restaurants, and even sold online with modern packaging.
“This is a form of healthy cultural adaptation. Es buto ijo survives because it can adapt to contemporary tastes and lifestyles. Young people might prefer buying it at cafes with Instagrammable cup packaging, but the essence remains the same: legendary refreshment,” explained Adi.
Several innovations that have emerged include es buto ijo with new flavor variants (chocolate, durian, matcha), modern toppings (boba, jelly), and ready-to-drink bottled packaging for consumer convenience.
Myths and Beliefs Surrounding Es Buto Ijo
Like other traditional foods, es buto ijo is also not free from myths and beliefs. Some believe this drink has special “power” if made with certain rituals. Others associate it with traditions of warding off misfortune or earth alms. “Such myths should be seen as cultural richness, not as something irrational. They show how our society interprets food not only physically but also spiritually. This is part of local wisdom worth preserving,” said Adi.
A Message of Preservation for the Younger Generation
Adi Purnomo urges Kediri’s younger generation to be proud and participate in preserving es buto ijo. “Es buto ijo is Kediri’s culinary identity. We must not be prouder of imported drinks than our own ancestral heritage. Let us preserve, develop, and introduce it to the world. Let the world know that Kediri not only has tofu but also has legendary es buto ijo,” he concluded.
Now, when Ramadan arrives, Kediri transforms into es buto ijo paradise. From street vendors to modern cafes, from traditional markets to online platforms, this refreshing drink accompanies iftar moments. It is not just a thirst quencher but also a binder of stories, a strengthener of tradition, and a social adhesive for Kediri’s community.
Legenda Di Balik Nama “Buto Ijo”: Menelisik Asal-Usul Dan Filosofi Es Buto Ijo, Takjil Khas Kediri Yang Melegenda

WIN Media, Kediri, 26/2/2026 – Di antara puluhan takjil yang membanjiri pasar-pasar sore Kediri saat Ramadan, satu nama selalu mencuri perhatian: Es Buto Ijo. Dengan namanya yang unik—bahkan terkesan seram—minuman segar ini justru menjadi primadona yang selalu diburu. Namun, di balik nama yang mengundang rasa penasaran itu, tersimpan legenda dan filosofi yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Kediri.
Menurut Adi Purnomo, pengamat kuliner dari Kediri, nama “Buto Ijo” bukan sekadar julukan tanpa makna. “Es Buto Ijo memiliki kaitan erat dengan folklore lokal Kediri yang telah hidup di tengah masyarakat sejak lama. Nama ini sengaja dipilih bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap cerita rakyat sekaligus strategi pemasaran tradisional yang cerdas,” ujar Adi.
Menelusuri Jejak Legenda Buto Ijo dalam Babad Tanah Jawa
Dalam khazanah cerita rakyat Jawa Timur, khususnya di wilayah Kediri, sosok Buto Ijo atau raksasa hijau memang cukup dikenal. Beberapa versi cerita mengaitkannya dengan masa kejayaan Kerajaan Kediri di abad ke-11 hingga ke-12. Ada yang menyebut Buto Ijo sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan, ada pula yang mengisahkannya sebagai makhluk sakti penguasa hutan dan sumber mata air.
Adi Purnomo menjelaskan bahwa keterkaitan antara legenda dan kuliner ini bukan hal yang aneh dalam budaya Jawa. “Masyarakat Jawa sering menggunakan nama-nama yang dianggap sakral atau mistis untuk menamai sesuatu, termasuk makanan. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberi identitas yang kuat dan mudah diingat. Nama ‘Buto Ijo’ jelas lebih membekas di ingatan daripada sekadar ‘es campur hijau’,” paparnya.
Warna Hijau: Simbol Kesuburan dan Keberkahan
Filosofi es buto ijo tidak hanya berhenti pada namanya. Warna hijau yang menjadi ciri khas minuman ini juga sarat makna. Dalam tradisi Jawa, warna hijau melambangkan kesuburan, kesejukan, dan keberkahan. Warna ini juga dikaitkan dengan alam, tanaman, dan sumber kehidupan.
“Pemilihan warna hijau pada es buto ijo sangat tepat. Saat berbuka puasa setelah seharian menahan haus, kita butuh kesegaran yang menyejukkan. Warna hijau secara psikologis memberikan efek menenangkan dan menyegarkan. Ini selaras dengan fungsi utama minuman ini sebagai pelepas dahaga,” jelas Adi.
Secara tradisional, warna hijau pada es buto ijo berasal dari penggunaan daun pandan atau pewarna alami lainnya. Beberapa penjual juga menambahkan cincau hijau yang memberikan warna dan tekstur tambahan.
Komposisi: Perpaduan Rasa yang Mencerminkan Kehidupan
Es buto ijo biasanya terdiri dari beberapa komponen utama: es serut, sirup merah atau cokelat, kuah santan gurih, dan taburan pacar cina (sagu mutiara) yang kenyal. Beberapa variasi juga menambahkan nangka, kolang-kaling, atau cincau hijau.
Adi Purnomo memaknai komposisi ini sebagai gambaran kehidupan yang terdiri dari berbagai elemen. “Ada manis (sirup), gurih (santan), segar (es), dan kenyal (pacar cina). Semua bersatu dalam harmoni. Ini mengajarkan kita bahwa hidup tidak monotom; ada suka dan duka, manis dan pahit, tetapi semua harus disyukuri dan dinikmati,” ujarnya.
Kesegaran yang Dirindukan saat Ramadan
Mengapa es buto ijo selalu menjadi primadona takjil di Kediri? Menurut Adi Purnomo, jawabannya terletak pada kemampuannya memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis saat berbuka puasa.
“Setelah seharian berpuasa, tubuh kita butuh asupan cairan dan energi yang cepat. Es buto ijo dengan es serutnya memberikan hidrasi instan, sementara sirup dan santan memberikan gula dan lemak yang dibutuhkan untuk mengembalikan energi. Tekstur kenyal pacar cina juga memberikan sensasi mengunyah yang menyenangkan,” paparnya.
Selain itu, aspek nostalgia juga berperan penting. “Bagi masyarakat Kediri, es buto ijo adalah bagian dari memori kolektif. Mereka tumbuh besar dengan minuman ini, menemani buka puasa sejak kecil hingga dewasa. Setiap tegukan membangkitkan kenangan indah tentang kebersamaan keluarga di bulan suci,” tambah Adi.
Dari Pasar Tradisional hingga Kafe Kekinian
Meski berakar pada tradisi, es buto ijo terus berkembang mengikuti zaman. Kini, tidak hanya ditemukan di pasar-pasar tradisional, tetapi juga di kafe-kafe kekinian, restoran, bahkan dijual secara online dengan kemasan modern.
“Ini adalah bentuk adaptasi budaya yang sehat. Es buto ijo tetap bertahan karena mampu menyesuaikan diri dengan selera dan gaya hidup masa kini. Generasi muda mungkin lebih suka membelinya di kafe dengan kemasan cup yang Instagramable, tetapi esensinya tetap sama: kesegaran yang melegenda,” jelas Adi.
Beberapa inovasi yang muncul antara lain es buto ijo dengan varian rasa baru (cokelat, durian, matcha), topping kekinian (boba, jelly), hingga kemasan botol siap minum untuk memudahkan konsumen.
Mitos dan Kepercayaan Seputar Es Buto Ijo
Seperti halnya makanan tradisional lainnya, es buto ijo juga tidak lepas dari mitos dan kepercayaan. Ada yang percaya bahwa minuman ini memiliki “kekuatan” khusus jika dibuat dengan ritual tertentu. Ada pula yang mengaitkannya dengan tradisi tolak bala atau sedekah bumi.
“Mitos-mitos seperti ini sebaiknya kita lihat sebagai kekayaan budaya, bukan sebagai sesuatu yang irasional. Mereka menunjukkan bagaimana masyarakat kita memaknai makanan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Ini adalah bagian dari kearifan lokal yang patut dilestarikan,” ujar Adi.
Pesan Pelestarian untuk Generasi Muda
Adi Purnomo berpesan agar generasi muda Kediri bangga dan ikut melestarikan es buto ijo. “Es buto ijo adalah identitas kuliner Kediri. Jangan sampai kita lebih bangga dengan minuman impor daripada minuman warisan leluhur sendiri. Mari kita jaga, kita kembangkan, dan kita perkenalkan ke dunia. Biarkan dunia tahu bahwa Kediri tidak hanya punya tahu, tapi juga punya es buto ijo yang legendaris,” pungkasnya.
Kini, saat Ramadan tiba, Kediri berubah menjadi surga es buto ijo. Dari pedagang kaki lima hingga kafe modern, dari pasar tradisional hingga platform online, minuman segar ini hadir menemani momen berbuka. Ia bukan sekadar pelepas dahaga, tapi juga pengikat cerita, penguat tradisi, dan perekat kebersamaan masyarakat Kediri.

